Connect with us

Kolom

Media Sosial dan Media Jurnalistik Perlu Bersinergi

Published

on

penyelenggara negara, peran media, media kontrol sosial, media kontrol sistem, birokrasi negara, kontrol media, urgensitas media, rezim demokrasi, nusantaranews

ILUSTRASI – Media massa. (Foto: Ist)

Oleh : Aji Setiawan*

NUSANTARANEWS.CO – Media sosial dan jurnalisme sebaiknya bersinergi dan saling melengkapi. Agar tetap terpercaya,  media mainstream harus menjaga kredibilitas jurnalistiknya. Mereka hanya dapat bertahan di tengah media sosialdengan tetap mengelola integritas dan konsistensinya.

Sejumlah studi menyebutkan, 2/3 pengguna internet di seluruh dunia mengunjungi media sosial seperti Facebook dan Twitter, dengan melupakan koran untuk mencari informasi. Selain itu, 51 persen orang yang berusia 18 hingga 24 tahun percaya bahwa media sosial lebih cepat menyajikan berita terkini daripada media mainstream.

Media sosial dan media jurnalistik keduanya punya karakter yang berbeda. Media sosial hanya menyajikan rumor, sedangkan media mainstream menyampaikan kebenaran melalui konfirmasi, verifikasi dan investigasi.

Berita adalah informasi yang diolah dengan semangat dan keterampilan profesionalisme wartawan dengan tujuan mengabdi kepada publik. Apabila media mainstream mempertahankan kebenaran tersebut, maka mereka akan tetap hidup. Karena pengguna media sosial akan tetap mencari kebenaran melalui media yang selama ini mereka percaya.

Apakah media sosial mengancam keberadaan media mainstream? Kalau orang bilang media sosial ancaman bagi media mainstream, jawabannya bisa ya bisa tidak. Kehadiran media sosial justru menjadi tantangan bagi wartawan dan perusahaan-perusahaan media. Bisa jadi ini bukan ancaman, karena ketika dulu radio dianggap akan mematikan media cetak, ternyata terbukti tidak benar.Hingga kini koran dan radio masih dinikmati para pembaca dan pendengar setia.

Media sosial seperti facebook, twitter, youtube, sebagai sarana percakapan semua orang tentang berbagai hal yang benar maupun yang belum tentu benar. Di Indonesia, situs jejaring sosial Twitter menempati urutan kedua dalam hal jumlah pengguna setelah Facebook. Namun mayoritas jejaring sosial atau media sosial ini justru digunakan hanya untuk hal-hal kurang produktif.

Padahal, situs jejaring tersebut sebenarnya bisa digunakan untuk hal-hal bermanfaat. Biasanya orang yang sering nge-tweet itu adalah orang yang tidak punya pekerjaan, kurang kerjaan. Lebih sering untuk update yang tidak produktif.

Sekadar catatan, Indonesia merupakan negara dengan jumlah pengguna terbesar ketiga dunia untuk Facebook. Begitu juga dengan akun Twitter. Dengan besarnya jumlah pengguna Facebook dan Twitter tersebut, pengguna seharusnya mampu memanfaatkan jejaring sosial tersebut untuk hal yang lebih bermanfaat. Misalnya untuk pertemanan, bisnis hingga periklanan.Dengan potensi jumlah pengguna yang besar di Twitter maupun Facebook, seharusnya pengguna bisa serius memanfaatkan untuk membangun bisnis digital.

Salah satu yang bisa dilakukan adalah memanfaatkan situs jejaring sosial untuk mendistribusikan segala konten atau informasi dari media yang sedang dibangun. Di sisi lain, anak muda zaman sekarang lebih cenderung untuk mencari informasi melalui jejaring sosial. Sehingga peran guru dan orang tua akan sedikit terabaikan. Selain situs jejaring sosial, anak zaman sekarang juga memanfaatkan mesin pencari (search engine) untuk mencari informasi yang diperlukan.

Kini anak zaman sekarang lebih suka tanya ke Google atau lewat temannya di situs jejaring sosial. Malah hasil pencarian bisa lebih lengkap, tidak hanya teks, tapi juga foto maupun video. Kecenderungan konten informasi berupa teks, foto dan video ini sudah disadari oleh pemilik media untuk membuat kontennya lebih beragam.

