Macron Efek

NUSANTARANEWS.CO – Sejak referendum Brexit Inggris dan pemilihan Presiden AS Donald Trump tahun lalu, gelombang populisme ekstrim seakan menjadi ancaman terhadap eksistensi Uni Eropa. Namun dengan kemenangan Emmanuel Macron menunjukkan bahwa ancaman itu tidak terbukti. Fakta pemilu di Perancis menggambarkan bahwa kemenangan Macron merupakan “kanal” bagi lahirnya kekuatan tengah baru Uni Eropa yang lebih cerdas.

Kekalahan Le Pen dan Geert Wilders dalam Pemilu Belanda akhir Maret lalu juga menunjukkan bahwa masyarakat Eropa masih waras dalam menyikapi isu “populisme ekstrim”. Dengan demikian boleh dikatakan bahwa kemenangan Macron secara simbolis bukan hanya kemenangan Prancis, tetapi juga kemenangan bagi Eropa.

Bayangkan bila Le Pen yang menang, hampir dapat dipastikan terjadi kiamat bagi Uni Eropa. Bila Prancis keluar dari Zona Euro, seperti yang dijanjikan Le Pen, akan menyebabkan jatuhnya Euro. Dan berikutnya akan terjadi efek domino, pasar umum Uni Eropa dan institusi inti lainnya pun akan turut jatuh. Eropa akan luluh lantak, dan 60 tahun kemajuan politik, ekonomi, dan sosial akan hilang. Dalam skema Perang Asimetris, Le Pen adalah sebuah senjata pamungkas yang murah meriah guna menghancurkan Zona Euro.

Simak: Macron-Merkel Sepakat Mereformasi Eropa

Inilah arti penting dari kemenangan Macron. Dengan kemenangan suara telak 65,1% mengalahkan pesaingnya Marine Le Pen dari Front National, politisi garis keras yang mengusung isu-isu proteksionisme dan anti-imigran yang memperoleh 34,9% – menjadikan Macron satu-satunya politisi di luar partai tradisional utama Prancis sejak 1958 yang menjadi Presiden Prancis yang visioner. Berada di jalur tengah dan menjadi kanal baru bagi rakyat Prancis dan juga Eropa.

Kini menjadi tugas Macron dalam lima tahun kepemimpinannya untuk melawan perpecahan di Prancis dan menjamin persatuan negaranya, serta membela dan melindungi Eropa.

Baca Juga:  Uji Kelayakan di DPR, Marsekal Hadi Bicara Soal Perubahan Politik Global

Seperti diketahui nama Macron, belum pernah masuk bursa pemilu presiden, baru mencuat setahun terakhir. Macron berhasil memenangkan pemilu bukan hanya karena kebijakannya terhadap pasar bebas, reformasi pro-bisnis, serta janjinya untuk memperkuat Uni Eropa, tapi juga dengan pendekatannya terhadap persoalan sosial. Dimana Prancis masih menghadapi ancaman terorisme dan berkutat dengan pertumbuhan ekonominya yang stagnan, setelah adanya pemutusan kerja besar-besaran selama berpuluh-puluh tahun terakhir.

Baca: Menunggu Kebangkitan Uni Eropa

Prancis yang lemah secara ekonomi, dan tidak aman secara politik merupakan ancaman terhadap instabilitas politik dan ekonomi Eropa. Sebaliknya Prancis yang kuat dan percaya diri sangat diperlukan untuk menjaga stabilitas kelangsungan hidup jangka panjang UE sehingga tercapai sebuah konsensus baru antara Eropa Utara dan Selatan, yang dipimpin oleh Jerman dan Prancis.

Penulis: Agus Setiawan