Connect with us

Budaya / Seni

Lopis – Cerpen Em Ali Akbar

Published

on

lopis. (Foto Ilustrasi: NUSANTARANEWS.CO)

NUSANTARANEWS.CO – Namanya Mak Upek. Wajah tirus dengan banyak keriput adalah pemandangan yang tak bisa dipisahkan dari sosoknya. Juga talam bambu yang semakin hari semakin menghitam. Talam yang selalu ada di atas kepalanya ketika Mak Upek berkeliling di sepanjang dusun kami untuk menjajakan kue-kuenya. Bakwan, lopis, segoyang, peyek, dan kupok culet.

Mak Upek si Janda tua itu sudah sejak lama berkeliling setiap pagi di dusun kami. Bersama cucunya usia tujuh tahun masuk ke halaman demi halaman rumah menawarkan kue-kuenya pada sekelompok ibuk-ibuk yang duduk menunggu tukang sayur sembari mencari kutu. Jika berjumpa degan para bapak-bapak yang sedang enak menjamu segelas kopi di toko Macik Fizza, Mak Upek juga akan berheti untuk menawarkan kuenya. Begitu pula ketika berjumpa dengan anak-anak yang hendak pergi sekolah, ia tawarkan kue lopisnya yang manis yang terbuat dari pulut itu.

Dan aku selalu menjadi orang pertama yang sangat suka membeli kue lopis pada Mak Upek. Kue dengan bentuk segi tiga terbungkus daun pisang itu selalu saja menjadi sarapan pagi paling mewah bagiku, rasanya yang manis oleh kuah gula merah yang kental akan membuat air liur meledak-ledak, mengalir begitu saja di sepanjang tenggorokan. Meminta dengan segera sebungkus kue lopis masuk juga ke dalam mulut bersama kuahnya yang manis sebagai kewajiban yang harus dipenuhi. Dan kewajiban adalah dosa bila tak terpenuhi.

Mak Upek lalu memberikan sekeping kembalian lima ratusan padaku sembari tersenyum. Cucunya si Syamsul yang membungkus kue lopis ikut tersenyum. Senyum seorang anak yang selalu sejuk saat dipandang.

“Ini Jang, Kue lopis punya Kau!” ucap Mak Upek memberikan kue lopis yang baru saja dibungkus Syamsul. “Belajarlah yang rajin, lanjutkan sekolah kau hingga jadi orang pintar! Biar dapatlah Mak tenggok ada anak dusun sini yang jadi orang pandai. Orang besak!” gelak Mak Upek sembari berlalu dari hadapanku. Menyisakan aku sendiri, aku yang tak peduli pada ucapan terakhirnya sebelum berlalu, aku yang melangkah menuju sekolah.

Sekolah masih sepi ketika aku duduk di depan kelas sembari menikmati kue lopis Mak Upek dengan kuah gula merahnya yang manis dan kental. Mulutku penuh, rasa manis menyengat setiap dinding mulut, bersatu dengan air liur hingga menciptakan kenikmatan luar biasa, kenikmatan bagai hujan menumpahi setiap daratan dalam mulutku sampai berakhir pada ujung kerongkongan masuk melalui usus-usus dan berheti di sebuah ruangan berisi berbagai macam sisa pembuangan. Kenikmat itulah yang setiap pagi telah akrab dengan lidahku sebagai salam pembuka hari. Salam yang terbit bersama sinar matahari, atau sesekali terbit bersama hujan dan mendung yang menggantung.

Rasa manis dari kuah gula merah mengecap setiap sudut mulut, rasa memang tak pernah bohong. Dan rasa dari sebuah kesederhanaan dan keterpencilan adalah rasa yang paling hakiki, yang paling tulus menyentuh setiap orang. Seperti rasa dari lopis yang dibuat oleh tangan Mak Upek janda tua dusun kami yang keriput itu.

Dan sampai di situlah akhirnya semua cerita berubah. Sejak lidahku menikmati lopis terakhir di pagi itu, pagi-pagi selanjutnya tak kujumpai lagi Mak Upek dan cucunya serta talam bambu yang sudah menghitam di atas kepalanya.

Kabar burung yang aku dengar dari mulut ke mulut Mak Upek tak mampu lagi menjalankan bisnis kuenya karena hambatan ekonomi yang ketika akhir-akhir tahun seperti saat ini selalu menjadi masalah setiap orang dusun. Masalah yang kerap memaksa seorang ibu untuk mengeringkan nasi busuk lalu ditanak kembali untuk suami dan anaknya. Atau memaksa seorang ayah nekat mengubah profesinya menjadi penghadang jalan dengan parang tergenggam di tangan untuk mendapatkan rantai emas milik orang yang sedang sial nasibnya.

