Connect with us

Budaya / Seni

Melalui Seni, Mitra Langen Lestari Berupaya Merajut Kebhinekaan di Perbatasan

Published

on

Aksi Mitra Langen Lestari dalam penggalangan dana untuk bencana.(FOTO: NUSANTARANEWS.CO/Eddy Santry)

Aksi Mitra Langen Lestari dalam penggalangan dana untuk bencana.(FOTO: NUSANTARANEWS.CO/Eddy Santry)

NUSANTARANEWS.CO, Nunukan – Apabila mendengar nama Reog dan Kuda Lumping, maka yang akan muncul dibenak kita adalah hal yang identik dengan Jawa. Mulai dari alat musiknya yang disebut gamelan, gerakan tarinya maupun penarinya itu sendiri adalah seniman asli pulau Jawa.

Namun hal itu akan terbantahkan apabila kita pergi ke Kota  Nunukan, Kalimantan Utara (Kaltara ). Di kota paling Utara dari kedaulatan NKRI ini terdapat sebuah sanggar seni dengan nama Mitra Langen Lestari. Walau mengusung konsep tarian Jawa, namun kita tak akan menyangka apabila pata penari bahkan penabuh gamelanya justru di dominasi para semiman berbagai usia yang terdiri dari etnis-etnis yang ada di Pulau Nunukan.

Ketua Sanggar Seni Mitra Langen Lestari, Edi Pranowo membenarkan bahwa saat ini kebanyakan anggotanya memang berasal dari latar belakang yang berbeda baik dari etnis dan agamanya. Menurur pria yang akrab dipanggil Sarbun tersebut, mereka ada yang berasal dari etnis Tidung, Banjar, Bugis, Timor, Toraja dan Jawa.

“Bahkan beelakangan ini ada beberapa adik – adik dari etnis Dayak telah menyatakan diri berminat unntuk bergabung. Dan hal ini sudah pasti kita apresiasi,” ujar Sarbun disela – sela acara Ulang Tahun yang ke – 33 tahun dari paguyubanya tersebut, Minggu (10/2/2020) di Jl. Cut Nyak Dhin, Nunukan, Kaltara.

Sedangkan gagasan untuk menajadikan sanggar seninya beranggotakan para seniman lintas etnis seperti saat ini, ungkap Sarbun, karena ia melihat kehidupan masyarakat Nunukan sangat hoterogen. Sehingga melalui kapasitasnya sebagai seorang pencinta seni, ia berfikir, kenapa tidak ia gunakan saja seni sebagai sarana pemersatu.

Baca Juga:  Mensos: Keluarga Miliki Peran Strategis Bentengi Anggotanya dari Bahaya Narkoba

Karena menurut Sarbun, nasionalisme tak mesti harus maju ke medan perang. Tetapi mempererat jalinan persaudaraan ditengah kebhinekaan juga merupakan sisi lain dari memperkokoh kedaualatan. Sehingga sikap dan komunikasi sehari –  hari, anggota Mitra Langen Lestari harus mengedepankan keramahtamahan , toleran dan penuh sapa keindahan sebaimana hakikat daripada seni itu sendiri yakni indah dan mulia.

“Apalagi, generasi muda Perbatasan harus mampu selangkah lebih maju dibanding generasi lainya mengingat kita di perbatasan ini  adalah benteng hidup dari Indonesia. Dan salah satu caranya adalah kita sama – sama melanggenggkan persaudaraan tanpa memandang kamu dan aku darimana namun kamu dan aku adalah kita,” katanya

Bagi masyarakat Kota Nunukan, keberadaan Mitra Langen Lestari ini mendapat tanggapan cukup positif. Karena selain menyajikan hiburan, sanggar seni yang kerap berkalaborasi dengan Kodim 0911/Nnk dalam penampipanya tersebut juga dikenal aktif menyuarakan solidaritas dan kepedulian. Hal tersebut dapat dilihat apabila ada bencana atau musibah di tempat lain, Mitra Langen Lestari selalu menjadi salah satu pelopor penggalangan dana melalui aksi ‘ngamen’ nya.

Sementara itu Tokioh Masyarakat dan pemerhati seni, Suryono menilai bahwa konsep merajut kebhinekaan melalui seni yang digagas Edi Pranowo tersebut merupakan lanngkah cerdas ditengah ancaman disintegrasi bangsa. Sehingga Suryono berharap kepada Pemerintah untuk menyambut baik inovasi dari berbagai pihak yang secara swadaya telah berupaya merangkai persaudaraan.

Selain itu, pria yang oleh masyarakat Nunukan akrab dipanggil Pak De Sur tersebut berharap agar  Pemerintah tak hanya mengaktifkan para seniman pada saat acara tertentu saja melainkan juga memberdayakanya sebagai destinasi wisata budaya di Perbatasan.

“Banyak potensi tersembunyi yang masih jarang terekspos. Dan apabila hal ini berdayakan, pasti bukan hanya para pelaku seni sendiri yang  dapat mengembangkan bakatnya tapi imbasnya tentu berdampak positif pada perekonomian masyarakat,” tandasnya.

Baca Juga:  Archandra, Kosmopolitanisme dan Citizenship

Pewarta: Eddy Santry
Editor: Ach. Sulaiman

Loading...

Terpopuler