Connect with us

Politik

Kritik Keras Terhadap Imam Aziz yang Menilai Film G30S/PKI Film Horor Murahan

Published

on

Pengkhianatan G30S PKI/Poster: wikipedia

NusantaraNews.co, Jakarta – Film G30S/PKI garapan Sineas Termasyhur Indonesia Arifin C Noor akan diputar lagi pada tanggal 1 Oktober 2017 nanti. Pemutaran film ini mulanya hanya di internal TNI Angkatan Darat yang intruksinya langsung dari Panglima TNI Gatot Nurmantyo.

Praktis, rencana pemutaran film yang dinilai penuh propaganda itu langsung menjadi konsumsi publik paling renyah. Mengingat isu tentang PKI begitu sensitif hinggi kini untuk dibicarakan. Komentar sejumlah tokoh pun beragam, ada yang setuju dan tentu saja ada yang menolak dengan argementasinya masing-masing.

Dukungan atas pemutaran film dokumenter yang sempat ditayangkan di TVRI setiap tahun itu direspon baik oleh Presiden Joko Widodo. Bahkan, Jokowi mengusulkan, supaya dibikin film serupa untuk segmen generasi mellenial.

Sementara kritik terhadap rencana pemutaran film itu salah satunya diberikan oleh Ketua Bidang Kebudayaan dan Hubungan antar-Umat Beragama PBNU Imam Aziz. Kritik Iman Aziz lebih paca rencana TNI Angkatan Darat untuk memobilisasi masyarakat menonton kembali film Pengkhianatan G30S PKI. Menurut Imam, film yang menceritakan pembunuhan sadis sejumlah Jederal itu tak cocok diputar di era terbuka seperti saat ini.

“Itu film propaganda yang dipaksakan untuk membenarkan versi tentara tentang peristiwa 1965,” kata Imam kepada media, Ahad (17/9/2017) lalu.

Bagi Imam Aziz, film G30S bisa jadi itu efektif pada zaman Orde Baru yang serba tertutup. “Tapi kalau diputar sekarang, mungkin banyak yang akan tertawa terbahak-bahak,” kata Imam.

Imam menyebut film yang dibuat oleh sutradara Arifin C.Noer pada 1984 itu sebagai film horor murahan. Sebab, kata dia, semua sudah terbuka siapa dalang gerakan yang menyebabkan terbunuhnya tujuh jenderal TNI AD tersebut. Begitu juga dengan peristiwa lanjutannya di mana ratusan ribu bahkan jutaan orang yang dianggap anggota dan simpatisan PKI menjadi korban. “Semua sudah enggak rahasia lagi,” kata dia.

Baca Juga:  Arvin Hakim Thoha: Ahok Gendeng!

Komentar Imam Aziz tersebut rupanya menjadi sorotan sejumlah kalangan, termasuk dari pengurus PBNU sendiri yakni Djoko Edhi Abdurrahman selaku Wasek LPBH PBNU. Berikut ini kritik Djoko Wdhi yang Mantan Direktur Litbang Studio 41 sekaligus Mantan Anggota Komisi III DPR terhadap komentar Imam Aziz:

Imam Aziz tak Pernah Bikin Film

Saya ada di Studio 41 Tendean Jakarta waktu film “G 30 S /PKI” dibuat oleh Arifin C Noor. Saya sempat menjadi Direktur Litbang Studio 41 sampai Dirut Studio 42 Mas Edy meninggal tahun 2000. Dan Direktur Perum Pusat Film Negara (PPFN) G. Dwipayana juga meninggal. Saya Wakil Sekretaris LPBH PBNU saat ini, tapi belum pernah dengar karir maupun kompetensi Imam Azis yang di PBNU mengurus kebudayaan, yang kemarin menyatakan film “G 30 S/ PKI” film sampah. Apalagi bikin film. PBNU sendiri belum pernah bikin film yang sutradaranya dari PBNU.

Saya baca Imam Azis yang juga di PBNU, mencaci maki film “G 30 S / PKI” yang disutradarai Cineas Arifin C Noor sebagai film horor murahan di seantero medsos. Bukan budayawan, bukan film maker, bukan cineas, mencaci maki karya orang lain. Bagaimana membacanya ini bro Imam?

