Connect with us

Puisi

Maurib Terakhir, Fajar Akhir Subuh dan Mata Doa

Published

on

Lelaki tua di hari senja. (Foto: Business Insider)

Lelaki tua di hari senja. (Foto: Business Insider)

Maurib Terakhir

Harum tanah terjal
Membasahi riak adzan
Senja-senja berkilau
Pada kerinduan yang memudar

Tak terasa rintik bayang
Mengejar cahaya rembulan
Ketika diantara kemungkaran
Bertahta dalam penderitaan

Barangkali sebab sunyi
Semua pedih semakin berarti
Bertahan dalam doa
Menjelang senja mulai tiada.

Lebbeng, 2019

Loading...

Fajar Akhir Subuh

Masih terasa cerah
Lantunan surat Al-fatehah
Mengelilingi wajahmu yang patah

Maski telah kudengar
Kelam berpijak parau
Selalu di matamu yang curam
Tapi doa lebih berkuasa
Dari perasangka di dasar mata

Maka kupasrahkan semua pada angin
Agar ketelanjangan selalu menulak dingin
Mencari hangat bulir-bulir hujan
Di tubuhmu yang terjal.

Lebbeng, 2019

Mata doa

Keserasian yang dilahirkan sunyi
Adalah kemungkinan yang abadi
Berdiri di tengah bayang-bayang
Kepada tuhan tempat memandang

Lebbeng, 2019

Kepada Niswa

Niswa;
Izinkan aku menari dengan angin dan sunyi
Di pelataran malam bersama mimpi
Meski wajahmu mengalirkan sebuah kerinduan
Dan cahaya rembulan pada malam tak lagi menawan,
Aku tak pernah perduli, sebab di hatimu masih
Menumbuhkan banyak arti. maka, aku sebagai pendekar
Haruskah megasah pedang; untuk memanggal waktu
Ketiaka diantara kita tak lagi bertemu, Aku rasa tidak,
Kita hanya membutuhkan sebuah kepastian
Tentang doa yang tadi malam; akankah tuhan masih sanggup
Melahirkan bayi di rahim harapan.

Lebbeng, 2019

 

Rindu

Bayangan besar di punjak gunung itu
Memperlihatkan gelap rindu
Berbisik pada daun-daun
Di saat terang mulai rabun

Tiada persembahan bagi angin
Kecuali menyembah rasa ingin
Mengikuti derap langkah layang-layang
Yang terbang meninggalkan tali harapan

Lebbeng, 2019

 

 

 

 

Baca Juga:  Prabowo Siap Hadapi Siapapun yang Ingin Merubah Pancasila

 

Penulis: BJ AKID, Lahir di Lebbeng Barat Pasongsongan Sumenep, Madura, Menulis Puisi Dan Cerpen. Saat Ini Masih Tercatat Sebagai Santri Pondok Pesantren Annuqayah. Menjadi Ketua Komunitas Laskar Pena PPA Lubtara, Sekaligus Pengamat Literasi Di Sanggar Becak Dan Komunitas Surau Bambu.

Loading...

Jurnalis dan editor di Nusantara News, researcher lepas. | life is struggle and like in silence |

Terpopuler