Connect with us

Puisi

Kupetik Kilau Matahari di Kota Makkah

Published

on

Posisi Matahari Akan Sejajar Dengan Kabah Mekkah (Ilustrasi)/Foto: blog UNIKOM
Posisi Matahari Akan Sejajar Dengan Kabah Mekkah (Ilustrasi)/Foto: blog UNIKOM

Puisi HM. Nasruddin Anshoriy Ch

KUPETIK KILAU MATAHARI DI KOTA MAKKAH

Kupetik kilau matahari di kota Makkah. Seusai tafakur di bening embun, seusai kupanjat taubat di langit semburat, seusai kusucikan hati pada kelopak bunga melati, kini saatnya kupetik kilau cahaya agar seluruh dada tak jadi gulita.

Kupeluk ka’bah tapi tangan tak sampai. Kubulatkan hati agar iman tak pergi. Kutemukan seisi dunia dan segenggam akhirat melewati jalan terjal godaan fana.

Tuhanku, aku tersungkur di depan pintu rumahMu. Sebab yang kugendong di atas punggungku ini hanya dosa. Juga kemunafikan yang selalu kusembunyikan rapat-rapat di dalam dada. Ajari hamba mencangkul langit untuk peristirahatan terakhir hamba.

Loading...

Betapa malu kusaksikan kilasan masa lalu di belakang punggungku yang penuh tipu dan nafsu. Lebih sampah dari sampah. Lautan comberan yang menyimpan bangkai kedunguan dalam ucapan, dalam pikiran dan dalam semua laku.

Di depan pintu rumahMu, masih ada sebutir doa yang tersisa dari lubuk kalbuku, yang kuucapkan dengan rasa malu: Tuhanku, jadikan aku menjadi janin di rahim Ibu, atau sebagai bayi yang bebas menangis di pangkuan perempuan terbaik yang pernah begitu tabah dan indah saat melahirkanku.

 

*HM. Nasruddin Anshoriy Ch atau biasa dipanggil Gus Nas mulai menulis puisi sejak masih SMP pada tahun 1979. Tahun 1983, puisinya yang mengritik Orde Baru sempat membuat heboh Indonesia dan melibatkan Emha Ainun Nadjib, HB. Jassin, Mochtar Lubis, WS. Rendra dan Sapardi Djoko Damono menulis komentarnya di berbagai koran nasional. Tahun 1984 mendirikan Lingkaran Sastra Pesantren dan Teater Sakral di Pesantren Tebuireng, Jombang. Pada tahun itu pula tulisannya berupa puisi, esai dan kolom mulai menghiasi halaman berbagai koran dan majalah nasional, seperti Horison, Prisma, Kompas, Sinar Harapan dll.

Baca Juga:  Rintihan Bunda Pertiwi untuk Gadis Pemuja Senja - Puisi Tedy Ndarung

Tahun 1987 menjadi Pembicara di Forum Puisi Indonesia di TIM dan Pembicara di Third’s South East Asian Writers Conference di National University of Singapore. Tahun 1991 puisinya berjudul Midnight Man terpilih sebagai puisi terbaik dalam New Voice of Asia dan dimuat di Majalah Solidarity, Philippines. Tahun 1995 meraih penghargaan sebagai penulis puisi terbaik versi pemirsa dalam rangka 50 Tahun Indonesia Merdeka yang diselenggarakan oleh ANTV dan Harian Republika.

Menulis sejumlah buku, antara lain berjudul Berjuang Dari Pinggir (LP3ES Jakarta), Kearifan Lingkungan Budaya Jawa (Obor Indonesia), Strategi Kebudayaan (Unibraw Press Malang), Bangsa Gagal (LKiS). Pernah menjadi peneliti sosial-budaya di LP3ES, P3M, dan peneliti lepas di LIPI. Menjadi konsultan manajemen. Menjadi Produser sejumlah film bersama Deddy Mizwar.

Sejak tahun 2004 memilih tinggal di puncak gunung yang dikepung oleh hutan jati di kawasan Pegunungan Sewu di Selatan makam Raja-Raja Jawa di Imogiri sebagai Pengasuh Pesan Trend Budaya Ilmu Giri. Tahun 2008 menggagas dan mendeklarasikan berdirinya Desa Kebangsaan di kawasan Pegunungan Sewu bersama sejumlah tokoh nasional. Tahun 2013 menjadi Pembicara Kunci pada World Culture Forum yang diselenggarakan Kemendikbud dan UNESCO di Bali.

Loading...

Terpopuler