Connect with us

Puisi

Mari Belajar dan Doa Memulai Pelajaran

Published

on

puisi, kumpulan puisi, mari belajar, puisi belajar, belajar puisi, memulai pelajaran, doa memulai pelajaran, puisi doa, zen kr halil, nusantaranews

Mari Belajar dan Doa Memulai Pelajaran. (Foto: Dok NUSANTARANEWS.CO)

Mari Belajar

Aku tak pernah tahu
Mengapa kursi-kursi Negara
Lebih panas dari bara menyala
Dan hidangan-hidangan di mejanya
Adalah reingkarnasi dari ribuan bulir airmata.

Setiap hari, ibu mengajariku selalu
Mengeja huruf-huruf masalalu
Manakala penjajah tumbang di kaki para pejuang.
Lalu menyisakan kalimat merdeka
Yang telah lama tak terbaca.

Ah! Sudahkah Tuan belajar
Cara paling benar
Menyuarakan proklamasi
Untuk yang kedua kali?

2019

Loading...

 

Doa Memulai Pelajaran

Segala puji bagi-Mu
Sang Mahakebebasan

Limpahkanlah aku ilmu-ilmu baru
Seperti cara menangisi negeri
Agar airmata tak terbuang sia-sia
Atau cara menghapus dusta
Yang terpajang di ceruk-ceruk desa,
Di sudut-sudut kota.

Wahai Tuhan Mahasegala
Hanya kepada engkau aku berlindung
Dari ilmu cara menelikung
Agar tak ada bingung mengungkung
Atau luka yang terus merubung.

2019

 

Belajar Bersepeda

Tak kuasa kuhitung
Berapa kali harus jatuh
Dan bangkit untuk tumbuh
Sebab kepalaku akan terus riuh
Meminta tetap tabah mengayuh
Agar laju roda-roda harapan
Mampu mengantarku ke beranda istana Negara
Untuk mencari beras eppak dan emmak
Yang hilang sebelum sempat ditanam.

Madura, 2019

 

Belajar Memasak

Kepada ibu yang tak pernah lupa nama-nama bumbu
Aku terus belajar menghafal daftar-daftar kenikmatan
Untuk mampu meracik hakiki sebuah kemerdekaan.
Sebab, di negeriku selama ini
Tidak kutemukan apa yang lebih nikmat
Dari seporsi nasi rawon.

2019

 

Belajar Mencuci

Aku ingin pergi ke sungai
Mencuci perih di airnya yang jernih
Membasuk segala nyeri
Yang tercipta dari busa-busa janji.

Apakah Tuah juga butuh deterjen dariku?
Agar noda-noda
Tak lagi menempel pada baju Negara.

Baca Juga:  Pengorbanan yang Tak Abadi, Puisi Elsa Rosalia

2019

 

Belajar Bertanam

Kucangkul tabah lading lapang gersang
Meski tanah mengeras
Seiring musim terus memelihara luka dalam dada.

Lalu, kutanam segenap harap dan mimpi
Meski peluh mengucur tiada henti
Saat aku harus berteduh kepada lidah-lidah
Yang lebih runcing daripada duri.

Maka, tak ada profesi lebih elegi
Selain belajar menjadi petani
Yang asing di negeri sendiri.

2019

 

Belajar Meracik Kopi

Kelam nasib mengental dalam pahit kopi
Hitam kenangan, ampas masa depan
Merubung bersama aroma yang menyimpan tanda Tanya.

Mari ngopi bersamaku, Tuan
Namun, yang kini kuracik
Sengaja tidak kucampur gula
Agar kau mengerti
Bahwa manis takdirku masih terlipat rapi
Di dalam saku kemejamu.

2019

 

 

Penulis: Zen KR. Halil, Mahasiswa INSTIK Annuqayah Prodi Tasawuf Psikoterapi. Juga tercatat sebagai santri PP. Annuqayah Lubangsa asal Batang-batang Sumenep. Karyanya pernah dimuat di berbagai media dan antologi bersama.

Loading...

Terpopuler