Connect with us

Opini

Kurban, Iman dan Nilai Kemanusiaan

Published

on

Tokoh Adat Masyarakat Desa Tuhehu, Ambon, Maluku menggendong hewan ternak sebagai Kurban. Foto: Dok. (Embong Salampessy/Antara

NUSANTARANEWS.CO – Satu September 2017 lalu tepatnya 10 Zulhijjah 1438 tahun Hijriyah, umat Islam diseluruh dunia memperingati momentum hari besar Islam yakni Hari Raya Idul Adha 1438 H/ 2017 M.  Hari Raya Idul Adha merupakan hari raya istimewa bagi umat Islam.

Sebab, hari raya tersebut melaksanakan dua ibadah agung yaitu ibadah haji dan ibadah kurban. Hari Raya Idul Adha merupakan ibadah tahunan dengan dimensi sosial kemasayarakatan yang sangat penting. Seperti dalam ibadah kurban.

Dalam ibadah kurban terdapat manifestasi ibadah vertikal dan horizontal. Secara vertikal, hubungan manusia dengan Allah SW yang sering disebut Habluminallah. Sementara secara Horizontal, hubungan manusia dengan sesama manusia yang disebut Habluminnannas. Ibadah kurban sejatinya melatih umat Islam untuk memperkuat keimanan, menebalkan rasa kemanusiaan, dan mempertajam kepekaan terhadap lingkungan sosial sekitar. Salah satu dari sekian banyak hikmah kurban yang bisa disampaikan kepada publik adalah nilai – nilai kemanusiaan.

Nilai-nilai kemanusiaan tersebut, tercermin dalam kisah Nabi Ibrahim Alaihi Salam (AS) dan putranya Nabi Ismail AS. Dalam kisah tersebut, Nabi Ibrahim AS mendapat perintah langsung dari Allah SWT untuk menyembelih putranya Nabi Ismail AS. Nabi Ibrahim AS pada waktu itu harus rela putranya disembelih oleh dirinya sendiri yang pada akhirnya juga Allah SWT mengganti Ismail dengan seekor domba. Arti kisah yang dialami oleh Nabi Ibrahim AS dan putranya mengajarkan sebuah pengorbanan atas dasar cinta yang dimiliki Nabi Ibrahim AS terhadap Allah SWT yang begitu besar dibanding cinta terhadap yang lainnya. Singkatnya, ibadah kurban mengingatkan pentingnya arti pengorbanan cinta terhadap sang Pecipta.

Jika merefleksikan kisah Nabi Ibrahim AS tersebut dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, maka realitas yang terjadi masih jauh dari perwujudan ibadah sosial seperti yang dijelaskan diatas. Nilai –nilai kemanusiaan yang terjadi saat masih bertentangan dengan Agama dan konsep memanusiakan manusia. seperti faktanya, kasus yang masih hangat sampai hari ini adalah kasus kekerasan terhadap etnis Rohingnya di Rakhine, Myanmar. Konflik di Rakhine, Myanmar merupakan kasus konflik sosial dan kemanusiaan. Baik masyarakat sipil, maupun militer, menjadi korban kekerasan fisik maupun psikis. Kasus konflik kemanusiaan tersebut sangat disayangkan terjadi.

Baca Juga:  Ansor Sumenep Berkurban

Sudah seharusnya konflik – konflik kemanusiaan seperti itu, harus segera diakhiri. . Sebab, mereka yang terlibat dalam konflik adalah sama- sama ciptaan dari sang Maha pencipta yang seharusnya saling mencintai dan mengasihi. Kecintaan terhadap Sang Maha pencipta harus menjadi pegangan utama dalam meredam konflik yang merusak nilai –nilai kemanusiaan. Oleh Sebab itu, momentum Hari Raya kurban sangatlah tepat dijadikan bahan renungan dan pelajaran bagi seluruh kaum muslimin khususnya dan umumnya masyarakat seluruh dunia untuk menerapkan nilai- nilai kemanusiaan yang lebih baik dalam kehidupan sosial.

Refleksi Hari Raya kurban juga tidak hanya pada nilai kemanusiaan saja. Tetapi, kurban juga mengajarkan nilai – nilai pengorbanan terhadap membela Negara dan Agama. Dalam konteks Indonesia, kaum muslimin harus siap berkorban demi kepentingan Negara. Dengan berkorban untuk kepentingan Negara berarti mempertebal keimanan terhadap Allah SWT mengutip dari kalimat mbah KH, Hasyim Asy’ari bahwa ’’Hubbul Wathon Minal Iman yang artinya Cinta Tanah Air Sebagian dari Iman”.

*Santoso, penulis adalah Mahasiswa S1, Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

__________________________________

Redaksi menerima kiriman berupa artikel Opini serta catatan lainnya baik ekonomi, politik, pendidikan, kesehatan dan agrowisata. Artikel bisa dikirimkan langsung melalui [email protected]

Loading...

Terpopuler