Patut disadari oleh seluruh seluruh media jurnalistik saat ini harus mampu 3M, yaitu Multimedia, multiformat dan multiplatform. Padahal besaran anggaran perusahaan untuk iklan sebenarnya terbatas, sehingga media mau tidak mau harus kreatif membuat konten atau informasi agar pengiklan tetap datang. Dengan konten atau informasi bersifat 3M dan disalurkan melalui situs jejaring sosial, maka masyarakat akan lebih dekat dengan media mainstream. Situs jejaring sosial ini jadi lebih bermanfaat.

Untuk itulah, informasi yang didapat dari media sosial dapat dipakai sebagai referensi awal dalam membuat berita. Media sosial dapat dimanfaatkan media mainstream untuk memantau dan mengoreksi berita.  Tidak itu saja, media sosial juga bisa memakmurkan perusahaan-perusahaan media mainstream.

Di tengah maraknya pemanfaatan media mainstream sebagai alat partai politik untuk mencapai kekuasaan, media sosial punya peran sebagai penyeimbang informasi agar opini publik tak selamanya didominasi media mainstream. Dengan sistem kepemilikan media yang terpusat seperti sekarang, ada kekhawatiran pemilik modal menggiring konten informasi sesuai dengan kepentingannya. Sehingga, pemberitaan terhadap subjek yang didukung cenderung “berlebihan”.

Dibutuhkan media alternatif yang dapat membantah dan meluruskan pemberitaan macam ini. Seharusnya, media sosial, seperti blog, Facebook dan Twitter, bisa mengisi posisi tersebut. Di sini media sosial berperan sebagai watchdog untuk media mainstream.

Butuh partisipasi aktif dari warga kepada media mainstream yang berusaha memanipulasi opini publik. Ada baiknya jurnalis warga berperan sebagai ekstra redaksional yang bersikap kritis terhadap pemberitaan media mainstream. Apalagi, konten di media mainstream masih didominasi oleh berita elit dan peristiwa yang terjadi di Jakarta, sementara peristiwa dari daerah lain porsinya tidak banyak. Luka sebagian warga daerah ini bisa terobati dengan membuat sosial media berbasis komunitas yang menyuarakan isu-isu lokal.

Cara murah namun efektif untuk membuat media sosial salah satunya adalah media komunitas adalah dengan menggunakan media online, bisa situs web ataupun blog. Industri media menuju single platform, yaitu Internet Protocol. Konvergensi menjadi hal yg tidak terelakkan untuk media. Sehingga harapannya warga tak hanya menjadi komentator yang berkoar di Facebook dan Twitter. Warga yang peduli pada suatu masalah, bisa menekan balik dengan membuat berita bantahan, menciptakan wacana baru dan analisa mendalam. Konten menarik dibuat dengan keterampilan jurnalistik yang bisa dipelajari oleh jurnalis warga.

Maka perlu insting jurnalistik bisa dilatih. Kualitas tulisan juga bisa dilatih, bisa sama dengan standar media mainstream. Berita, foto, ataupun video yang dipublikasi oleh warga harus memiliki gimmick (sesuatu yang unik dan spesial) untuk menarik minat warga lain agar melihatnya.

Karena kita perlu optimistis internet tidak akan memusnahkan industri media. Kini yang menjadi pesaing media cetak secara nyata adalah media televisi, radio, dan media digital. Kekuatan media cetak hingga kini masih dipersepsi sebagai trusted media dan sumber informasi kredibel. Dan yang mesti dilakukan dalam menjawab tantangan media sosial agar tetap bertahan adalah selalu kreatif baik dari sisi konten maupun bisnis. Caranya, dengan investasi pada pre-press dan percetakan serta kreatif premium dan inovasi redaksi.

Karenanya media mainstream tak bisa melepaskan diri dari perkembangan internet. Karena internet menjadi sumber berbagai informasi bagi masyarakat dunia. Kini dan seterusnya, semua orang bahkan dapat menyampaikan informasi terkini secara bebas melalui media sosial dalam satu wadah yang bernama jurnalisme warga (citizen journalism) .Mungkin banyak informasi “sampah” (berita hoaks) di media sosial, tapi bisa jadi banyak juga informasi yang benar.

Oleh sebab itu, media sosial dan jurnalisme sebaiknya bersinergi dan saling melengkapi. Agar tetap terpercaya,  media mainstream harus menjaga kredibilitas jurnalistiknya. Mereka hanya dapat bertahan di tengah media sosial yang semakin digemari, dengan tetap mengelola integritas dan konsistensinya dalam menyampaikan informasi.(*)

*Aji Setiawan, mantan Ketua Persatuan Wartwan Indonesia-Reformasi Korda Jogjakarta, sekarang tinggal di Purbalingga Jawa Tengah

Terpopuler