Connect with us

Budaya / Seni

Kurasakan Aroma Darah di Kotaku

Published

on

Aroma Darah by schizovampire

Aroma Darah by schizovampire

Puisi Rahmat Akbar

KURASAKAN AROMA DARAH DI KOTAKU

Kurasakan aroma darah di kotaku
Yang meruap ketika hujan datang
Kerisauan jalan di sarang perkara Tuhan
Ke mana lari pohon?
Ke mana tinggal akar?
Ke mana sembunyi embun?

Mari kita bersulang dengan waktu
Di sini pernah tinggal embun
Di sini pernah kita hisap daun
Dan di sini kita pernah menuai kesunyian

Maka waktu adalah gerak pilu
Yang diceritakan bersama masa lalu
Mereka bangun peradaban, mengepal jari mengatas namakan diri
Inilah lukisan alam yang penuh kubangan

Sering kali kita pesan bencana
Yang karam ditimba alam
Jangan pernah salahkan mengapa ini terjadi
Tapi tanyakan pada diri sendiri

Kotabaru, Agustus 2018

GURATAN LAUT

Aku adalah laut menderu
Meniti waktu yang terus berseteru
Menjadikannya kisah kelabu
Yang penuh dengan tanda abu-abu

Aku adalah laut
Serupa ombak yang terus larut
Lalu mereka menyeruput
Tanpa salam mereka santap, tidak pernah patut

Aku adalah laut, penuh guratan waktu
Dikirimnya serupa rengge, rempa atau lunta sebagai tempat menggadu
Menjadikannya resah tidak menentu
Untuk hidup di siang dan malam yang saling cemburu

Aku adalah laut
Memberi segala yang kau mau
Walau pun wajah dan ragaku
Pernah luka dalam bayang-bayang semu

Aku adalah laut
Membagikan kesedihan melalui ombak
Menumpahkan cerita kepada malam
Atau menulis kisah pada siang menderang

Aku adalah laut
Yang kau setubuhi dengan nafsu
Membiarkanmu mengguras habis isi perutku
Tapi tolong jagalah aku, seperti aku memberi segala yang kau mau

Kotabaru, Agustus 2018

MELABUH KASIH PADA GEMURUH OMBAK

Ini adalah sebuah kisah kita di masa kecil
Tentang rahim laut yang masih alami tidak pernah berhenti menyapa pantai
Pada garis hidup telah ada harapan membujur dengan kegundahan
Dan kau melabuhkan kasih pada gemuruh ombak

Baca Juga:  Mantan Komnas HAM Menduga Penganiayaan Ratna Sarumpeat Karena Ia Menyuarakan Aspirasi Rakyat

Pun tentang dirimu yang pergi memisahkan diri dari daratan
Kepada matahari kau selimuti hati dengan segumpal asa
Di setiap malamnya kau menggadu pada rengge jala dan lunta
Adakah untuk mereka yang kucinta akan terjaga

Melabuh kasih pada gemuruh ombak
Yang meretaskan buih-buih harapan menempatkan sejuta mimpi
Di tanah Saijaan ini

Kotabaru, 14 Februari 2018

Rahmat Akbar, kelahiran Kotabaru 04 Juli 1993 tepatnya di Kalimantan Selatan. Alamat tinggal Jalan Hasanuddin Rt. 06 Kelurahan Kotabaru Hilir. Puisinya (menggisi media Tribun Bali, Media Kalimantan, Koran Merapi), puisinya “Hitammu Di Tanahku” antologi puisi ASKS Ke 13 KALSEL 2016, puisinya di antologi “ Gemuruh1001 Kuda Padang Sabana, antologi puisi “ Empat Ekor Belatung Bersarang di Ubun-Ubunku, antologi puisi “Tadarus Puisi Kalsel 2017”, antologi puisi ASKS ke 14 KALSEL 2017, antologi puisi “Puputan Melawan Korupsi” Bali, antologi puisi “Hutan Hujan Tropis”, antologi puisi “Indonesia Lucu Jilid VI 2018, dll. Sekarang bekerja sebagai guru Bahasa Indonesia di SMA Garuda Kotabaru dan aktiv tergabung di komunitas Taman Sastra SMA Garuda Kotabaru. Akbar bisa disapa melalui email [email protected], fb: Kai.akbar

__________________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi (berdonasi*) karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resensi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: [email protected] atau [email protected]

Loading...

Terpopuler