Connect with us

Budaya / Seni

Melalui Praktik STEM dan HOTS, Kemendikbud Hadapi Revolusi Industri 4.0

Published

on

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Balitbang Kemendikbud), Totok Suprayitno membuka Workshop STEM dan Revolusi Industri 4. (FOTO: Kemendikbud)

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Balitbang Kemendikbud), Totok Suprayitno membuka Workshop STEM dan Revolusi Industri 4. (FOTO: Kemendikbud)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Balitbang Kemendikbud), Totok Suprayitno berpandangan bahwa pendidikan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari arus globalisasi karena berkaitan erat dengan ketersediaan serta penyiapan sumber daya manusia (SDM) di dalamnya.

Terkait dengan Revolusi Industri 4,0 yang tengah di hadapi Indonesia, kata dia, sesungguhnya merupakan salah satu pemantik bagi pendidikan agar dapat lebih intensif dalam mencetak lulusan yang kompeten dan kompetitif menghadapi arus globalisasi yang telah nyata membawa perubahan di berbagai bidang.

Hal tersebut dipaparkan saat Kepala Balitbang Kemendikbud membuka Workshop Science, Technology, Engineering, Mathematics (STEM) dan Revolusi Industri 4.0, di kantor Kemendikbud, Jakarta, Kamis (13/12/2018).

“Kalau melihat judulnya STEM dan Revolusi Industri 4.0, ini jelas merupakan tema yang sangat futuristik. Pendidikan selalu bicara masa depan, berdasarkan pengalaman masa lampau dan masa kini”, jelas Totok, dikutip dari keterangan resmi Kemendikbud, Jumat (14/12)

“Kita melihat masa depan, karena kita ingin mendidik anak-anak kita untuk hidup di masa depan. Pendidikan sendiri ditujukan untuk hidup secara bermartabat, agar anak-anak kita bisa menjalani kehidupan secara bermartabat, dan sekaligus bisa memartabatkan kehidupan itu sendiri, serta mencerdaskan kehidupan bangsa,” tambahnya.

Loading...

Labuh lanjut Totok menjelaskan, pendidikan science, technology, engineering, mathematics, memberikan peluang bagi guru untuk memperlihatkan kepada peserta didik bahwa konsep, prinsip, dan teknik dari sains, teknologi, kerekayasaan, dan matematika dapat digunakan secara terintegrasi, dan tidak bermakna hanya penguatan praksis pendidikan dalam bidang-bidang STEM secara terpisah. Tapi memfokuskan proses pendidikan pada pemecahan masalah nyata dalam kehidupan sehari-hari maupun kehidupan profesi mereka nanti.

Baca Juga:  Sebuah Ironi di Hari Tani

“Kalau kita ingin menyiapkan anak, maka kita perlu menyiapkan diri. Diri dan sekolah sebagai miniatur masyarakat masa depan. Kita perlu menyiapkan anak-anak itu untuk memilih perjalanan kehidupan yang unpredictable. Kehidupan yang membutuhkan creative thinking, serta critical thinking dalam memecahkan berbagai persoalan yang belum diprediksi sebelumnya dan itulah yang dinamakan high order thinking skills (HOTS). Jadi STEM memerlukan penalaran tingkat tinggi,” tutur Totok.

Totok menambahkan, upaya mendiseminasikan dan menginisiasi pendekatan STEM dalam pembelajaran telah dilakukan oleh berbagai pihak, hal ini tergambar pada praktik baik pendekatan dalam pembelajaran di sekolah. Ia juga menyayangkan ketidaksiapan para siswa ketika menjawab soal Ujian Nasional (UN).

“Anak anak kita didalam UN, biasanya lemah ketika menerjemahkan persoalannya apa, kemudian memecahkan dengan menggunakan konsep matematika. Kalau disajikan soal dengan matematika tersembunyi, susahnya banyak, jeblok. Yang bisa itu (hanya) 6%, 5%, tapi kalau sudah diketahui rumusnya, jago. Jadi pembelajaran kita tampaknya sangat rumus oriented”, pungkas Totok.

Pewarta: Roby Nirarta
Editor: M. Yahya Suprabana

Loading...

Terpopuler