Connect with us

Peristiwa

Komunitas Burung Merak Rendra Berikan Santunan Kepada Keluarga Korban 22 Mei

Published

on

Komunitas Burung Merak Rendra Berikan Santunan Kepada Keluarga Korban 22 Mei, nusantaranewsco

Komunitas Burung Merak Rendra menemui keluarga korban yang meninggal dunia dalam aksi 21-22 Mei lalu, Nur Warsito (Ayah Adam Nooryan) dalam rangka menyampaikan rasa belasungkawa dan rasa turut berduka cita serta memberikan santunan pada Senin (27/5). (Foto: Dok. NUSANTARANEWS.CO)

NUSANTARANEWS.CO, JakartaKomunitas Burung Merak Rendra menemui keluarga korban yang meninggal dunia dalam aksi 21-22 Mei lalu, dalam rangka menyampaikan rasa belasungkawa dan rasa turut berduka cita serta memberikan santunan pada Senin (27/5).

Kedua keluarga korban tersebut yakni keluarga M Harun Al Rasyid (15) yang tewas tertembak di dada dan keluarga Adam Nooryan (19) yang mengalami tiga luka tembakan di punggungnya.

Harun adalah warga Jalan Duri Mas Barat 1 RT.009/010 Nomor 81 Kelurahan Duri Kepa Kecamatan Kebon Jeruk. Sedangkan Adam Nooryan (19) merupakan warga Jalan Sawah Lio 2 Gang 3 Nomor 65 A, RT 006 RW 001 Jembatan Lima Tambora Jakarta Barat. Keduanya merupakan penonton yang menjadi korban, bahkan tak tahu-menahu soal aksi 21-22 Mei yang berakhir rusuh.

Adam sendir terkena tembakan dari arah belakang ketika mencoba menolong seseorang yang terjatuh di tengah kerumunan massa.

Ketua dan Pembina Komunitas Burung Merak Rendra, Selendang Sulaiman dan Clara Sinta ditemui langsung oleh keluarga korban di rumah masing-masing pada Senin sore.

Clara Sinta, yang merupakan putri penyair WS Rendra mengatakan kepada keluarga korban bahwa kehadiran Komunitas Burung Merak Rendra ke rumah duka murni untuk menyampaikan empati atas dasar kemanusiaan. Sekaligus memberikan dukungan moral kepada keluarga korban.

Di rumah duka almarhum Harun, mereka berbicara dari hati ke hati dengan keluarga almarhum perihal kronologi kematian Harun. Suasana haru masih terasa di dalam rumah keluarga Harun. Kakak perempuan Harun juga masih depresi akibat kematian adik kesayangannya itu.

Tak banyak yang disampaikan oleh kedua orang tua Harun. Keduanya hanya mohon didoakan semoga arwah almarhum Harun mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT. “Insyaallah, M Harun Al Rasyid mati syahid bapak dan ibu,” ucap Clara.

Sementara itu, di rumah duka almarhum Adam, Komunitas Burung Merak Rendra ditemui oleh Ayah dan sepupu korban. Sunandar menceritakan sebelum peristiwa nahas menimpa saudara sepupunya itu tidak memberi tahu keluarga. Kendati Adam sempat membuat WhatsApp Story mengenai keberadaan dirinya saat nonton aksi tersebut, tetapi Adam mengatur supaya keluarga tidak bisa melihat update-an WA story yang dibuatnya.

“Adam tidak memberi tahu kami semua kalau almarhum akan ke lokasi aksi 22 Mei 2019. Adam sempat membuat WA Story tentang perkembangan di lokasi aksi, tetapi semua keluarga dan kerabatnya dibuat pengaturan tidak bisa melihat isi WA Story Adam,” tutur Sunandar di rumah duka.

