Connect with us

Gaya Hidup

Kisah Sutradara Terbaik Golden Globes 2019, Alfonso Cuaron di Film “Roma”

Published

on

Alfonso Cuaron - Sutradara Terbaik Golden Globes 2019. (FOTO: Gatty Images)

Alfonso Cuaron – Sutradara Terbaik Golden Globes 2019. (FOTO: Gatty Images)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Pagelaran Karpet Merah Golden Globes 2019 di The Beverly Hilton, Beverly Hills, California, Amerika Serikat, Minggu (6/1) malam waktu setempat atau Senin (7/1) pagi waktu Indonesia telah usai. 25 Pemenang untuk semua kateguri telah diumumkan.

Sutradara film Roma, Alfonso Cuaron memenangi penghargaan Sutradara Terbaik. Harrison Ford mengumumkan pemenang kategori ini. Ia mengalahkan Bradley Cooper (A Star Is Born), Peter Farrelly (Green Book), Spike Lee (BlacKkKlansman), dan Adam McKay (Vice).

Baca Juga:

Cuaron berterima kasih kepada produser dan Netflix atas kemenangannya. Ia merasa ‘curang’ karena Roma sebenarnya menceritakan tentang dirinya sendiri. Seperti diketahui,, film ini bercerita tentang perjalanan pekerja domestik bernama Cleo.

Dalam sebuah wawancara khusus dengan CNNIndonesia.com, Alfonso Cuaron menuturkan bahwa, momentum Golden Globe Awards 2019 mungkin bukan yang pertama. Akan tetapi, tetap saja, melalui karyanya Roma, semua terasa lebih spesial.

Berkat karyanya yang berasal dari kenangan di masa kecil itu, sutradara asal Meksiko ini mendapatkan tiga nominasi di Golden Globe Awards 2019: Best Foreign Language Film, Best Director, dan Best Screenplay. “Oh saya sangat senang karena (pujian) itu menghasilkan reaksi-reaksi atas film tersebut kala film itu dirilis,” kata Cuaron melalui sambungan telepon, beberapa waktu lalu kepada CNNIndonesia.com.

Roma mendapat pujian saat rilis perdana 30 Agustus 2018 di Venice International Film Festival. Pujian semakin mengalir ketika film monokrom itu resmi rilis 21 November 2018.

Roma mengisahkan perjalanan seorang pekerja domestik bernama Cleodegaria Gutiérrez, atau yang biasa disebut Cleo (Yalitza Aparicio). Dirinya kerja dan tinggal bersama sebuah keluarga yang mengalami masalah rumah tangga. Nyonya majikannya yang bernama Sofia harus menghadapi kelakuan sang suami, Antonio, yang jarang pulang dan pemarah. Hingga suatu kali, Sofia menyadari Antonio memiliki wanita simpanan.

Cleo bukan hanya harus menghadapi kondisi emosional majikannya yang berantakan sembari mengurus empat anak-anaknya dan rumah yang besar, tetapi juga cerita cintanya yang nelangsa. Jatuh cinta pada pemuda bernama Fermin hingga menghasilkan jabang bayi dikira Cleo awalnya adalah berkat. Hingga kemudian, Fermin tak mau mengakui anak itu dan meninggalkannya sebagai beban bagi Cleo.

Cuaron menarasikan film itu dengan apik, sehingga film ini disebut-sebut sebagai karya paling personal sutradara 57 tahun tersebut. Film ini kemudian menghasilkan banyak penghargaan dan nominasi, seperti pada Golden Globe Awards 2019. Untuk Oscar 2019, sejauh ini, Roma masuk daftar pendek kategori Best Foreign Language Film. Dalam kategori Best Foreign Language Film Golden Globe Awards, Roma menjadi film kedua Cuaron yang masuk dalam kategori tersebut.

Simak:

Pada 2002, karyanya yang juga berbahasa Spanyol, Y Tu Mama Tambien mengantarkan dirinya masuk nominasi Golden Globe untuk pertama kali meskipun tak berhasil menyabet piala globe. “Saya sangat bahagia soal hal tersebut (nominasi) tapi saya juga sangat bahagia karena ini film Meksiko dan berbahasa Spanyol. Jadi saya juga sangat bahagia karena Golden Globe merayakan keberagaman dalam film dari budaya yang jauh berbeda dari mereka,” kata Cuaron.

Terkenang Sosok PRT

Cuaron mengungkapkan porsi spesial Roma yang membuat film ini bukan hanya sekadar karya apik secara sinematik, melainkan juga punya makna mendalam bagi dirinya. “Mungkin 90 persen dari materi (film ‘Roma’) datang dari kenangan saya akan Libo,” tutur Cuaron.

Libo adalah nama panggilan untuk Liboria Rodriguez, sosok pekerja rumah tangga yang pernah bekerja di keluarga Alfonso Cuaron saat dirinya masih anak-anak. Melalui kehidupan Libo yang terekam dalam kenangan Cuaron lah, ia tergerak melihat lebih dalam permasalahan di dunia pekerja domestik dan kehidupan di dalamnya.

