Connect with us

Mancanegara

Mantan Presiden Bolivia Evo Morales Siap Kembali ke Tanah Airnya dari Pengasingan

Published

on

Mantan Presiden Bolivia Evo Morales siap kembali ke tanah airnya dari pengasingan di Argentina pada 11 November mendatang.

Mantan Presiden Bolivia Evo Morales siap kembali ke tanah airnya dari pengasingan di Argentina pada 11 November mendatang/Foto: thismuchiknow.news.

NUSANTARANEWS.CO, La Paz – Mantan Presiden Bolivia Evo Morales siap kembali ke tanah airnya dari pengasingan di Argentina pada 11 November mendatang. Presiden Morales mengundurkan diri sebagai presiden dan meninggalkan negara itu di bawah tekanan militer setelah oposisi Bolivia yang mendapat dukungan Amerika Serikat (AS) dan Barat menuduhnya melakukan pelanggaran Pemilu Oktober 2019 yang tidak terbukti kebenarannya.

Seperti diketahui, Morales kembali terpilih menjadi Presiden Bolivia dalam pemilu yang berlangsung demokratis dengan raihan 47 persen suara, namun kelompok oposisi menolak dengan melancarkan aksi unjuk rasa yang didukung media mainstream barat yang membenarkan tuduhan terjadinya penyimpangan dalam proses penghitungan suara tersebut.

Pada 27 Oktober, dalam sebuah wawancara televisi, Senator Andrónico Rodríguez dari partai Gerakan Menuju Sosialisme (MAS), menginformasikan bahwa mantan presiden Evo Morales akan kembali ke Bolivia sehari setelah Luis Arce dan David Choquehuanca dari MAS dilantik sebagai presiden dan wakil presiden.

Rodríguez juga mengatakan bahwa dua hari kemudian, pada 11 November, mantan presiden Morales akan kembali ke Tropic of Cochabamba, di mana Morales akan melatih para pemimpin baru Bolivia. Disinilah awal kisah perjuangan Morales yang penuh kepahitan dan kebahagiaan. Mengarungi pemilihan demi pemilihan, akhirnya MAS berkembang menjadi partai terbesar dalam sejarah Bolivia.

Dalam sebuah wawancara, Morales mengatakan bahwa Konfederasi Pekerja Bolivia telah meminta dia kembali. “Kantor kepala eksekutif [konfederasi], ingin saya kembali secepat mungkin,” katanya.

Morales juga mengaskan bahwa dirinya tidak akan mengambil posisi dalam pemerintahan. “Tidak, tidak sama sekali,” kata Evo Morales ketika ditanya tentang kemungkinan mengambil posisi pemerintah dalam kabinet mendatang.

Baca Juga:  Gagah! Postur Pertahanan dan Alutsista di Indonesia Timur

Pada hari Senin (28/10), seorang hakim Bolivia membatalkan surat perintah penangkapan yang dikeluarkan terhadap mantan presiden Evo Morales atas tuduhan kejahatan hasutan dan terorisme, yang membuka jalan baginya untuk kembali ke tanah airnya tanpa menghadapi risiko penahanan.

Ketua Pengadilan Departemen Kehakiman La Paz, Jorge Quino, melaporkan bahwa Hakim Investigasi Kriminal Pertama, Román Castro, menerima permintaan pembela Morales untuk membatalkan dakwaan terhadapnya, mengingat hak fundamentalnya dilanggar.

Pengaduan terhadap Morales diajukan oleh menteri dalam negeri dari rezim sayap kanan yang lahir melalui kudeta, Arturo Murillo, beberapa hari setelah kudeta, yang menuduh Morales memicu kerusuhan di negara itu dalam beberapa minggu setelah pengunduran dirinya .

Pada 27 Oktober, Mahkamah Agung Pemilihan (TSE) Bolivia telah menyerahkan hasil resmi anggota Majelis Legislatif Plurinasional yang baru terpilih: 130 wakil, 36 senator dan 6 anggota majelis supra-negara.

Sementera Presiden terpilih Luis Arce dan wakil presiden David Choquehuanca akan mulai menjabat pada 8 November 2020. Presiden terpilih juga telah mengumumkan beberapa langkah untuk menyelesaikan krisis ekonomi dan sosial sebagai dampak pandemi dengan pemberian kupon makanan untuk penduduk miskin dan pengenalan pajak kekayaan & properti baru.

Sementara dengan persitiwa kudeta dan pembantaian di Sacaba dan Senkata yang dilakukan oleh rezim kudeta, Luis Arce telah menyatakan akan membuka penyelidikan. Arce juga telah mengumumkan rencananya untuk pemulihan hubungan dengan Kuba, Venezuela & Iran – yang dirusak rezim kudeta boneka AS. (Agus Setiawan)

Loading...

Terpopuler