Connect with us

Ekonomi

Kondisi Ekonomi Akhir 1997, Disebut Nyaris Sama Dengan Hari Ini

Published

on

Ilustrasi Kondisi Ekonomi Indonesia (Istimewa)

Ilustrasi Kondisi Ekonomi Indonesia Perbandingan Akhir Tahun 1997 Dengan Hari Ini (Istimewa)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Mencermati sejumlah indikator ekonomi Indonesia dewasa ini, ekonom kenamaan nasional, Rizal Ramli menyebut situasinya nyaris persis dengan akhir tahun 1997. Dirinya kemudian membuat sebuah perbandingan data untuk menganalisis nasib ekonomi nasional ke depan.

“Akhir tahun 1997, defisit transaksi berjalan (Indonesia) minus 4,89 milyar dolar. Hari ini minus 8 milyar dolar,” kata Rizal Ramli baru baru ini, (31/10) di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Kemudian lanjut Rizal Ramli, dibandingkan GDP (Gross Domestic Product) defisit transaksi berjalan akhir tahun 1997, hanya minus 2,2 persen. Hari ini kata dia, sudah tembus 3,4 persen.

“Nanti kuartal ke-III akhir, 3,9 persen. Inilah satu indikator yang paling penting yang digunakan oleh investor keuangan yaitu current account deficit. Kalau ini lebar, ini bahaya. Pasti dijual aset rupiah,” terangnya.

Baca Juga: Sejumlah Indikator Ini Menunjukkan Ekonomi Indonesia Kritis

Nah yang kedua, lanjut dia, “Neraca perdagangan akhir tahun 1997 positif (+) 0,41. Hari ini, minus (-) 3,02. Akomulatif dari sejak Januari sampai Agustus. Memang September naik sedikit, 220 juta dolar. Karena impornya berkurang. Tetapi secara akumulatif, masih lebih besar dari defisit,” ungkapnya.

Mantan Menteri Koordinator Bidang Ekonomi era Gus Dur itu menjelaskan, dari sisi inflasi memang saat ini dibandingkan dengan akhir tahun 1997 terbilang relatif lebih rendah. “Setengah(nya) dari akhir 1997.” Namun, “Rating serabutan sama, minus (-) kedua duanya.”

“Dalam waktu gak lama lagi, rating surat utang Indonesia mungkin akan di-downgrade satu level lagi. Ini perkiraan saya ya? Sebelum akhir tahun akan di-downgrade,” jelasnya.

Ia menyebut rating Indonesia akan turun dari Gross Domestic Product. Hal ini dipicu, karena kredit di Indonesia naiknya sangat tinggi. “Sudah sampai 159 untuk surat utang selama 10 tahun,” katanya.

“Jadi esensinya, akhir 1997 dengan kondisi hari ini nyaris sama lho!” tegasnya.

Baca Juga: Rizal Ramli Bocorkan Rahasia Ramalan Ekonominya yang Selalu Tepat

Apa yang men-trigger ekonomi Indonesia di tahun 1997 sehingga kacau balau? Rizal Ramli menjelaskan, “Memang bukan Indonesia. Tetapi Thailand. Karena Soros (George Soros) menganggap indikator makro Thailand lebih jelek dari pada Indonesia,” kata dia.

Rizal Ramli memberikan ilustrasi tentang ekonomi Indonesia akhir tahun 1997 dengan mengumpakannya dengan permainan bola biliar. “Nah, persis kaya orang main bola biliar. Dia hantam bola biliar, yang lain menghantam bola biliar Indonesia. Ternyata Indonesia ngedrob-nya paling down,” jelasnya.

“Jadi 1998, pemicunya bukan Indonesia. Pemicunya Thailand,” ujar dia.

Tapi karena badan kita juga lemah pada waktu itu. Anti bodinya juga rendah. Maka kata Rizal Ramli, “Kena virus dikit aja dibanding Thailand, kita hancurnya lebih tinggi dibandingkan Thailand.”

Mengenai hari ini, Rizal Ramli mengungkapkan, bahwa ‘virus’ yang akan mengancam ekonomi Indonesia belum tentu dari dalam negeri.

“Tapi badan kita sendiri lemah. Gampang kena sakit. Ada virus valas fed kita sakit sebulan. Ada kejadian di Turki, kita sakit. Ada sebentar lagi di Itali, kita sakit. Karena anti bodi kita lemah.”

Baca Juga: Rizal Ramli: Jelek-Jelek Ternyata Trump Bekerja! Ada Kebalikannya, Tapi Kagak Kerja

Sebab kata Rizal Ramli, “Pemerintahannya (sekarang), tidak bekerja secara benar dalam beberapa tahun terakhir. Sehingga begitu ada virus, kita gampang sakit,” tandasnya.

Situasi inilah yang menurut analisis ekonomi dari Rizal Ramli dinilai rawan terhadap ancaman krisis ekonomi Indonesia ke depan.

Sebagai informasi, mengenai current account nasional tercatat sejak kuartal IV tahun 2011, neraca transaksi berjalan Indonesia tidak pernah mengalami surplus. Artinya sektor perdagangan (trade balance) tidak pernah untung. Sebaliknya, justru selalu menyedot devisa.

Pewarta: Adhon Emka
Editor: Romadhon

Advertisement

Terpopuler