Connect with us

Mancanegara

Masa Depan Australia Sebagai Penjaga Gerbang Indo-Pasifik

Published

on

Indo Pasifik

NUSANTARANEWS.CO – Pada awal November 2013, The Centre for Strategic and Budgetary Assessments (CBSA), sebuah lembaga think tank Amerika Serikat (AS) mengeluarkan laporan yang berjudul “Gateway to the Indo-Pacific: Australian Defense Strategy and the Future of the Australia-US Alliance”. Laporan tersebut menggambarkan mengenai masa depan Australia sebagai penjaga gerbang Indo-Pasifik yang kini sedang diperebutkan – terutama dalam menjaga stabilitas tatanan strategis masa depan di Asia. Sehingga secara signifikan menempatkan Australia menjadi lebih penting daripada sebelumnya.

Dalam konteks strategis yang sedang berubah itu, ANZUS tampaknya akan menjadi aliansi yang penting bagi AS di abad ke-21 daripada di abad ke-20. Dengan kata lain, Australia memiliki peran strategis bagi Pentagon dalam persiapan perang dengan Cina. Betapa tidak bila isi laporan itu jelas-jelas menyoroti pentingnya letak geografis Australia bagi operasi angkatan laut dan udara AS di lautan India dan Pasifik dalam menghadapi Cina.

ANZUS adalah salah satu pakta pertahanan yang dibentuk oleh AS pada era Perang Dingin (Cold War) sebagai upaya menghadapi ancaman bahaya komunisme Uni Soviet. Perjanjian 1 September 1951, di San Francisco ini mulai berlaku pada 29 April 1952. Perjanjian ini mengikat para penandatangan untuk mengakui bahwa serangan bersenjata di wilayah Pasifik terhadap mereka akan membahayakan perdamaian dan keselamatan yang lain.

Pakta pertahanan ini tidak memiliki struktur pertahanan terpadu atau pasukan khusus seperti Organisasi Perjanjian Atlantik Utara (NATO). Namun, Australia dan AS melakukan berbagai kegiatan bersama, termasuk latihan militer mulai dari latihan angkatan laut dan pendaratan di tingkat kelompok tugas hingga pelatihan pasukan khusus di tingkat batalion, menugaskan perwira ke dinas bersenjata masing-masing, dan standarisasi peralatan serta doktrin operasional. Kedua negara juga mengoperasikan fasilitas rahasia satelit mata-mata di Australia, dan menjalankan spionase di Asia Tenggara dan Timur sebagai bagian dari jaringan ECHELON.

Baca Juga:  4 Tahun Pemerintahan Jokowi-JK, Mahasiswa: Selamatkan Ekonomi Indonesia!
Loading...

Sehingga tidak mengherankan bila laporan itu juga menyusun strategi pertempuran, baik melalui serangan udara dan rudal nuklir untuk menghancurkan sarana komunikasi dan infrastruktur militer Cina, termasuk blokade ekonomi untuk memotong jalur impor energi dan bahan baku dari Afrika dan Timur Tengah.

Penguatan militer AS di kawasan Indo-Pasifik adalah bagian integral dari kebijakan “Pivot to Asia” pemerintahan Obama – sebagai upaya melemahkan pengaruh Cina di seluruh wilayah secara diplomatik dan militer. Obama sendiri mengumumkan strategi tersebut di parlemen Australia pada November 2011, sekaligus menandatangani perjanjian penempatan Marinir AS di kota Darwin, sebagai pos militer terdepan di seberang Laut Timor Indonesia. Pangkalan militer ini akan menjadi pusat operasi terpadu bagi 2500 marinir AS di Australia.

Secara geopolitik, Australia kini menjadi sangat penting bagi AS – sekaligus menunjukkan bahwa hubungan AS-Australia menjadi lebih istimewa di abad ke-21. Sama seperti aliansi Washington dengan London yang memberikan AS basis strategis di Eropa selama abad ke-20 – ikatan kuat Amerika dengan Australia juga melestarikan pengaruh AS dan jangkauan militernya di seluruh Indo-Pasifik.

Australia menjadi pelengkap pangkalan regional AS selain Guam di Pasifik barat dan Diego Garcia di Samudra Hindia – yang secara geografis berada di luar jangkauan rudal Cina, tetapi relatif dekat dengan Laut Cina Selatan (LCS) dan kepulauan Indonesia. Pangkalan udara di Australia utara dan pangkalan angkatan laut Stirling di dekat Perth di Australia Barat menjadi bagian penting dalam operasi kapal selam. Tinggal bagaimana meningkatkan pangkalan-pangkalan itu untuk mendukung operasi udara dan rudal nuklir dalam perang modern.

Menarik untuk dicermati adalah pengoperasian satelit mata-mata dari sebuah pangkalan rahasia “area 51” Australia yang memungkinkan AS memonitor chokepoint kunci laut dan jalur laut ke utara. Pangkalan rahasia ini juga menjadi bagian vital dari operasi mata-mata global NSA yang luas dengan kemampuan perang cyber paling mutakhir. Tidak heran bila Australia mampu mengintip operasi intelijen yang berada di Indonesia yang membuat SBY mencak-mencak.

Baca Juga:  Benarkah Dunia Masih Didominasi AS?

Di samping itu, kedekatan Australia dengan kepulauan Indonesia bagian selatan, juga memungkinkan Australia memainkan peran penting dalam mengawasi Selat Lombok dan Selat Sunda. Hal ini secara strategis memberi kuntungan militer dalam memotong jalur suplai Cina.

Penempatan militer AS di Australia merupakan perluasan jangka panjang pertama sejak berakhirnya Perang Vietnam. Kebijakan ini secara langsung telah menimbulkan reaksi para pemimpin Cina yang menganggap bahwa AS telah mengepung Cina secara diplomatik, militer dan ekonomi.

Meski Presiden Obama mengatakan langkah itu tidak dimaksudkan untuk mengisolasi Cina, namun hal itu merupakan signal bahwa AS semakin waspada terhadap Cina yang telah banyak berinvestasi dalam modernisasi militernya, bahkan berani menyatakan klaim teritorial atas pulau-pulau yang disengketakan di LCS. (Agus Setiawan)

Loading...

Terpopuler