Ekonomi

KSPI Menolak Hari Buruh Jadi Karnaval Pariwisata

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal menyatakan menolak hari buruh yang jatuh pada 1 Mei 2017 dijadikan karnaval pariwisata.

Menurut dia, peringatan hari buruh internasional atau May Day akan di peringati oleh 500 ribu atau setengah juta buruh se-Indonesia dalam bentuk aksi, bukan dalam bentuk karnaval pariwisata sebagaimana dianjurkan Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) M. Hanif Dhakiri.

“Mayday akan diperingati setengah juta buruh dalam bentuk aksi bukan dalam bentuk karnaval pariwisata sebagaimana dianjurkan Menaker,” ujar Iqbal di Hotel Mega Proklamasi, Jakarta, Jumat, 28 April 2017.

Said Iqbal mengatakan, pemikiran Mayday dalam bentuk aksi yang dapat menimbulkan stigma negatif adalah persepsi gagal paham sejarah.

Menurutnya pernyataan itu hanya pantas dikeluarkan dari ucapan pengusaha hitam yang ingin tetap mempertahankan upah murah, outsourcing, akses jaminan sosial yang terbatas akibat Peraturan Pemerintah (PP) yang bercita rasa pengusaha.

“Sejarah May Day adalah ketika ratusan buruh di Chicago abad 18 turun ke jalan menuntut keadilan dilaksanakan nya ‘triple day’ 8 jam kerja, 8 jam istirahat, 8 jam sosial,” kata Iqbal.

Baca Juga:  Resah Dananya Belum Kembali, Member Net89 Bersatu Bentuk GEMPUR NET89

Sedangkan di Indonesia, lanjut Iqbal, sekarang ini mayoritas buruh diberi upah murah dengan melaksanakan 12 jam kerja karena harus lembur, sistem outsourcing dan pemagangan yang melanggar UU. Kemudian jaminan pensiun yang hanya Rp 300 ribu per bulan untuk 15 tahun. Apabila melihat kondisi itu, Iqbal menilai ironis.

Jadi May Day is not holiday and is not tourism carnaval. Mayday adalah aksi massa buruh menyuarakan HOSJATUM.”

HOSJATUM adalah singkatan dari Hapus Out Sourcing dan pemagangan, Jaminan sosial: jaminan kesehatan gratis seluruh rakyat dan jaminan pensiun untuk buruh sama dengan PNS/TNI/Polri, serta Tolak Upah Murah : Cabut PP 78 /2015.

Untuk diketahui sebelumnya, Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) M Hanif Dhakiri berharap perayaan Hari Buruh Internasional atau May Day di Indonesia memiliki daya tarik pariwisata.

Perayaan buruh yang selama ini identik dengan aksi demonstrasi turun ke jalan dan terkesan negatif diubah menjadi sebuah perayaan semacam karnaval, sehingga citra pergerakan buruh lebih positif.

Baca Juga:  Terbongkar, Perbaikan Jalan Perbatasan Jember Lumajang Pakai Bahan Baku Kurang Layak

Pewarta: Richard Andika
Editor: Achmad Sulaiman

Related Posts

1 of 1.127