Connect with us

Budaya / Seni

Lewat Megatruh, Cak Nun Kisahkan Keindahan WS Rendra

Published

on

megatruh, cak nun, keindahan ws rendra, rendra, nusantaranews

Budayawan Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun bercerita banyak hal tentang WS Rendra saat diskusi publik bertajuk Megatruh di Gedung Pusat Perfilman Usmar Ismail, Jl HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Kamis (7/11/2019). (Foto: NUSANTARANEWS.CO)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Budayawan Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun bercerita banyak hal tentang WS Rendra. Acara Rindu Rendra: Megatruh, Satu Dekade Mengenang Rendra membuat Cak Nun merasa sangat gembira.

“Acara Rindu Rendra adalah upaya melebarkan dan memperluas receiver keindahan. Negara ini sudah tidak memperdulikan keindahan, pembangunan tidak didasarkan pada keindahan,” kata Cak Nun saat diskusi publik bertajuk Megatruh di Gedung Pusat Perfilman Usmar Ismail, Jl HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Kamis (7/11/2019).

Diskusi publik tersebut merupakan salah satu rangkaian kegiatan Rindu Rendra: Megatruh, Satu Dekade Mengenang Rendra yang digelar Komunitas Burung Merak Rendra sejak 6-7 November 2019.

“Saya sangat senang sekali kali ini. Kalau Republik Indonesia tidak mengerti Rendra berarti tidak akan pernah mengingat Rendra. Ini negara tidak peduli pada keindahan, negara tidak punya faktor di dalam dirinya yang disebut kebudayaan,” ujar Cak Nun.

Cak Nun berkisah saat-saat dirinya menemani WS Rendra yang tengah sakit keras sepuluh tahun silam. “Aku mencintai dan percaya kepada Rendra karena aku menemani beliau berbulan-bulan sebelum meninggal, itu khusnul khatimah-nya luar biasa, begitu sungguh-sungguh,” kisahnya.

Kemudian, Cak Nun melanjutkan kisahnya kala dirinya berdua bersama WS Rendra menonton televisi. Dia mengaku sedih di mana kala itu sepertinya tidak ada orang yang mengingat dan mencari Rendra yang tengah sakit keras.

“Terus saya sedih, penguburan Mbah Surip kan di kompleks-nya Rendra, di Depok. Berjuta-juta orang, ratusan wartawan, pas waktu itu aku nonton (TV) sama Rendra, ya aku nangis. Itu semua (penguburan Mbah Surip) di kompleks Rendra di Depok, Bengkel Teater Rendra, tidak ada seorang pun yang bertanya di mana Rendra, padahal waktu itu Rendra sakit keras. Semua menyuguhkan prosesi penguburan Mbah Surip seperti keponakannya Nabi Ibrahim! Terus Rendra dibiarkan tergeletak dan tidak ada yang tahu satu pun di mana Rendra, apakah dia sakit atau tidak, nggak ada yang tahu kalau Rendra sakit dan saya menangis. Saya mencintai Rendra,” tutur Cak Nun.

Baca Juga:  Esensialisme Politik Sepanjang Masa, Sebuah Refleksi Menuju Pilkada serentak 2020

Malah, waktu itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bahkan tidak pernah berpidato khusus untuk mengucapkan belasungkawa saat WS Rendra meninggal dunia.

“Mbah Surip itu waktu meninggal, SBY pidato khusus untuk mengucapkan belasungkawa, dan kektika Rendra meninggal SBY tidak mengucapkan,” kenangnya.

Terlepas dari itu, WS Rendra di mata Cak Nun adalah sosok keindahan. “Rendra itu benar-benar manusia dia, dengan segala kesalahannya dia tidak pernah menutup-nutupi,” ucapnya.

“Saya melihat Rendra ini sebagai sebuah keindahan. Keindahan ini tidak pernah diurus oleh kurikulum, syariat agama dan birokrasi pemerintah. Rendra bukanlah kebenaran dan kebaikan melainkan keindahan. Dan keindahan lebih tinggi dari kebenaran dan kebaikan. Rendra adalah duta keindahan bangsa,” kata Cak Nun.

“Jadi saya tidak mau mengikat Rendra dengan pemerintahan dan negara. Mari hormati Rendra, mari nikmati keindahan Rendra dan jangan kotori dengan keduniaan-keduniaan yang konyol,” lanjutnya.

“Saya bersyukur hari ini ada acara Rendra. Saya tidak berharap pemerintah Indonesia, walau bagaimana apapun, mengingat Rendra. Kalau bisa nggak usah ingat Rendra, eman-eman Rendra pakai diingat oleh Indonesia. Rendra sangat mulia, Rendra sangat tinggi derajatnya dan dia sudah khusnul khatimah,” sebut Cak Nun. (eda/don)

Editor: Eriec Dieda

Terpopuler