Puisi

Kita Sepasang yang Selalu Mesra; Puisi-puisi Cinta Al-Fian Dippahatang

NUSANTARANEWS.CO – Puisi “Kita Sepasang yang Selalu Mesra” karya Al-Fian Dippahatang akan menemani akhir pekan Anda. Selain puisi percintaan yang entah penuh asmara atau sekadar beramantisme dengan situasi, Anda lah yang akan memiliki kesan usai membacanya.   Selain itu, juga ada puisi “Melihat Foto Kekasih”, “Jika Engkau Jauh”, dan “Menunggu September”.

Kita Sepasang yang Selalu Mesra

Rindu ini tak gagal, sayang. Kita lepas dari siksaan setelah
berminggu-minggu dikurung. Ingatan kita tak bisa dipenjara,
tempat segala rahasia yang kita pegang ingin diledakkan.

Kita akan menceritakan pertemuan hari ini
bukan sisa-sisa pengharapan yang sia-sia dikatakan orang
tak punya peluang. Kita telah lapang menghirup semesta
basah melihat kita kekar keluar dari gudang yang sengaja dibakar.

Kita berhasil berjuang memangkas jarak dan mendekatkan lengan.
Tak terpisah membuat kita lebih berpikir menenangkan
perasaan yang berserah tidak hanya pada doa.
Kaki dan tangan kita lincah menghindar dari liang lubang.

Jalan itu ada di depan, sayang. Kita tutup liku dan luka
yang telah bunuh diri. Kita sepasang yang selalu mesra.

Melihat Foto Kekasih

Pagi ini aku gemetar melihat foto kekasih.
Saat kepalaku dipadati pertanyaan-pertanyaan.
Seluruh ingatanku mengenai ruang tamu,
bioskop, kamar baca, dan kafe berkelabat.
Tempat yang kerap kukunjungi ketika kami
berjumpa hanya untuk bertukar mimpi.

Pagi ini aku gemetar melihat foto kekasih.
Jiwa seseorang tak akan tenang
jika mata pandang dihalangi dinding waktu.
Yang menghidupkan kami, kendati sesaat
hanya rencana yang jika salah arah
kami dilipat bencana dan hukum.

Jika Engkau Jauh

Setelah engkau isap darah dari kulit
di ujung telunjuk sebelah kirimu
yang tak sengaja tertusuk jarum.
Engkau yakin di kejauhan sana.
Seseorang mengalami sakit
dan menunggumu datang.

Kini kepalamu rebah di dadaku.
Dan aku terlibat merasakan getar jiwamu.
Tak bisa engkau tukar
waktu hari ini biar terjadi kemarin.
Melalui arahnya sendiri,
kita tak bisa menampik kepergiannya.

Engkau mengemas keperluan
yang bakal engkau kenakan.
Kuharap airmatamu yang mengering di bajuku.
Menjaga jarakmu di sini tetap dekat.
Kuupayakan tak lebur dengan peluh.

Berdiri aku di ambang pintu.
Tak kulepas tatapanku.
Engkau kuselipkan sedikit beban.
Jika engkau jauh.
Jangan betah di sana.
Aku menantimu.
Tinggalkan gulungan benang untukku.
Biar kujahit seluruh rindu.

Menunggu September
Buat: Anggun Aiko

Kenangan setahun lalu biarlah berlalu.
Bagimu yang kutafsir, engkau tahu
yang kutamatkan adalah membersihkan kebencian
dan melembutkan lidah.

Engkau tak berupaya memintaku
mengetuk ulang pintu kisah
yang kuncinya telah kuhancurkan palu.
Engkau bergelut pada jiwaku sekarang.

Lagu lama yang kerap kuputar.
Berganti menekuni sajak Amy Lowell
yang bertolak pada misteri,
membuatku memecah pendam.

Perasaan ini mengunjungimu
sambil menunggu September.
Sebab, dulu hanya jadi tamu
yang tak henti melawan gemuruh angin.

*Al-Fian Dippahatang, lahir di Bulukumba, Sulawesi Selatan 3 Desember 1994. Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia Universitas Hasanuddin angkatan 2014. Belajar sastra di Komunitas Lego-Lego dan Katakerja. Relawan dan pustakawan di Kamar Baca Pembatas Buku yang didirikannya di Makassar. Terbaik 1 Lomba Menulis Puisi Nasional Festival Sastra UGM 2016.  Tulisannya termuat dalam beberapa antologi: Ground Zero (2014), Kisaeng (2014), Jejak Sajak di Mahakam (2013), Kitab Cinta Kota Batik Dunia (2014), Negeri Laut: Dari Negeri Poci 6 (2015). Kini telah menerbitkan buku antologi puisi bersama, Benang Ingatan (Indie Book Corner, 2016). Twitter: @pentilmerah

Related Posts

1 of 143