Connect with us

Hankam

Konsep “Indo-Pasifik” Memang Didisain Untuk Melawan Cina

Published

on

Indo-Pasifik

Kawasan Indo-Pasifik/Sumber gambar: GIS

NUSANTARANEWS.CO – Konsep Indo-Pasifik memang didisain untuk melawan Cina. Menteri luar negeri Rusia, Sergei Lavrov, menyebut konsep yang disebut “Indo-Pasifik” yang begitu populer di kalangan ahli strategi India adalah sebuah konsep yang secara artifisial dipaksakan dan dikondisikan untuk melawan Cina. Sama halnya dengan Aliansi Strategis Timur Tengah (MESA) atau lebih di kenal dengan “NATO Arab” yang memang dikondisikan untuk melawan Iran.

Mengikuti konsep Indo-Pasifik yang dikemukakan oleh Lavrov maka jelas terlihat bahwa konsep artifisial tersebut merupakan strategi Amerika Serikat (AS) untuk melawan Cina dengan menggunakan tangan India. Hal itu diperkuat dengan rencana penambahan komando pasifiknya dengan Komando Indo-Pasifik yang didukung oleh Armada Kedelapan. Dengan demikian AS dapat beroperasi lebih efektif di Samudra Hindia dan di Diego Garcia atau di suatu tempat di daratan Asia Selatan (Srilangka misalnya) dalam upaya membendung Cina – seperti halnya dulu membendung Uni Soviet di Era Perang Dingin (Cold War).

Dengan kata lain, AS dapat mendesentralisasi operasi kodam-kodam lautnya secara lebih efektif dan efisien. Armada Ketujuh yang bermarkas di Jepang bisa lebih konsentrasi menjalankan operasi maritim hingga meliputi separuh Samudra Hindia di selatan dan timur. Demikian pula Armada Kelima yang berbasis di Bahrain, tetap fokus bertanggung jawab di sekitar Semenanjung Arab. Sedangkan Armada Keenam yang bermarkas di Italia tidak harus melawat ke Afrika Timur seperti yang sudah-sudah – karena semua wilayah yang berada di sebelah timur Tanjung Harapan, tanggung jawabnya akan diambil alih oleh Armada Kedelapan.

Cina sendiri memang sangat bergantung kepada Samudra Hindia seperti halnya samudra Pasifik sebagai jalur perdagangan dengan Eropa dan Afrika. Jalur Samudra Hindia merupakan jalur vital Cina dalam memperoleh energi dari kawasan Timur Tengah – jadi tidak mengherankan bila AS sangat berkepentingan beroperasi di lautan ini. Bahkan menjadi prioritas.

Untuk itu, AS kemudian membangun kerjasama militer dengan India melalui perjanjian LEMOA 2016 – yang memungkinkan kedua belah pihak dapat saling menggunakan fasilitas satu sama lain sebagai mitra strategis. Mantan Menteri Luar Negeri AS, Rex Tillerson menggambarkan hubungan itu sebagai kemitraan abad ke-21.

Dengan demikian, AS dapat menjadikan India sebagai benteng utama untuk melawan Cina dan sekaligus berfungsi sebagai “Lead From Behind” Washington untuk menahan Cina. Nah, dalam rangka mempertahankan kemitraan ini maka diperlukan dukungan kerjasama multilateral, seperti melibatkan Jepang dan Australia – yang kemudian disebut “Quad” dan secara tidak resmi disebut “Hex” dengan partisipasi Vietnam dan Prancis.

Berkat dukungan AS, dan kerjasama yang mirip LEMOA dengan Perancis untuk saling menggunakan fasilitas militernya di Samudra Hindia, ibarat tumbuh sayap, telah memperluas jangkauan strategis India secara signifikan untuk memenuhi takdir geopolitiknya.

Dorongan strategis yang begitu kuat membuat India begitu bersemangat memainkan peran geopolitiknya. Betapa tidak, dengan kesepakatan India dan Indonesia untuk membangun pelabuhan strategis (pangkalan militer) di Sabang, tepatnya di kedua sisi pintu masuk timur ke Selat Malaka telah membuat muka Beijing “merah padam.” Cina langsung memberi peringatan bahwa setiap upaya militerisasi zona yang menghubungkan Samudera Hindia dan Laut Cina Selatan dapat memicu “perlombaan militer” regional.

Oleh karena itu, konstelasi Great Power yang didukung oleh AS sekarang sedang merangkak tumbuh ke seluruh penjuru Indo-Pasifik. Jakarta dan Tokyo tampaknya akan menjadi pemain inti dalam konsep geopolitik Indo-Pasifik versi Washington – dengan India sebagai pemimpin kawasan. Jadi konsep Indo-Pasifik AS jelas: bagaimana menjadikan India sebagai super power regional untuk menghadapi Cina. Dengan kata lain, proyek “INDO-PASIFIK” adalah strategi “konter skema” terhadap proyek OBOR Cina. (Agus Setiawan)

Terpopuler