Connect with us

Opini

Maha Besar DPR Dengan Segala UU MD3-nya

Published

on

Ketua DPR RI Bambang Soesatyo (Foto Nusantaranews.co/Romandhon)

“DPR hanyalah kepanjangan tangan dari rakyat. Tapi kenyataan baru terjadi. Kenyataan pahit. UU MD3 diketok. Maka sekali lagi, maha besar DPR dengan segala UU MD3-nya.”

NUSANTARANEWS.CO – Apa dikata, rakyat tak kuasa menerima kenyataan. Wakil kepercayaan mereka di singgasana Senayan, sedang menyiapkan tameng. Mereka sedang menyusun strategi anti kritik. Mereka menuntut hak imunitas agar kuat. Maka, maha besar DPR dengan segala UU MD3-nya.

Para wakil rakyat di Senayan tak sadar bahwa mereka hanyalah pengawal demokrasi. Mereka lupa siapa tuanya demokrasi. Rakyat yang mestinya wajib mendapat hak imunitas. Sebab rakyat adalah tuan demokrasi yang sesungguhnya?

DPR hanyalah kepanjangan tangan dari rakyat. Tapi kenyataan baru terjadi. Kenyataan pahit. UU MD3 diketok. Maka sekali lagi, maha besar DPR dengan segala UU MD3-nya.

UU MD3 merupakan kenyataan yang sangat memprihatinkan. Anggota DPR yang duduk di rumah rakyat yang beratap layaknya rambut terbelah dua itu, bertindak semaunya. Mereka membentuk pasal dalam UU MD3 yang menjadikan mereka kebal kritik. Ujung-ujungnya kebal hukum.

Salah satu yang disoroti adalah pasal 245 yang mengatur bahwa pemanggilan anggota DPR terkait tindak pidana harus mendapatkan persetujuan tertulis dari presiden. Menurut Sebastian (CNN Indonesia), revisi pasal ini sengaja dibuat sebagai upaya menghindari panggilan dari aparat penegak hukum.

Betapa gawatnya negeri ini. Lembaga perwakilan rakyat durhaka. Unsur penting demokrasi berkhianat. Tak tau malu. Hal ini tidak kalah ngeri dibandingkan dengan penghadangan Gubernur tuan rumah pada Piala Presiden kemarin.

Baca Juga:
Sebut UU MD3 Masih Draft, Jokowi Diluruskan
PB PMII Gelar Diskusi Publik, UU MD3 Jadi Tameng Parlemen?
UU MD3: Menjauhkan Wakil Rakyat dari Rakyat yang Diwakilnya

Penulis kira, masyarakat harus segera sadar bahwa didikhianati. Musim hujan negeri ini serasa musim panas. Otak memanas, hati mendidih sedih melihatnya. Bahkan kalau dicermati lagi, DPR sedang menuju puncak kekuatan kekuasaannya. Padahal itu tidak sesuai. Mereka merebut kekuasaan yang bukan miliknya. Mereka segera ‘Maha Kuasa’. Kalau begitu Tuhan-pun ingin mereka saingi.

*Muqaddim, penulis adalah Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Ilmu Politik (HIMAJIP UNAS)

Komentar

Advertisement

Terpopuler