Connect with us

Ekonomi

Mata Uang Air Mata

Published

on

A latif S., Aktivis HMI, Ketua Umum Pengurus Nasional Jaringan Muda Nusantara (JMN). (FOTO: NUSANTARANEWS.CO)

A latif S., Aktivis HMI, Ketua Umum Pengurus Nasional Jaringan Muda Nusantara (JMN). (FOTO: NUSANTARANEWS.CO)

Oleh: A latif S.*

NUSANTARANEWS.CO – Secangkir kopi hitam bertengger di atas meja kayu. Seperti kebanyakan orang yang biasanya menyukai kopi hitam, sebatang rokok pun terjepit diantara dua jemari mengisaratkan keserasian pasangan hidup. Dimana rokok sebagai kebutuhan bagi setiap pecandunya dan kopi pun melengkapi keni’matan. Iya seperti mata uang dan barang atau jasa dalam proses jual beli.

Kecil kemungkinan air mata menjadi mata uang suatu Negara sebagai alat tukar dalam proses jual beli atau bahkan bisa dilakukan deposito di Bank. Uang dalam kaitannya bisa merupakan shell, koin, atau selembar kertas dengan gambar bersejarah diatasnya beserta tanda tangan pemerintah, tetapi nilainya tidak ada hubungannya dengan nilai fisik uang tersebut.

Baca Juga:

Uang mendapatkan nilai karena sebagai alat tukar, pengukur dan untuk kekayaan. Uang memungkinkan orang untuk berdagang barang dan jasa, jika air mata sebagai mata uang, maka dengan meneteskan air mata di hadapan pemilik toko kita akan bisa membawa pulang barang yang dibutuhkannya seperti misalnya ketika saya membeli kopi dan rokok.

Loading...

Jadi begini ceritanya, kita sering melihat, mendengar, dan membaca berita mengenai kemiskinan serta kelaparan di berbagai belahan dunia, melanda negara-negara lain. Pernahkah kita berfikir bahwa kemiskinan itu juga ada di sekitar kita? Iya, disekitar kita di Negara yang bernama Indonesia yang kita cintai ini.

Nasib itu dialami ibuk Martoyo (untuk menyebut salah satunya) yang sekarang kira-kira uasianya 85 Tahun, entah beliau sudah menggunakan e-KTP atau belum yang pasti saya lupa NKK dan NIK-nya untuk mehindari tuduhan hoaks saya sampaikan saja informasi ini bahwa perempuan tua tersebut warga pendak, Yogyakarta.

Baca Juga:  Jelang Ramadhan, DPRD Jatim Desak Pemprov Jamin Keamanan Stok Pangan di Jawa Timur

Kemiskinan pun dialami para petani dan nelayan di pinggiran wilayah Indonesia. Maaf saya buka hoaks, sumonggo diminum dulu kopinya, karena mendengar NIK dan NKK bersadingan dengan Hoaks ini sering membuat kita agak tegang.

Apa itu miskin? Mengapa masih ada orang miskin? Apa peran Negara? Sebuah pertanyaan-pertanyaan itu masih menggantung dibenak saya, tidak jarang mengisi diskusi-diskusi kecil mewarnai setiap cangkir kopi di berbagai tongkrongan. Sebuah definisi “Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan”. Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan.

Kemiskinan merupakan masalah global, sebagaian orang memahami istilah ini secara subyektif dan komparatif, sementara yang lainnya melihat dari segi moral dan evaluatif, dan yang lainnya lagi dari sudut ilmiah, kemiskinan difahami dalam berbagai cara.

Saya tidak sepenuhnya menganggap bahwa miskin adalah ketika seseorang tidak mampu memenuhi pangan, sandang, dan papan. Karena ternyata persoalan kemiskinan tidak serigid yang dipaparkan data statistik, ataukah kemiskinan itu adalah sekelompok orang yang tidak memiliki kemandirian.

Bertahan dari keadaan, berjuang untuk hidup. Bukan mereka pemalas, banting tulang, mandi keringat tak segan meraka lakukan, meski hanya untuk bertahan demi hidup. Di tengah kemajuan bangsa ini dari mereka orang-orang yang lalim, begitu mudah mereka disingkirkan menghantar pada ruang kenistaan. Hidup yang selalu di hampiri kesedihan para petani dan nelayan, bayangkan saja setiap pulang dari ladang dan laut, buah hatinya kian selalu menanyakan “bapak bawa apa?” ibu tadi berjanji akan belikan seragam untuk sekolah. “Karena kenapa kami tak sekolah?”.

Pedih, perih, menusuk dalam hati yang terasa pasti. Terbesit hati untuk mengakhiri penderitaan yang dialami, mungkinkan dengan mengakhiri hidup.

