Connect with us

Mancanegara

Lagi-lagi Komoditas Post Truth Mulai Menyerang Venezuela

Published

on

Yugoslavia di bombardir oleh AS 20 tahun lalu

Yugoslavia di bombardir oleh AS 20 tahun lalu. Foto:countercurrents.org

NUSANTARANEWS.CO – Lagi-lagi komoditas post truth mulai menyerang Venezuela. Amerika Serikat (AS) terus memproduksi opini permusuhan kepada negara-negara yang tidak sejalan dengan kepentingannya. Post truth telah mengubah realitas menjadi kebohongan. Dengan kata lain, AS kini menjadi sumber kebenaran yang harus diterima bila tidak ingin dikriminalisasi dan dimusuhi oleh dunia

Betapa tidak bila baru-baru ini Menteri Luar Negeri Kanada Chrystia Freeland menyatakan bahwa, “Maduro … menang melalui pemilihan yang curang dan memerintah dengan kediktatoran.” Pernyataan itu jelas-jelas kebohongan yang bertentangan dengan fakta dilapangan. Dunia internasional pun tahu bahwa Maduro terpilih menjadi Presiden Venezuela melalui pemilu yang demokratis dengan meraih 68% suara, sementara lawannya lawannya Henri Falcon hanya mendapat 21% suara.

Bahkan pernyataan Menlu Kanada tersebut bertentangan dengan laporan delegasi mereka sendiri yang termuat dalam National Post, yang menyatakan bahwa pemilu Venezuela berjalan dengan demokratis, aman dan tertib. Sesuai dengan laporan Pengamat internasional pemilihan umum Venezuela yang menyatakan bahwa hasil pemilihan sah dan tanpa tekanan. Kesimpulan itu kemudian dipertegas dengan Pengamat Pemilihan Amerika Latin (CEELA), yang mengatakan bahwa pemilihan itu bersih.

Namun semua fakta-fakta tersebut kini dianggap tidak ada. Disinformasi terhadap Presiden Maduro terus disebarluaskan oleh media mainstream peliharaan Washington. Bahkan tidak tanggung-tanggung AS dan Kanada pun kini mengakui Juan Guaido sebagai Presiden Venezuela yang sah. Komoditas post truth mulai dilancarkan secara global oleh media mainstream. Maduro kini telah di label sebagai diktator versi Washington.

Bulan Februari lalu, FAIR memposting laporan tentang bias ekstrem media mainstream tentang situasi di Venezuela, karena opini mereka hanya satu arah, yakni menjajakan kemauan Washington.

Baca Juga:  Dukungan Masyarakat di Mataraman Menguat, Gerindra Jatim Optimis Prabowo Menangi Pilpres 2019

Dalam sebuah wawancara televisi beberapa waktu lalu, Pompeo mengatakan bahwa Washington lebih menyukai transisi kekuasaan secara damai, tetapi tidak menutup kemungkinan “aksi militer mungkin dilakukan.” Hal tersebut dikatakan Pompeo setelah AS gagal menggulingkan Maduro.

Dengan kata lain, setelah opsi pertama mendudukkan Guaido tanpa darah menemui kegagalan, maka opsi kedua berupa pembunuhan massal dan kejahatan terhadap kemanusiaan oleh Presiden Maduro akan menjadi “komoditas” sebagai dalih untuk melakukan serangan ke negeri Simon Bolivar ini.

Eric Prince, pendiri kelompok tentara bayaran Blackwater, mengklaim siap mengirimkan 5000 tentara bayaran untuk menggulingkan pemerintah Venezuela yang terpilih secara demokratis dengan biaya US$ 40 juta.

Newsweek.com melaporkan bahwa dalam hitungan minggu atau hari, AS akan menyerang Venezuela. Akankah negara ini akan mengalami “kehancuran” yang sama seperti yang terjadi di Irak dan Libya. Di Irak, AS menyerang infrastruktur sipil, termasuk air dan makanan, dan membom rumah sakit, masjid, dan sekolah – sebuah taktik yang disempurnakan berdasarkan pengalaman membombardir Yugoslavia di masa Presiden Clinton. Apakah hal ini akan terulang di Venezuela? Bisa saja. Karena para pemimpin Militer Venezuela tidak dilatih di AS oleh Chavez tapi diberi pengajaran “Simón Bolivar” dan gagasannya tentang nasionalisme dan kedaulatan rakyat.

CBC News pada 2006 sempat melaporkan bahwa, “Chavez telah melatih 150.000 tentara cadangan, pria dan wanita dengan target 1 juta tentara cadangan terlatih sebagai Garda Nasional Venezuela. BBC pun melaporkan bahwa pada 2006, pasukan cadangan ini dilatih untuk perang gerilya dan membuat senjata dari bahan yang ada, kata pensiunan Laksamana Muda Luis Cabrera Aguirre.

Baru-baru ini, Presiden Maduro telah memerintahkan untuk menambah tentara cadangan Venezuela untuk melebihi satu juta personel. Menarik untuk melihat bagaimana AS melawan perang gerilya dengan sejuta orang Venezuela yang terinspirasi oleh ideologi Simon Bolivar. Caracas mungkin berakhir seperti Raqqa di Suriah atau Stalingrad setelah Operasi Barbarossa Nazi – tetapi seperti Rusia, mereka tidak akan menyerah sampai penjajah dikalahkan. (Agus Setiawan)

Baca Juga:  Ekonomi Nasional Melambat, Faisal Basri Minta Jokowi Tak Kambinghitamkan Investasi Asing

Loading...

Terpopuler