Politik

Konsep Revolusi Mental Jokowi Dinilai Lahirkan Karakter Lembek dan Cengeng

Jokowi menjajal sepeda motor hasil modifikasi Chopperland yang ia beli pada Sabtu (21/1) lalu seharga Rp 140 juta. (Foto: Setkab)
Jokowi menjajal sepeda motor hasil modifikasi Chopperland yang ia beli pada Sabtu (21/1) lalu seharga Rp 140 juta. (Foto: Setkab)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Tiga tahun kepemimpinan Joko Widodo, khususnya menyangkut revolusi mental tidak terlaksana dan tidak berdampak pada perubahan pola pikir dan pola tindak masyarakat.

Setelah menjadi presiden, tugas dan tanggung jawab Jokowi mengimplementasikan jargon Revolusi Mental dipercayakannya kepada Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) yang digawangi Puan Maharani, putri presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri.

Ketum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) tampaknya mencermati dengan teliti berjalan atau tidaknya jargon Revolusi Mental selama tiga tahun terakhir.

Baca juga: Tidak Nyambung; Jargonnya Revolusi Mental, yang Dibangun Infrastruktur Fisik

“Pemahaman konseptual yang terus harus digali, dikaji, dikembangkan. Termasuk bagaimana kok pembangunan kita lamban, kenapa karakter Indonesia kita lembek, kenapa karakter keumatan kita cengeng, kenapa karakter pemahaman keagamaan kita dangkal,” dikutip situs berita online VIVAnews, Jakarta, Jumat (20/4/2018).

Menurutnya, Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama muslim merupakan sebuah potensi besar. Sayang, besarnya jumlah penduduk muslim di tanah air malah cenderung tak mampu berkembang dengan cepat. Yang terjadi justru sebaliknya, tak sedikit umat muslim di tanah air malah merongrong Jokowi. Dan celakanya, ada sebagian lain justru menuding Jokowi pemimpin Indonesia yang anti Islam. Kendati menyambangi ulama-ulama di tanah air, namun tak tercermin dalam kebijakannya di level kekuasaan.

Baca Juga:  Inilah Sejarah Yang Tidak Boleh Dilupakan Oleh Kita Semua

Menurut Cak Imin, ini jelas ada sesuatu yang salah. “Sebenarnya tema yang diambil oleh Pak Jokowi dan pemerintahan yang kami dukung sejak 2014 adalah revolusi mental. Maka ada yang salah dalam pelaksanaan program revolusi mental ini,” ucapnya.

Baca juga: Revolusi Mental dan Sajian Keruntuhan Moral

Wakil Ketua MPR RI ini mengatakan sebetulnya tidak sulit-sulit benar mengimplementasikan jargon Revolusi Mental yang digembar-gemborkan Jokowi dulu di masa dirinya menghiba suara rakyat alias kampanye.

“Oke enggak apa-apa, kami tunggu saja, kami yang akan menyempurnakan, memperbaiki kelemahannya,” kata Cak Imin.

Cak Imin memandang, program Revolusi Mental dan Nawacita Jokowi tidak berjalan sebagaimana idealnya. Menurut dia, ada dua faktor penyebabnya. Pertama, kurang dikaitkan dengan basis ideologi yang dibangun Bung Karno yakni Marhaenisme. Dan kedua, umat Islam terbelah dan seolah-olah berhadapan dengan non Islam.

Selain Revolusi Mental, Mobil ESEMKA adalah isu jualan Jokowi pada Pilpres 2014 silam yang membuat publik terhipnotis. Nyatanya, mobil ESEMKA tak kunjung diproduksi, mangkrak dan entah di mana rimbanya. Seumpama kata pepatah, habis manis sepah dibuang, Jokowi kini malah sedang menggandrungi sebuah sepeda motor Royal Enfield Bullet 350cc bergaya chopper yang merupakan hasil modifikasi Chopperland dari bengkel Elders Garage. Jokowi membelinya seharga Rp 140 juta dari Rp 150 juta yang ditawarkan.

Baca Juga:  Kerahkan Seluruh Pendukungnya, Kader Gerindra Bojonegoro dan Tuban Berjibaku Menangkan Prabowo di Pilpres

Baca juga: Tak Jera Esemka Mangkrak, Jokowi Malah Sebut Motor Royal Enfield Produk Dalam Negeri

Tak hanya sekadar membeli, tetapi Jokowi juga berupaya mendorong produk lokal agar memiliki brand value yang lebih baik. Padahal, sepeda motor bergaya chopper tersebut bukanlah produk dalam negeri dan bukan pula karya anak bangsa seperti klaim Jokowi. Motor ini (Royal Enfield) merupakan buatan Inggris yang sekarang diproduksi di India. Adapun yang dibuat oleh builder Indonesia hanya customize di frame.

Kini, tampaknya mobil ESEMKA dan jargon Revolusi Mental mulai ditinggalkan Jokowi menyusul derasnya arus informasi dan komunikasi, terutama internet. Bersama Menteri Perindustrian sekaligus Ketum Golkar Airlangga Hartarto, Jokowi kini mulai ‘berjualan’ jargon Revolusi Industri 4.0 lantaran Pilpres 2019 semakin dekat. (red)

Editor: Eriec Dieda

Ikuti berita terkini dari Nusantaranews di Google News, klik di sini.

Related Posts

1 of 3,068