“Libo merupakan inspirasi utama saya dari karakter si Cleo. Saya harus katakan banyak hal yang saya usahakan berasal dari ingatan saya sendiri. Dalam hal ini kenangan akan Libo. Orang ini, si Libo, tumbuh bersama dengan ikatan kasih sayang yang besar dan salah satu yang berpengaruh dalam hidup saya. Dan saya ingin, sebagai bentuk kepedulian saya, berbagi kenangan dan luka saya saat muda bersama-sama dengan masyarakat,” kata sutradara peraih Piala Oscar tersebut.

Cara Cuaron mengentalkan kenangan dalam Roma ialah mereplika semua hal yang terekam dalam masa lalunya di film ini. Mulai suasana, gambaran keluarga, hingga karakter dirinya sendiri. Ia mengaku set rumah yang digunakan dalam Roma adalah replika 70 persen dari rumah aslinya saat besar di Meksiko, termasuk furnitur dan perabotan yang digunakan. Hanya saja, ia sedikit memodifikasi pada bagian keluarga. Cuaron diketahui lahir sebagai tiga bersaudara dari seorang fisikawan nuklir rekrutan PBB.

Sedangkan dalam Roma, sosok kepala keluarga merupakan dokter yang kerap bepergian dinas ke berbagai tempat dan memiliki empat anak. “Saya meniru model keluarga saya kepada para aktor ini agar mirip dengan orang dalam situasi aslinya. Jadi sepertinya anak kedua yang paling mirip dengan karakter saya,” katanya.

Jadi Buah Bibir di Kampung Halaman

Rilis pertama, Roma tak hanya tuai pujian dari para kritikus, tetapi juga permintaan tayang dari banyak bioskop di Meksiko dan Amerika. Awalnya, Roma ditayangkan terbatas. Namun pembicaraan dari mulut ke mulut mendorong orang mencari ke bioskop. Sayangnya di Meksiko, Roma ditolak oleh jaringan bioskop raksasa karena ‘pundung’ film ini secara eksklusif dirilis oleh Netflix. Alhasil, bioskop independenlah yang untung dan mendorong bioskop independen lain ikut meminta hak menayangkan film ini.

Cuaron mengetahui betul kondisi itu dan tak terlalu terkejut. Cuaron mengatakan dirinya benar-benar sudah membuat film yang jadi buah bibir di kampung halamannya. “Nah di Meksiko punya situasi khusus, meskipun film ini dibuat secara universal, di Meksiko, orang Meksiko mereka memiliki referensi bacaan spesifik terkait film ini,” katanya menjelaskan kondisi ‘efek’ Roma di Meksiko.

“Di Meksiko ada banyak diskusi terkait ras, perlakuan terhadap pekerja rumah tangga, hubungan dengan pemerintah dan dengan kelompok penekan, jadi ini menjadi sebuah perbincangan yang besar,” lanjutnya.

Walaupun kisah utama film ini mengikuti kehidupan Cleo, namun Cuaron menempatkan kisahnya dalam pergolakan politik yang terjadi di Meksiko di awal dekade 1970-an. Termasuk kejutan bahwa kekasih Cleo adalah bagian dari penjarah dan penekan pemerintah. Tak hanya itu, ia pun menggambarkan kerumitan kehidupan masyarakat kelas menengah ke bawah kala itu, mulai dari urusan kesehatan hingga ekonomi.

Banyaknya hal detail dan personal dari kenangan Cuaron yang dituangkan dalam Roma membuatnya wajar bila membutuhkan waktu cukup panjang untuk mengonsep film ini secara utuh. Cuaron diketahui menghabiskan tiga tahun untuk menggarap film ini. “Wow (Roma) itu merupakan perbincangan yang panjang. Proses yang panjang. Ini hampir tiga tahun saya garap, kembali ke banyak ingatan lampau saya, jadi ini proses yang amat kompleks,” katanya.

Baca:

“Saya tidak yakin seorang sutradara bisa mengatakan mana yang dia lebih suka dalam sebuah film (karyanya) karena satu film dibangun dari momen-momen yang berbeda jadi pasti ada banyak banget (kejadian) lebih dari yang terlihat. Jadi ini lebih ke harapan membuat mereka (penonton) tersambung dengan cerita untuk menciptakan satu pengalaman sinematik tersendiri,” lanjut Cuaron.

Terlepas dari kerumitan proses pembuatannya, faktanya Roma banyak menuai penggemar baru, baik di Meksiko, Amerika Serikat, juga di Indonesia. Di akhir perbincangan, Alfonso Cuaron punya sedikit harapan khusus bagi penggemar Roma yang ada di Indonesia. “Ya saya berharap mereka bisa melihatnya, saya tak tahu apakah mereka bersamaan mendapatkan perilisannya namun saya rasa dengan pengalaman melihat Roma melalui platform ini bisa jadi pengalaman yang amat emosional.” kata Alfonso Cuaron.

Pewarta: Mugi Riskiana
Editor: M. Yahya Suprabana

Terpopuler