Studio 41 dan film G 30 S / PKI

Film G 30 S / PKI dirilis tahun 1984. Produsernya adalah PPFN (Perum Pusat Film Negara). Pelaksana produksinya adalah Studio 41, Tendean Jakarta Selatan.
Tak kurang selama setahun riset dan hunting location dilakukan Mas Edy CS dan Arifin C Noor untuk menyusun naskahnya, skenario dan story board dengan metodologi jumping shoot. Bersama dengan film “G 30 S / PKI” juga dibuat film “Jakarta 66”. Entah jadi apa Imam Azis waktu itu. Salah-salah baru mengaji kitab gundul. Belum nyampe ke kebudayaan, apalagi bahasa kamera.

Studio 41 adalah studio pertama di Indonesia, didirikan oleh G Dwipayana, penulis naskah film “Si Unyil” yang juga Asisten Menteri Sekretariat Negara. Studio 41 adalah satu-satunya studio film (yang belakangan terkenal dengan Production House). IKJ (Institut Kesenian Jakarta), TIM diinisiasi dari Studio 41, dan tempat praktikum anak-anak IKJ.

Kamera Celluloid

Film “G 30 S / PKI” dibuat dengan kamera celluloid. Untuk memakai kamera ini, kameramen, sutradara, penulis skenario, harus paham bahasa kamera. Edit tak bisa dilakukan di Indonesia, umumnya di Ad Lab, Australia atau Hongkong. Mahal sekali. Edit linier baru bisa dilakukan setelah PPFN membeli komputer Imix Family tahun 1990 an, bersistem mainframe. Operatornya terhitung dengan jari, hanya ada di Studio 41.

Bicara kualitas gambar, hasil celluloid jauh di atas kualitas digital sampai kini, karena sejumlah teknik celluloid tak dimiliki kamera beta maupun kamera digital. Juga penyusunan gambar yang kini tak menggunakan story board, sementara di Hollywood, story board masih prasyarat wajib hingga kini, bahkan untuk jenis skenario teleplay.

Arifin C Noor

Cineas terkemuka saat itu adalah Arifin C Noor. Karyanya sangat termashur. Arifin juga penulis naskah teater, antara lain, “Umang-Umang”, “Sumur Tanpa Dasar”, keduanya menduduki juara naskah nasional.

Demikian mashurnya Arifin, sehingga Noorca Marendra Massardi mengganti namanya menjadi Noorca Marendra Massardi. Noorca berasal dari C Noor, sedang Marendra berasal dari Rendra. Sedang nama aslinya sendiri adalah Mas Ardi. Noorca adalah 9 kali menjadi Pimred, terakhir Pimred Majalah Forum Keadilan di mana saya jadi Kapusdata Majalah Forum. Arifin C Noor adalah sutradara pertama yang melakukan pengambilan gambar tanpa skenario dan story board di Indonesia. Karena itu, ia dijuluki cineas jenius. Dan nama Arifin C Noor peringkat teratas, baik wibawa, karya seni, maupun wawasan kebudayaan. Lainnya di bawah dia.

Ketika hari-hari ini karya Arifin C Noor dicaci maki sebagai sampah dan horror oleh budayawan PBNU Imam Azis, sudah pasti budayawan ini, tak paham karya cinema. Niscaya Imam lilu, juga ketika menonton film “Gladiator”. Lo, di naskah teaternya Brutus menikam Julius Caesar 14 kali. Kok dicekik?

Belajar Sejarah

Kalau mau belajar sejarah, jangan dari film besar. Melainkan di dokumenter, buku sejarah. Bukan di film “G 30 S / PKI”. Ngawur berat. Film itu adalah film yang dibiayai oleh PPFN, berkisah tentang Presiden Soeharto. Versinya jelas PPFN. Tak lantas film ini sampah atau horror. Sampai kini, belum ada film sebaik karya Arifin C Noor itu.

Kalau merasa hebat, buatlah film yang lebih baik dari karya Arifin C Noor. Sampai matahari terbit dari Barat, niscaya takkan mampu. Kalau marah kepada Panglima TNI yang memutar film itu, caci maki saja Jenderal Gatot Nurmantio. Tak berani kan? Kurang nyalinya. LOL. Di mana salahnya film itu bro? Tolong tunjukkan kebenaran versi antum. Mana? (red02)

Baca Juga:  PBNU Bahas Konsolidasi Organisasi Sambut Abad Kedua Nahdlatul Ulama

Editor: Ach. Sulaiman

Loading...

Terpopuler