Budaya / Seni

Mahasiswa dan Guru di Lingkungan NU Terus Dituntut untuk Berprestasi

guru berprestasi, calon guru, guru nu, dian marta wijayanti, temanggung, stainu temanggung, nusantaranews
Mantan Asessor Early Grade Reading Assessment (EGRA) USAID Prioritas Jawa Tengah, Dian Marta Wijayanti saat mengisi seminar bertajuk Strategi Menjadi Guru Berprestasi Melalui Literasi di Temanggung, Sabtu (15/12). (Foto: Andrian Gandi)

NUSANTARANEWS.CO, Temanggung – Mantan Asessor Early Grade Reading Assessment (EGRA) USAID Prioritas Jawa Tengah, Dian Marta Wijayanti mengatakan calon guru wajib berprestasi, termasuk guru-guru di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU).

“Syarat guru berprestasi, memang kebanyakan diukur dari masa kerja. Tapi bagi saya, guru berprestasi itu pertama adalah yang dapat melakukan inovasi. Yaitu, dengan melakukan pengembangan bahan ajar, materi, media, dan asesmen. Kedua, pengembangan diri dan karya ilmiah. Baik itu seminar, workshop, penelitian, artikel, jurnal, simposium. Ketiga, kompetisi. Yaitu, join lomba terkait pendidikan, kepenulisan, maupun sosial budaya,” kata Dian saat mengisi seminar bertajuk Strategi Menjadi Guru Berprestasi Melalui Literasi di Temanggung, Sabtu (15/12).

Lulusan Terbaik PGSD UNNES tahun 2013 itu menuturkan, tidak ada guru hebat kecuali yang berpengalaman. “Tentu, pengalaman tidak hanya di dalam kelas, di sekolah, melainkan juga dari luar,” imbuhnya.

Dijelaskan Dian, bahwa guru mengajar di kelas itu biasa. Guru mengajar di luar kelas itu baru luar biasa. “Maka kalau kita menulis, berkompetisi, melakukan presentasi karya ilmiah di luar, itu dampaknya dapat digunakan atau berdampak pada orang banyak,” paparnya.

Baca juga: Apresiasi Guru PAI Berprestasi, Kemenag Beri Penghargaan

Menurut peraih Juara III Inovasi Pembelajaran (INOBEL) PGRI 2018 ini, berkarya adalah suatu kewajiban dan berprestasi merupakan hadiah. “Kalau kita lomba, tak perlu diwartakan. Nanti kalau kita menang, akan mengharumkan nama kampus kita, khususnya STAINU Temanggung,” lanjutnya

Nominator Pemenang Lomba Jurnalistik dan Blog Dirjen PAUD dan Dikmas Kemdikbud 2018 ini juga membeberkan sejumlah trik untuk menjadi guru berprestasi. “Pertama triknya adalah manajemen waktu. Anda harus sadar, aku mahasiswa, aku calon guru, maka pasti banyak waktu meskipun harus diatur sesuai kesibukan masing-masing,” tambah Guru Berprestasi Kesharlindung DIKDAS Kemdikbud tahun 2017-2018 ini.

Selanjutnya, kata Dian, mahasiswa harus haus kompetisi. “Searching berbagai informasi tidak hanya materi perkuliahan tapi juga lomba-lomba,” beber perempuan yang pernah meraih Juara 3 LKTI Pekan Ilmiah Biologi Terpadu Jateng-DIY tersebut.

Selain itu, mahasiswa juga harus rajin iktu lomba esai dan artikel yang diselenggarakan kampus. “Tak hanya itu, aktiflah menulis di media massa. Itu bagian dari wujud entrepreneurhsip, edupreneurhsip, dan teacherpreneurship sesuai visi Prodi PGMI STAINU Temanggung,” lanjut penulis buku Guru Zaman Now; Guruku Sahabatku tersebut.

Mahasiswa, menurut dia, harus yakin pada diri sendiri. “Ada ribuan lomba karya tulis yang dapat diikuti mahasiswa. Ikutlah UKM atau Lembaga Pers mahasiswa. Jadilah mahasiswa sibuk untuk kegiatan literasi, cari pengalaman sebanyaknya saat kuliah,” beber peraih Juara III LKTI BKKBN Jateng tersebut.

Apa keuntungan mahasiswa yang rajin menulis? Dian mengatakan pertama, mudah dalam menyelesaikan skripsi. Kedua, terbiasa berpikir kritis dan peka. Ketiga, siap menjadi guru hebat.

”Tantangan guru di masa depan semakin besar. Maka kita harus melek IT, multitalent, dan dirindukan semua orang terutama siswa. Kita jangan minder, karena banyak guru berprestasi yang berasal dari daerah tertinggal. Maka solusinya, ya mulailah sekarang juga. Menulis tidak harus menunggu jadi doktor atau profesor,” beber guru yang pernah menjadi Finalis Duta Bahasa Provinsi Jawa Tengah tersebut.

Sementara itu, Kaprodi PGMI STAINU Temangung Hamidulloh Ibda mengatakan literasi abad 21 tidak cukup jika sekadar literasi lama. “Sekarang era Revolusi Industri 4.0, mendorong kita harus melakukan literasi baru, yaitu literasi data, teknologi, dan literasi manusia sebagai pelengkap dari literasi lama, yaitu membaca, menulis, dan berhitung,” katanya.

“Jadi apa yang kita lakukan dalam perkuliahan, harus menyasar pada tiga pilar literasi, yaitu membaca, menulis, dan mengarsipkan,” lanjut Ibda.

Selanjutnya, Ketua STAINU Temanggung Muh Baehaqi dalam kesempatan sama juga menegaskan bahwa pemakaian alat-alat teknologi harus dimanfaatkan mahasiswa untuk kegiatan positif.

“Semua punya android, maka kita harus memanfaatkannya untuk kegiatan positif yang mendukung literasi. Jangan hanya gunakan HP untuk WA dan Facebook saja. Banyak manfaat positif untuk menyimpan e-book, kitab-kita kuning, dan ini sudah saya praktikkan dan terapkan dalam pembelajaran,” jelasnya.

(and/gnd)

Editor: Ani Mariani

Related Posts

1 of 514