Saling Tikam Berebut Laut Cina Selatan/Foto via Deutsche Welle (DW)
Saling Tikam Berebut Laut Cina Selatan/Foto via Deutsche Welle (DW)

NUSANTARANEWS.CO – Direktur Eksekutif Center Institute of Strategic Studies (CISS) M. Dahrin La Ode dalam papernya yang dipresentasikan Universitas Pertahanan (UNHAN) menyimpulkan bahwa Republik Rakyat Cina (RRC) terbukti sudah sejak lama berniat melakukan ekspansi wilayah di Laut Cina Selatan (LCS).

Tak hanya itu lanjut Dharin, Cina juga tengah merancang narasi besar untuk melakukan invasi negara-negara ASEAN. Strategi politik Cina ini dilakukan dalam rangka tuntutan “Leibensraum” atau living space untuk memenuhi kepentingan RRC, berupa kebutuhan makanan, air bersih, dan wilayah tempat tinggal makin tinggi.

Niat strategi pertahanan RRC di Aspak (Aplikasi Sarana, Prasarana dan Alat Kesehatan) didukung dengan kekuatan militer Laut, Udara, dan Darat Cina.

“Khusus di Indonesia, RRC memulainya dengan subversif kebudayaan dengan memanfaatkan pengaruh kekuatan ekonomi dan kekuatan politik warga kelompok ECI (Etnis Cina Indonesia) di Indonesia,” ungkap Dahrin yang juga penulis buku Etnis Cina Indonesia dalam Politik.

Dirinya menambahkan, contoh kekuatan militer RRC di Kalimantan jelas merupakan ancaman nyata bagi kedaulatan NKRI. Nilai kekuatan strahan (strategi pertahanan) RRC masuk di Kalimantan menggunakan kekuatan subversif isi kebudayaan universal dan wujud kebudayaan Prof. Koentjaraningrat yang diperankan kelompok ECI.

Kekuatan kebudayaan Cina masuk menyusup ke dalam budaya kelompok etnis Dayak melalui persahabatan dengan kelompok etnis Dayak, dengan slogan “Cina-Dayak bersaudara” atau “Dayak keturunan Cina”. Telah diketahui pula bahwa sasaran strahan pertama RRC di Indonesia untuk diinvasi adalah wilayah Kalimantan. Alasan strahan RRC itu didorong oleh kekayaan sumber daya alam yang besar di Kalimantan.

Editor: Romandhon

Komentar