Budaya / SeniKhazanah

Kritikus Sastra: Pantun Masih Hidup Dalam Tradisi Masyarakat Indonesia

Maman S. Mahayana memaparkan meterinya pada Seminar Nasional dan Tasyakuran ke-6 Hari Puisi Indonesia dengan tema: Syair Kampung Gelam Terbakar (Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi): Representasi Toleransi Masyarakat Melayu, di Aula Pusat Dokumentasi HB Jassin, Jakarta, Kamis (26/7/2018). (FOTO: NUSANTARANEWS.CO/Achmad S)
Maman S. Mahayana memaparkan meterinya pada Seminar Nasional dan Tasyakuran ke-6 Hari Puisi Indonesia dengan tema: Syair Kampung Gelam Terbakar (Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi): Representasi Toleransi Masyarakat Melayu, di Aula Pusat Dokumentasi HB Jassin, Jakarta, Kamis (26/7/2018). (FOTO: NUSANTARANEWS.CO/Achmad S)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Kritikus Sastra, Maman S. Mahayana mengungkapkan, masyarakat nusantara sudah mengenal puisi sebelum Hindu datang. Puisi di zaman dulu dalam bentuk pantun yang hingga sekarang masih hidup di sejumlah daerah di Indonesia.

Tradisi berpantun terus berkembang seiring menyebarnya Hindu dan Budha. Laku berkesusastraan para pemuka agama Hindu dan Budha di Nusantara melebur dengan tradisi masyarakat setempat. Tradisi bersastra ini pun terus hidup berkembang setelah Islam masuk.

“Islam masuk memperkenalkan huruf arab, lahirlah tulisan jawi, pegon dan tulisan arab dalam bahasa lokal. Memperkenalkan kuga syair. Syair herasal dari bahasa Arab yang berarti mengetahui, merasa, dan mengarang syair,” kata Maman saat memaparkan meterinya pada Seminar Nasional dan Tasyakuran ke-6 Hari Puisi Indonesia dengan tema: Syair Kampung Gelam Terbakar (Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi): Representasi Toleransi Masyarakat Melayu, di Aula Pusat Dokumentasi HB Jassin, Jakarta, Kamis (26/7/2018).

Selanjutnya, kata Maman, ketika kolonialisme Belanda masuk ke Nusantara, tradisi bersastra di kalangan masyarakat mulai meredup. Hal tersebut terjadi lantaran Belanda berhasil membangun citra Belanda sebagai bangsa Barat yang maju dan menciptakan stigma terbelakang bagi bangsa dan budaya Timur.

Baca Juga:  Inilah Sejarah Yang Tidak Boleh Dilupakan Oleh Kita Semua

“Belanda memberlakukan aksara latin sambil membenamkam segala bentuk aksara dan tulisan yang sudah hidup dan berkembang di Nusantara. Penyeragaman huruf latin untuk bahasa melayu diikuti label buta huruf (niraksarawan) bagi mereka yang tidak dapat baca tulis latin,” jelasnya.

“Belanda juga melakukan pembonsaian peranan ulama dan intelektual yang menulis dalam huruf pegon, kawi dan arab. Belanda di Indonesia tidak menyumbang apa-apa. Belanda hanya membangun citra Belanda sebagai bangsa yang maju dan negara yang murah hati,” imbuh Maman, tegas.

Namun demikian, kata Maman, faktanya pantun, syair dan sastra lama masih hidup hingga sekarang. Itu semua tanpa sadar hidup dalam diri masing-masing penyair hingga sekarang. “Jadi tidak mati pantun itu. Di seluruh nusantara, pantun itu ada,” ujarnya.

Penulisan Syair.

Maman juga menyampaikan, penulisan syair dalam huruf latin terjadi di surat-surat kabar dan majalah di pulau Jawa, terutama di Batavia. Heruf pegon, jawi (arab melayu) dan arab seperti tersembunyi, tumbuh, berkembang dan bertahan di beberapa daerah dan pesantren-pesantren.

Baca Juga:  Peusaba Mengutuk Keras Penghancuran Situs Makam Samudera Pasai di Kawasan Lhokseumawe

“Cara menarik peminat pembaca, pantun atau syair dalam terbitan majalah ditaruh di halaman depan. Bahkan, dalam setiap terbitan dimuat syair. Itu menunjukkan betapa pentingnya syair di nusantara,” kata Maman.

Bentuk karya sastra yang ditulis oleh Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi bisa sebagai benang merah dari Raja Ali Haji pada generasi sesudahnya. Yang mana, di dalam syair Munsyi terdapat sejarah. “Syair Abdul Karim Munsyi juga menjadi medium perlawanan sekaligus sebagai catatan sejarah,” kata Maman.

Pewarta: Achmad S.
Editor: M. Yahya Suprabana

Ikuti berita terkini dari Nusantaranews di Google News, klik di sini.

Related Posts

1 of 3,161