Connect with us

Hukum

Kronologi Lengkap Kasus Baiq Nuril Guru Honorer vs Kepala Sekolah di Mataram

Published

on

Baiq Nuril Guru Honorer di Mataram (Foto Dok. Kompas)

Kasus Baiq Nuril Guru Honorer di Mataram (Foto Dok. Kompas)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Kasus guru honoror bernama Baiq Nuril yang mendapat pelecehan seksual oleh seorang kepala sekolah di Mataram semakin runcing ketika Kejaksaan Agung memputuskan Baiq Nuril dihukum penjara atas pelanggaran UU ITE.  Berikut kronologi kasus Baiq Nuril?

Agustus 2012
Baiq Nuril, staf honorer di SMAN 7 Mataram Nusa Tenggara Barat, merekam pembicaraan telepon Muslim dengan dirinya yang diduga mengandung unsur asusila. Muslim merupakan Kepala Sekolah SMAN 7 Mataram.

Tahun 2014
Seorang rekan Baiq Nuril bernama Imam Mudawim meminjam telepon genggamnya dan menyalin rekaman pembicaraan Baiq Nuril dengan Muslim. Setelah disalin oleh Imam Mudawim, rekaman tersebut disebarkan dan seketika menyebar luas ke sejumlah guru maupun siswa.

Desember 2014
Muslim melaporkan Baiq Nuril ke kepolisian karena merasa namanya telah dicemarkan lewat rekaman tersebut.

27 Maret 2017
Baiq Nuril mendapatkan tuduhan atas dugaan tindak pidana mentransmisikan rekaman elektronik yang bermuatan kesusilaan, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), pasal 27 ayat (1), juncto pasal 45 ayat (1) dengan ancaman Pidana penjara paling lama enam tahun dan denda paling banyak Rp 1 Miliar. Sejak saat itu, Baiq Nuril resmi dipenjara sambil menjalani proses persidangan.

Loading...

14 Juni 2017
Pada sidang pengadilan di PN Mataram, Baiq Nuril dituntut oleh jaksa penuntut umum yakni Julianto, SH dan Ida Ayu Putu Camundi Dewi, SH dengan tuntutan pidana 6 bulan penjara dan denda sebesar Rp 500 juta subsider 3 bulan kurungan.

26 Juli 2017
Ketua Majelis Hakim PN Mataram NTB, Albertus Husada dalam sidang putusan Baiq Nuril yang digelar secara terbuka di Pengadilan Negeri Mataram menyatakan Baiq Nuril dinyatakan tidak bersalah, tidak melanggar Pasal 27 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Baca Juga:  DPRD Sumenep Desak Pemkab Selesaikan Pengelolaan Bangunan Mangkrak

26 September 2018
Putusan kasasi MA nomor 574K/PID.SUS/2018 mengabulkan permohonan kasasi dari Penuntut Umum pada Kejaksaan Negeri Mataram NTB dan membatalkan putusan PN Mataram sebelumnya yang memvonis bebas Baiq Nuril.

12 November 2018
Dalam putusan kasasi tersebut, Baiq Nuril dinyatakan terbukti bersalah melakukan tindak pidana Informasi Transaksi Elektronik (ITE) dan terancam pidana penjara 6 bulan kurungan serta denda Rp 500 juta. Apabila pidana denda tidak dibayar maka diganti dengan pidana kurungan selama 3 bulan.

Editor: Alya Karen

Loading...

Terpopuler