Berita UtamaLintas NusaPolitikTerbaru

Kurang Dapat Posisi Strategis di Parpol, Partisipasi Perempuan Jatim di Parlemen Rendah

Kurang dapat posisi strategis di parpol, partisipasi perempuan Jatim di parlemen rendah.
Kurang dapat posisi strategis di parpol, partisipasi perempuan Jatim di parlemen rendah/Foto: Wakil ketua DPRD Jatim Anik Maslachah.

NUSANTARANEWS.CO, Surabaya – Wakil ketua DPRD Jatim Anik Maslachah mengatakan  minimnya keterlibatan perempuan dalam kancah politik di Jatim ada beberapa faktor. Hal pertama yang dilihatnya yakni kurangnya kesadaran partai politik terhadap pentingnya memberikan posisi strategis bagi perempuan.

Sekedar diketahui, saat ini kursi DPRD Jatim yang diduduki perempuan masih berada pada angka 18 persen dari total akumulasi 120 anggota.

Ia katakan, saat ini masih belum banyak partai politik yang menonjolkan peran perempuan sebagai salah satu elemen kepartaian.

“Tidak banyak partai yang memberikan posisi strategis untuk para perempuan sehingga ini akan berpengaruh kepada pemberian peluang untuk bisa berperan serta dalam hal hal pengambilan kebijakan strategis,” kata Anik yang juga Sekretaris PKB Jatim ini, Selasa (5/7).

Perempuan pertama di pimpinan DPRD Jatim ini mengatakan, keterwakilan perempuan di DPR harus diiringi dengan sebuah pengawalan dan perjuangan yang berporos pada gender yang bisa berkelanjutan dalam proses politik.

Baca Juga:  Urutan Ke-4 Hasil Survei di Jawa Timur, Golkar: Ini Pelecut Hadapi Pemilu 2024

Kurangnya kepercayaan dalam diri perempuan untuk bisa maju dan berpartisipasi dalam dunia politik, kata Anik, karena masih dipengaruhi oleh norma budaya dan masih melekatnya sistem budaya patriarki dalam kehidupan masyarakat.

Selanjutnya demi menarik minat keterlibatan perempuan dalam politik, partai hendaknya memberikan apresiasi lebih. Salah satunya dengan memberikan nomor urut cantik pada saat pencalonan. Hal tersebut akan berefek besar kepada tingginya elektabilitas sosok calon.

“Walaupun sistem pemilu itu mensyaratkan suara terbanyak bukan urutan. Namun masyarakat masih men-jutice bahwa caleg yang urutannya bagus menunjukkan keberadaannya penting di partai terkaui dipartai,” ujarnya.

Tidak hanya itu, mantan kader IPPNU Jatim ini menilai pola rekrutmen kepartaian yang masih timpang. Kebanyakan dari kader perempuan yang berpartisipasi di partai, tidak melalui kaderisasi yang terstruktur. Bahkan terkesan datang saat penggelaran pemilihan saja, yang mengakibatkan pencalegkannya cenderung tidak maksimal.

Lebih dari itu, peran serta partai dalam menarik kader perempuan harus dilebih genjot lagi, tidak hanya mementingkan pengisian kuota 30 persen caleg perempuan, agar dapat berkontestasi dalam pemilihan.

Baca Juga:  Sumur Minyak Ditemukan, Permahi Aceh Desak Pemprov dan BPMA Aceh Entas Kemiskinan

“Ada juga partai karena tidak mempunyai kader perempuan jadi asal comot. Karena ingin memenuhi undang-undang pemilu yang mensyaratkan wajib 30 persen ada caleg perempuan,” tandas mantan anggota dprd Sidoarjo ini. (Setya)

Related Posts

1 of 4.101