Seorang bapak tentu berfikir bahwa untuk mendapatkan pakaian seragan sekolah anaknya menggunakan uang untuk membelinya, bayangkan saja jika air mata kita sepakati menjadi mata uang, maka seorang anak kecil cukup diantarkan ke Toko yang menjual pakaian dengan merengek-rengek agar dapat mengeluarkan air mata, terjadilah akat jual beli karena tetesan air mata akan menjadi alat tukar. Begitu juga agar anak nelayan tadi dapat mengakses pendidikan, tidak lagi harus menggunakan Kartu Indonesia Pintar (KIP) ‘omong-omong sebenernya saya juga tidak pernah tau bentuk wujudnya KIP itu seperti apa? maklum tinggal di wilayah terpencil kurang pas untuk pencitraan sebab jauh dari jangkauan media, kira kira begitu’ maaf yah saya berkata sejujur ini.

Baca Juga:  IFAD Danai Program Mengembalikan Pemuda Desa Sebagai Agen Perubahan Sektor Pertanian

Artinya seorang Ibu atau bahkan anaknya dengan menangis mengucurkan air mata di hadapan para guru sekolah maka anaknya dapat mendaftar dan bersekolah seperti anak anak orang lain pada umumnya, begitulah mata uang air mata.

 Kopi mana kopi, ini persoalan serius, ‘Mata Uang Air Mata’ adalah teori Ekonomi untuk mengentas kemiskinan dan bisunya UUD yang berbunyi “negara menjamin hajat hidup orang banyak” setiap anak bangsa yang tidak dapat mengakses pendidikan berada dibawah garis kemiskinan menjadi satu sorotan mata batin kemanusiaan, dia adalah anak bangsa yang layak mendapat penghidupan seperti anak-anak yang lainnya. Maka hal ini memberikan telaah di tengah menghadapi arus jaman yang semakin deras, ekonomi korporasi dunia, political will yang memiliki kemungkinan adanya intervensi negara-negara kuasa dunia, seolah memudarnya falsafah bangsa dan UUD 45 dalam praktek hukum.

Dimana Ideolgi itu hidup? Seperti apa penafsiran butir pancasila yang sering diperdebatkan hampir-hampir memutuskan urat leher? Ini realitas yang harus dijawab. Setiap kali menonton Tv, diberitakan di berbagai stasiun tentang pengentasan kemiskinan, wajib pendidikan, dan berbagai program pemberdayaan masyarakat. Dan tidak jarang disampaikan tingkat perekonomian kita tumbuh sesuai yang ditargetkan. Surve pendapatan perkapita yang di ambil dari rata-rata pendapatan masyarakatnya juga dikatakan telah mencapai standar sebagai negara berkembang bahkan maju.

Janji pemerintah untuk mensejahterakan rakyat dengan percepatan pembangunan yang terkonsentrasi pada fisik bangunan, dikhawatirkan persoalan pemenuhan hajat hidup orang banyak justru terabaikan, apa lagi focus APBN pada sector pembangunan jalan berupa Tol. Kebanyakan orang berpendapat hanya memuaskan para investor asing. Persoalan pengentasan kemiskinan hanya terhenti pada sajian data statistik yang justru pemuda tak sekolah menyandarkan hidup pada rasa iba semakin sering kita temui di trotoar jalanan.

Baca Juga:  Takdir Cinta Dalam Diam

Simak:

Saya kagum pada kota revolusi Perancis, saya kagum pada semboyan perjuangan mereka: “Liberty, egalite, fraternite” (kemerdekaan, persamaan, persaudaraan).

 Kemiskisnan Tidak Turun Dari Langit, Kemiskinan Mendarat di Atas Struktur Pemerintahan” Indonesia dianugrahi segalanya, bisa menghidupi dan memakmurkan seluruh rakyat ditanah air ini. Tanahnya yang subur lautan luas tempat ikan ternama didunia adalah kepunyaan kita Indonesia.

 Akhir-akhir ini kohesivitas sosial kian renggang, tensi politik menjadi tidak stabil. Kita mungkin butuh jeda, perlu menziarahi petuah para pelaku pendiri bangsa. Agar penjabaran cita-cita kemerdekaan tidak serupa ornamen pemanis penuh ilusi. Bangsa ini harus merdeka dari eksploitasi manusia atas manusia. Bangsa ini harus bebas dari jerat pengisapan.

Gelora kebangsaan bukan setapak jejak di tanah, yang mudah tersapu debu atau hujan, janji kemerdekaan bersimbiosis dalam nadi hidup dalam sukma manusia Indonesia.

Akhirnya, jika kemiskinan tak bisa teratasi di Negeri dengan kekayaan alam yang melimpah ini meski telah berganti-ganti pemerintahan, haruskah negara hadir dengan kebijakan “Air mata sebagai mata uang”?.

Mari kita renungkan! Sebab air mata bukan lambang keputusasaan, bukan ciri pesemisme, tetapi isyarat bahwa jiwa di dalam diri masih hidup.

*A latif S., Aktivis HMI, Ketua Umum Pengurus Nasional Jaringan Muda Nusantara (JMN). Mukim di Jakarta.

Loading...

Terpopuler