Intinya hambatan ekonomi akan selalu menjadi masalah untuk semua orang yang tinggal di sebuah dusun pedalaman. Orang-orang macam Mak Upek yang akhirnya harus menghentikan usahannya menjual kue setiap pagi bersama cucunya Syamsul itu.

Suatu pagi pernah aku disuruh emak untuk mengantarkan sebungkus kopi kepada Mak Upek, kopi itu adalah ganti dari kopi yang seminggu lalu emak pinjam dari Mak Upek untuk menyambut tamu ayah yang datang dari kota kabupaten. Setelah melewati tiga buah rumah panggung serta serumpun bambu yang tumbuh di samping jalan setapak sampailah aku di rumah Mak Upek. Di rumah yang lebih mirip gubuk itu kulihat Syamsul sedang sibuk dengan bambu kecil ditangannya berusaha menghidupkan tungku api. Mak Upek berdiri di sebelahnya memegang tampi membersihkan nasi busuk yang telah lama dijemur untuk lalu ditanaknya kembali. Aku berjalan menghampiri mereka.

Mak Upek tersenyum menyadari kedatanganku. Kuberikan sebungkus kopi yang emak titipkan sembari mengucapkan terimakasih.

“Sama-sama, Jang. Bilang ke mak kau, sama-sama. Duduk dulu, Jang. Duduk lah di sini.” Mak Upek membersihkan papan kayu di dekat tungku untuk mempersilahkan aku menempatinya.

Aku getir. Ada gemuruh dalam dadaku melihat wajah tirus keriput itu tersenyum. Wajah kebanyakan orang-orang dusun, wajah seorang janda yang hidup hanya berdua dengan cucu lelakinya.

“Ini minum dulu.” Hormat mak upek mempersilahkan. Secangkir air putih diletakkan oleh Syamsul di sampingku. Air putih yang baru saja ia ambil dari dalam gubuknya yang layu.

Aku terdiam sedangkan pikiranku terus berdebat. Apakah kabar burung itu benar? Aku menyimpulkan semua kebenarnya setelah melihat keadaan Mak Upek secara langsung. Keadaan yang sama dengan orang-orang dusunku. Pun keadaan yang sama yang menimpa orang tuaku.

“Maafkan Mak, Jang. Biasanya kalau kau ke sini ada la kue lopis yang mak hidangkan.” Senyumnya. Aku balas tersenyum. Sebuah kalimat yang membuat aku paham betul bahwa selama ini mak upek tahu bahwa aku adalah seorang yang sngat menyukai kue lopis dengan kuah gula merah kental yang ia buat.

“Ekonomi sekarang sulit. Pulut mahal, gula merah mahal. Sedangkan uang mak tak cukup untuk membeli semua bahan itu. Ekonomi sekarang sulit, Jang. Krisis kata Datok Haji kemaren tu.” Mak Upek tersenyum. Seperti itulah, hanya dengan senyum seperti itulah orang-orang kecil seperti Mak Upek yang hidup di  dusun pedalaman ini mampu menerima kenyataan. Berusaha untuk terus hidup dalam kenyataan itu, kenyataan bahwa untuk makan saja teramat sangat sulit untuk didapatkan. Kenyataan yang mengharuskan mereka untuk tetap tersenyum ramah dalam neraka yang lambat tapi pasti menyapa mereka dengan segala keangkuhannya.

Sedangkan aku hanya mampu membalas senyum Mak Upek dengan senyum yang lebih ramah sekedar untuk menghiburnya. Senyum terimakasih atas kue lopis dengan kuah kental  manis buatannya yang dulu setiap pagi selalu akrab denganku sebagai sahabat menyambut hari. Sebelum belenggu bernama ekonomi menghancurkan semuanya. Menghancurkan orang-orang dusun yang tersenyum persis Mak Upek yang hidup berdua bersama cucunya, Syamsul.

Selesai

Em Ali Akbar, lahir Mahasiswa Fakultas Ekonomi Ekonomi Bisnis Islam, Universitas Ibrahimy Sukorejo Situbondo, Jawa Timur. Karyanya berupa Cerpen dan Puisi dimuat di beberapa media lokal.

__________________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi (berdonasi*) karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resensi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: [email protected] atau [email protected]

 

Loading...

Terpopuler