Peristiwa

Lebih dari Lima Juta Anak di Indonesia Tidak Sekolah

Anak Indonesia (Ilustrasi)
Anak Indonesia (Ilustrasi)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Laporan terbaru Save the Children Internasional, Indonesia menempati peringkat ke-105 sebagai tempat terbaik untuk anak tumbuh. Indonesia belum berhasil dalam upaya untuk masuk ke dalam peringkat 100 besar negara terbaik untuk tempat anak bertumbuh.

Ini adalah tahun kedua Indonesia berperang melawan tingginya angka stunting, ketidaksetaraan dan jumlah anak yang tidak bersekolah, demikian laporan Save the Children yang dirilis bulan Juni ini.

Laporan berjudul The Many Faces of Exclusion ini membuat pengukuran negara-negara yang paling ramah anak dengan indikator terkait dengan perkawinan anak, kehamilan usia anak dan kematian bayi baru lahir. Tiga puluh enam persen anak Indonesia berusia di bawah lima tahun mengalami stunting, jumlah ini nyaris seperempat dari jumlah rata-rata stunting di Asia Timur dan Pasifik. Angka lain yang juga harus dicermati adalah bahwa 26 dari 1000 anak tidak bertahan hidup sampai ulang tahun ke-5 mereka, dan 14 persen anak usia sekolah tidak memiliki akses terhadap pendidikan.

Yayasan Sayangi Tunas Cilik, mitra Save the Children saat ini sedang mengkampanyekan Semua Anak Bisa Sekolah, sebagai upaya untuk meningkatkan jumlah anak yang mengakses sekolah di Indonesia, terutama dari kelompok miskin.

Baca Juga:  Kebakaran di Desa Larangan Tokol, Kapolsek Tlanakan Himbau Masyarakat Tak Membakar Sampah Sembarangan

Baca Juga:
Sekitar 9 Juta Anak Indonesia Stunting, Ini Sebuah Tragedi
Ternyata! Lebih dari Setengah Juta Anak Indonesia Tinggal di Panti Asuhan
Perbudakan Anak di Indonesia, Tanggung Jawab Siapa?

“Data kami mengatakan bahwa sekitar 1 dari 7 anak usia sekolah, putus sekolah atau sama sekali tidak pernah bersekolah. Hal ini menempatkan anak-anak tersebut di posisi yang sangat tidak baik, sebagai awal untuk memulai kehidupan mereka,” kata Selina Sumbung, Ketua Yayasan Sayangi Tunas Cilik dalam keterangan persnya, Kamis, 28 Juni 2018.

Lebih dari lima juta anak di Indonesia tidak bersekolah karena miskin, sementara hal lain yang mendorong krisis pendidikan ini adalah buruknya nutrisi di Indonesia dan masih tingginya angka stunting. Untuk anak-anak yang tinggal di daerah terpencil, akses terhadap pendidikan juga terhambat karena ketiadaan fasilitas untuk anak dengan disabilitas.

“Pendidikan adalah hak dasar untuk semua anak, terlepas dari kondisi mereka dilahirkan dan bertumbuh. Penting bagi semua anak untuk dapat bersekolah dan belajar, bermain dan berpartisipasi di dalam masyarakat,” demikian Selina menambahkan.

Baca Juga:  Kebakaran di Desa Larangan Tokol, Kapolsek Tlanakan Himbau Masyarakat Tak Membakar Sampah Sembarangan

Sementara itu Direktur Advokasi dan Kampanye YSTC, Tata Sudrajat menambahkan informasi bahwa YSTC mengajak kita semua untuk menjadi solusi dari permasalahan ini. “YSTC dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI baru saja meluncurkan kampanye Semua Anak Bisa Sekolah pada bulan Mei lalu, sebagai peringatan Hari Pendidikan Nasional. Kami berharap bersama-sama dengan semua komponen bangsa kita bisa mewujudkan pada tahun 2030, sehingga semua anak usia sekolah dapat mengenyam pendidikan yang gratis dan terjangkau, serta perlakuan yang setara untuk semua anak.”

Di dalam laporan Save the Children, Indonesia turun empat peringkat dari tahun sebelumnya, di End of Childhood Index. Indonesia berada di posisi 105, jauh tertinggal dibandingkan China (40), Thailand (85), Vietnam (96) dan Filipina (104). Ini adalah tahun kedua di mana laporan ini menyertakan indeks tersebut. Tahun ini Singapura dan Slovenia menduduki peringkat teratas, bersama dengan Norwegia, Swedia dan Finlandia sebagai negara lima besar yang paling ramah untuk anak. Delapan dari 10 negara dengan peringkat terburuk ada di Afrika Barat dan Tengah.

Baca Juga:  Kebakaran di Desa Larangan Tokol, Kapolsek Tlanakan Himbau Masyarakat Tak Membakar Sampah Sembarangan

Laporan ini juga menemukan beberapa hal antara lain, pertama, kesenjangan masih sangat tinggi di Indonesia, di mana anak-anak perempuan dari keluarga miskin 6 kali lipat kemungkinan melahirkan di usia anak dibandingkan anak perempuan dari keluarga kaya.

Kedua, lebih dari setengah dari anak-anak di seluruh dunia – sekitar 1,2 milyar – tinggal di daerah konflik, terancam karena kemiskinan atau diskriminasi terhadap anak perempuan.

Ketiga, lebih dari 1 miliar anak hidup di negara miskin; sedikitnya 240 juta anak hidup di negara yang terdampak konflik; dan lebih dari 575 juta anak perempuan hidup di negara yang masih sangat bias gender.

Keempat, hampir 153 juta anak hidup di 20 negara yang terdampak oleh tiga ancaman tersebut, termasuk diantaranya Sudan Selatan, Somalia, Yemen dan Afghanistan.

Editor: Romandhon

Ikuti berita terkini dari Nusantaranews di Google News, klik di sini.

Related Posts

1 of 3.050