MancanegaraTerbaru

Krisis Korea, Jepang: Dialog Sudah Tidak Ada Artinya

NUSANTARANEWS.CO, New York – Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe menegaskan berdialog dengan Korea Utara adalah tindakan sia-sia saja. Menurutnya, Sidang Majelis Umum PBB harus membuahkan kesepakatan untuk memberikan tekanan sekeras-kerasnya kepada negara yang dipimpin Kim Jong-un karena sudah kelewat batas.

Abe mengatakan, negara-negara di dunia harus bersatu untuk memberlakukan sanksi dan memberikan tekanan kepada Korea Utara agar mereka menghentikan program nuklir dan misilnya.

“Saat ini bukan saatnya lagi untuk berdialog. Sekarang adalah saatnya untuk menerapkan tekanan,” kata Abe dalam sebuah pertemuan dengan investor di New York Stock Exchange seperti dikutip Reuters, Kamis (21/9).

Pada Selasa (19/9), Presiden AS Donald Trump dalam pidatonya di depan majelis PBB mengatakan jika terus melakukan ancaman AS akan menghancurkan negara tersebut secara total.

Baca Juga:  Usung Kader Internal, DPP Gerindra Condong Pilih Gus Fawait Cawagub Jatim 2024

Sikap AS, Jepang dan Korea Selatan sejalan menyikapi Korea Utara. Sebaliknya, Rusia dan China justru terkesan membela dan menegaskan sanksi bukanlah solusi untuk menghadapi Pyongyang, dan jalan satu-satunya adalah berdialog.

“Kami belum puas PBB telah menyetujui sanksi baru terhadap Korea Utara. Yang terpenting saat ini adalah memberlakukan sanksi tersebut secara nyata tanpa pandang bulu dan tentunya membutuhkan kerja sama dengan China dan Rusia,” kata Abe lagi.

Pada 11 September lalu, DK PBB dengan suara bulat meningkatkan sanksi terhadap Korea Utara atas uji coba nuklir keenam mereka. Sanksinya berupa pelarangan ekspor tekstil dan membantasi impor minyak mentah. China mundur dari sanksi ini, sementara Rusia mengecamnya.

Bagi Abe, upaya diplomatik untuk merayu Korea Utara menghentikan program nuklirnya telah gagal selama dua dekade belakangan. “Berdialog sudah tidak ada artinya,” tegasnya.

Krisis di Semenanjung Korea belakangan telah meminbulkan persaingan ketat antar AS, Jepang dan Korsel versus Rusia dan China. Artinya, jika perang meletus maka keenam negara sudah siap saling berhadapan untuk saling cabut nyawa di medan tempur. (ed)

Baca Juga:  Perlu Peningkatan Akhlak di Sekolah, Gus Fawait Prihatin Pelajar Tendang Nenek

(Editor: Eriec Dieda)

Related Posts

1 of 29