Komunitas Burung Merak Rendra Berikan Santunan Kepada Keluarga Korban 22 Mei, nusantara news

Komunitas Burung Merak Rendra menemui keluarga korban M Harun Al Rasyid (Ayah dan Ibu) yang meninggal dunia dalam aksi 21-22 Mei lalu, dalam rangka menyampaikan rasa belasungkawa dan rasa turut berduka cita serta memberikan santunan pada Senin (27/5). (Foto: Dok. NUSANTARANEWS.CO)

Ia mengungkapkan, isi WA strory Adam antara lain foto skeatboard (hobi Adam main skeatboard) dan perkembangan aksi di lokasi.

“Tragedi yang menimpa Adam terjadi di Masjid Al-Makmun, Petamburan. Waktu itu, Adam sempat menolong salah satu massa aksi yang jatuh. Ketika Adam menolongnya, ada peluru yang menembus pinggang Adam. Menurut cerita orang yang ditolong oleh Adam, Adam sempat bertanya kepada dia, apakah dia tidak apa-apa tanpa memedulikan peluru yang telah menembusi tubuh Adam sendiri sebelum akhirnya dibawa ke rumah sakit,” kisah SUnandar.

Sementara itu, ayah almarhum Adam, Nur Warsito menceritakan kehidupan sehari-hari putranya tersebut. “Adam sehari-hari aktif di organisasi Remaja Masjid, Karang Taruna, Komunitas Skeatboard dan almarhum juga Komunitas Barista,” kenang Warsito.

Warsito menceritakan, mulanya putranya itu hanya penasaran atas aksi 21-22 Mei yang ramai oleh massa. Bersama teman-temannya ia datang untuk menyaksikan aksi tersebut. Adam sempat pulang ke rumah jam 02:00 dini hari. Kemudian berangkat lagi karena diajak teman-temannya.

Jam 4 kurang 15 menit, lanjut Warsito, ibunya mengirimkan pesan WhattsApp kepada Adam mempertanyakan keberadaanya. “Adam menjawab singkat, ‘di sini’. Kemudian, jam 04:30 temannya memberi kabar bahwa Adam berada di Rumah Sakit Tarakan. Adam tertembak dalam posisi sedang menolong orang yang terjatuh di lokasi aksi di Petamburan,” kisah Warsito.

Tak hanya itu, Warsito juga menceritakan bahwa Adam sore hari itu sepulang kerja langsung tidur. Habis shalat Maghrib Adam sempat berbincang-bincang bersama dirinya. “Sempat saya becandain. Dia kerja sebagai barista belum ada sebulan sebenarnya. Tapi saya candain dia; ‘perasaan lama amat ya tidak gajian?,” kenang Warsito.

“‘Iya ayah, ini Adam juga nungguin. Adam ingin membelikan baju koko buat ayah, buat adik untuk dipakai lebaran nanti, jawab Adam gitu,” tutur sang Ayah meniru ucapan almarhum putranya tersebebut.

Warsito lanjut bercerita, usai shalat Isya dan tarawih, Adam masih tidur di rumah. Pukul 23:00 WIB juga masih tidur. Lalu, lanjutnya, sekira pukul 01:30 WIB Adam keluar untuk nongkrong bersama teman-temannya.

“Dan biasanya ia sepulang kerja justru tidak tidur. Tidurnya bisanya jam 00:00. Dan hari itu seperti biasanya Adam langsung tidur sepulang kerja,” tuturnya.

Warsito mengaku sempat melihat jenazah Adam. Menutur informasi yang diterimanya, Adam meninggal karena kena tembakan di tubuhnya. “Tidak ada bekas penganiayaan di tubuh Adam. Tembakan ada di punggung Adam sebelah kanan,” katanya.

“Yang membawa Adam ke rumah sakit adalah orang yang ditolong oleh Adam dan warga setempat dengan ambulance milik ICT. Kata yang ditolong oleh Adam seperti itu,” imbuh Warsito.

(ach/ed)

Editor: Eriec Dieda

Terpopuler