Berita UtamaLintas NusaTerbaru

Marine Le Pen Mengecam Sanksi Anti-Rusia Prancis sebagai ‘Ceroboh dan Tidak Pantas’

Marine Le Pen mengecam sanksi anti-Rusia Prancis sebagai 'ceroboh dan Ttdak pantas'
Marine Le Pen mengecam sanksi anti-Rusia Prancis sebagai ‘ceroboh dan Ttdak pantas’/Foto: Sputnik News.

NUSANTARANEWS.CO, Paris – Pemimpin sayap kanan Prancis Marine Le Pen mengecam keputusan Presiden Prancis Emmanuel Macron yang menjatuhkan sanksi baru terhadap Rusia mengikuti kebijakan Uni Eropa. Le Pen menyebut sanksi itu “tidak pantas dan sembrono” sekedar membebek histeria Uni Eropa terkait opersasi militer khusus Rusia di Ukraina.

Keputusan Paris bergabung dengan kebijakan Uni Eropa untuk menjatuhkan sanksi yang semakin keras terhadap Rusia – telah menjadi bumerang yang mengakibatkan berhentinya pasokan gas Rusia yang berdampak melonjaknya harga gas dan listrik di Eropa dan mendorong inflasi yang sudah tinggi.

Le Pen lebih lanjut mengatakan bahwa krisis harga listrik saat ini adalah akibat langsung dari keputusan Paris untuk meninggalkan tenaga nuklir, yang diambil negara itu setelah bencana di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Fukushima di Jepang setelah dilanda tsunami.

Mantan calon presiden dan pemimpin partai politik Front Nasional Prancis ini mengingatkan bahwa sanksi Uni Eropa terhadap Rusia memiliki konsekuensi menurunnya daya beli masyrakat.

Baca Juga:  Darud Donya: "Fatwa Ulama, Haram Menghancurkan Makam Para Syuhada dan Ulama"

Seperti diketahui, Prancis bersama Jerman dan beberapa negara Eropa lainnya secara bertahap menutup pembangkit listrik tenaga nuklirnya dan beralih menggunakan pembangkit energi hijau – namun selama transisi tersebut sebagian besar sangat mengandalkan gas dari Rusia.

Setelah penjatuhan sanksi ternayta mengganggu pemeliharaan turbin untuk pipa Nord Stream. Raksasa gas Rusia, Gazprom mengatakan bahwa mereka tidak dapat mengembalikan turbin dari perawatan di luar negeri karena sanksi dan terpaksa berhenti memompa gas pada September tahun ini. Nord Stream 2 yang telah selesai pun akhirnya turut tak dapat beroperasi karena kebijakan anti-Rusia UE tersebut.

Pada gilirannya dengan cepat mendorong lonjakan harga bahan bakar biru itu yang mengakibatkan inflasi di negara-negara Uni Eropa (Alya)

Ikuti berita terkini dari Nusantaranews di Google News, klik di sini.

Related Posts

1 of 9