Connect with us

Puisi

Malam Kelabu, Nasib Negeriku

Published

on

sebuah cerpen, cerpen, mengejar asap, cerpen indonesia, cerpen nusantara, cerpen ali mukoddas, nusantaranews

Cerpen Mengejar Asap. (Foto: Ilustrasi/DIPANTARA)

Malam Kelabu

Malam hening
Ditemani dingin
Memandang langit
Melihat kejora membentuk wajahmu

Purwokerto,28 September 2019

 

Hamba

Duduk
Bercengkerama dengan gelap
Hitam yang mencekat
Memikat dingin

Aku mengadu
Tentang drama kecil ini
Yang membawa penat
Sampai pada titik tertinggi kelemahan
Tetapi
Aku hanya hamba
Yang bilagelap bertaubat siang bermaksiat

Purwokerto, 1 Oktober 2019

 

Nasib Negeriku

Dari ujung timur sampai ujung barat
Perbatasan antar negara laut dan darat
Dijaga TNI dengan ketat
Bersama tekad dan keyakinan yang kuat
Untuk membangun Indonesia hebat
Mereka yang rela berkorban demi bangsa
Makan seadanya beralas daun
Minum berrcampur keringat
Tidur berganti mata dengan yang lain

Namun, jauh di dalam
Laut dibor! Tanah berlubang!
Diambil minyak,batu bara
Dimana Indonesiaku?
Orang bilang tanah kita tanah surga
Bagi mereka yang duduk manis sambil berdebat

Purwokerto, 25 September 2019

 

Hening

Aku duduk
Di sudut ruang
Menerawang keheningan
Sepi
Ku bertanya
Mengapa dirimu hadir
Padahal aku tak inginkan

Ruang menyambutmu
Menjebak disini
Di dalam kalbu
Tak berpenghuni

Purwokerto,25 September 2019

 

Kelopak Rindu

Di balik jendela kayu
Berwarna coklat
Aku menantimu
Yang setiap datang
Membawa rangkaian kelopak bunga
Tetapi tidak hari ini
Yang datang bukan dirimu
Melainkan hanya kelopak rindu

Purwokerto, 1 Oktober 2019

 

Pemilik Rasa

Embun menutup pandang
Garis tepi jalanan
Bayang indahmu
Samar melambai
Ingin ku berlari
Namun jika ku terjatuh
Apakah kau mau menemani

Purwokerto, 25 September 2019

 

Ingin Lupa

Kau bukan siapa-siapa
Yang datang tanpa sengaja
Bahkan tanpa rencana
Pantaslah
Kau pergi tanpa kata
Kuingin rasanya melupa
Tetapi nihil sepertinya
Karena aku tahu
Tuhan menciptakan otak
Untuk mengingat bukan melupa

Baca Juga:  Menimbang Ketersediaan Infrastruktur Indonesia

Dan sekarang
Aku sibuk mencabut duri-duri
Yang kau tancapkan
Dengan begitu halus
Sehingga aku tidak merasakan
Bahwa sebenarnya
Aku sedang meluka

Purwokerto,3 Oktober 2019

 

 

 

Biodata Penulis:

Yepi Regina Prayitno, akrab dipanggil Yepi. Lahir 18 tahun lalu tepatnya pada tanggal 25 Maret 2001 di desa Langgongsari, Cilongok. Alamat rumahnya di desa Langgongsari RT 05/01 kecamatan Cilongok, kabupaten Banyumas. Putri ketiga dari lima bersaudara. Dia mempunyai hobi mendengarkan musik dan semua yang berhubungan dengan musik. Sekarang dia mulai tetarik membaca puisi karya penyair-penyair hebat tanah air. Semoga bisa menjadi langkah awal baik baginya dalam berpuisi. Bercita-cita sebagai dosen tetapi ingin juga menjadi pengusaha yang sukses. Saat ini dia menjadi seorang mahasiswi di salah satu kampus di Purwokerto, yaitu di IAIN (Institut Agama Islam Negeri). Mengambil jurusan PAI (Pendidikan Agama Islam) dan sekarang masih berproses pada semester satu. Dia juga aktif di salah satu organisasi di IAIN yaitu organisasi PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) Rayon Tarbiyah.

Loading...

Terpopuler