Connect with us

Opini

Mandiri ‘Memeras’ Nasabahnya dan Diskriminatif Kepada Pribumi

Published

on

Bank Mandiri

Bank Mandiri. (Foto: Ist)

Mandiri ‘Memeras’ Nasabahnya dan Diskriminatif Kepada Pribumi

Mungkin sangat banyak orang tidak mengetahui Bank Mandiri pernah ‘memeras’ nasabahnya secara formal dan diskriminatif. Selama ini sangat banyak orang percaya bahwa bank adalah sentral integritas karena urusannya adalah uang sebagai fokus minat semua manusia untuk dimilikinya. Oleh karena itu, orang bank selalu dianggap sebagai orang berintegritas tinggi. Dengan perkataan lain, kalau mau bertemu orang baik maka pergilah bertemu dengan orang bank. Ternyata tesis itu tidak benar!

Tesis itu digagalkan temuan kasus di Bank Mandiri yakni Mandiri ‘memeras’ nasabahnya secara formal dan melakukan tindakan diskriminasi. Untuk mendapatkan deskripsi yang kurang lebih lengkap bisa diikuti sebagai berikut ini.

Pertama, Kasus Nasabah Bank Mandiri

Pada kasus ini, Hijau (nama samaran), menjadi nasabah Kartu Kredit Bank Mandiri sejak akhir 2015. Hingga tanggal 29 Agustus 2019 tagihan full Rp 12,3 juta. Tagihan minimum Rp 2,1 juta. Jatuh tempo berikutnya tanggal 2 September 2019. Manakala Hijau tak bisa membayar tagihan minimum, maka tagihan itu akan naik satu kali lipat mungkin menjadi Rp 4,2 juta pada tagihan 2 Oktober 2019. Pada tagihan 2 November 2019 mungkin akan menjadi 8,4 juta. Kegagalan bayar sudah pasti karena Hijau tak punya penghasilan tetap lagi.

Loading...

Untuk terhindar dari beban bunga, Hijau berinisiatif mengurusnya melalui pimpinan terkait ke Plaza Mandiri untuk menyatakan menyerah, tidak mau menggunakan Kartu Kredit lagi dan memohon kebijakan prosedur pembayaran di luar sistem Kartu Kredit. Tetapi tak seorang pimpinan Bank Mandiri pun yang bisa ditemui Hijau. Bahkan dipersulit oleh security dengan berbagai alasan tak masuk akal. Hijau hanya bisa bertemu dengan staf Coorporate Secretary.

Kemudian bagian Coorporate Secretary melemparkan Hijau ke Menara Mandiri, Sudirman. Dari sini Hijau dilempar lagi ke Wisma Mandiri, Kebon Sirih. Prinsip ketiga kantor Mandiri itu sama, bahwa solusinya hanya bayar lunas. Alternatif lain, jika nasabah meninggal dunia dan macet tiga bulan. Sedangkan Kartu Kredit Hijau masih dinyatakan lancar.

Baca Juga:  Pembawa Pesan Resahkan Warga, Penegak Hukum Jangan Diam

Kedua, keberatan Nasabah Bank Mandiri

Keberatan Nasabah Bank Mandiri sebetulnya sudah disampaikan sejak setahun silam kepada petugas collection-nya. Petugas collection Bank Mandiri tak mengerti apa arti kata menyerah! Namun, mereka selalu menjawab tidak boleh berhenti sebelum melunasi tagihan full.

Sementara itu, tagihan minimum terus dilakukan Bank Mandiri kepada Hijau. Tabiat Bank Mandiri seperti ini adalah bukti bahwa Bank Mandiri melakukan pemerasan kepada nasabahnya. Alasan tunggu tagihan macet selama tiga bulan, ini merusak nama baik Hijau. Sebagai akibatnya Hijau terus berusaha untuk mebayar tagihan minimum. Sedangkan tagihan full takkan pernah berkurang. Ini adalah bukti pemerasan Bank Mandiri secara formal kepada nasabahnya, Hijau. Mungkin nasabah lain juga banyak yang bernasib sama dengan Hijau.

Ketiga, Bank Mandiri diskriminatif kepada pribumi

Bank Mandiri ternyata betul diskriminatif terhadap pribumi pada umumnya. Bank Mandiri lebih berpihak kepada etnis Cina Indonesia (ECI) dalam hal pemberian fasilitas kredit. Bahkan, menurut petugas collection dari Bank Mandiri, setoran ECI lebih baik dari pada setoran pribumi. Itu sebabnya bila pribumi menunggak kredit cepat diburu-buru oleh Bank Mandiri agar cepat bayar dan jika tidak cepat bayar bunganya langsung dlipatgandakan seperti kasus di atas. Sedangkan ECI mengalami kredit macet pun, tidak diburu-buru oleh Bank Mandiri.

Kasus kredit macet di Bank Mandiri pada tahun 2018 sebesar 2,75%. Pada tahun yang sama, BPK mengendus aliran kredit Bank Mandiri Rp 7 trilium berisiko macet. Hampir seluruh pelakunya adalah ECI. Namun tidak ditindak oleh Bank Mandiri. Sebaliknya, malahan pribumi yang diburu-buru terus bila mengalami tunggakan pembayaran kredit seperti yang dialami oleh Hijau di atas.

Para petugas collection Bank Mandiri menghina nasabah pribumi dengan sesuka hatinya. Bank Mandiri sebagai Bank Pemerintah sangat tidak etis melakukan itu serta pemerasan kepada nasabahnya, Hijau, yang sudah menyatakan menyerah dan tidak mau lagi menggunakan Kartu Kredit. Di samping itu, pribumi sebagai pemilik negara diperlakukan diskriminatif oleh Bank Mandiri. Sedangkan ECI keturunan imigran Cina Daratan (sekarang Cina Komunis), malahan diberlakukan sebaik-baiknya kebaikan padahal sebetulnya ECI adalah perampok atas Bank Mandiri. Satu di antaranya adalah kasus Edy Tansil merampok Rp 1,3 triliun dana Bank Mandiri.

Baca Juga:  Hitung Cepat Pilgub Jateng, 3 Lembaga Survei: Ganjar Pranowo-Taj Yasin Unggul

Dengan demikian maka di Bank Mandiri ternyata Merah Putih hanya sebuah lirik lagu, bukan fakta. Apa lagi, kini Bank Mandiri sudah dikontrol oleh Cina Komunis maka diperkirakan akan semakin sukar untuk berbaik perspektif kepada Pribumi Indonesia yang seharusnya menjadi titik mula pembangunan pengusaha nasional dari tingkat kecil, sedang, menengah, hingga pengusaha besar.

Oleh: M.D. La Ode, Ahli Politik Etnisitas

 

Catatan Redaksi: Artikel ini sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis seperti yang tertera, dan tidak menjadi bagian dari tanggungjawab serta tidak mewakili redaksi nusantaranews.co

Loading...

Jurnalis dan editor di Nusantara News, researcher lepas. | life is struggle and like in silence |

Terpopuler