Kisah Muhammad Redha Supir Bajaj Asal Aceh Bertahan Hidup Ditengah Wabah Corona di Jakarta

Kisah Muhammad Redha Supir Bajaj Asal Aceh bertahan Hidup
Kisah Muhammad Redha Supir Bajaj Asal Aceh bertahan hidup di Jakarta di tengah pandemi corona. Foto Muhammad Redha pemuda asal Aceh menjadi supir bajaj di daerah Gambir, Jakarta, Senin (20/4).

NUSANTARANEWS.CO, Aceh – Kisah Muhammad Redha Supir Bajaj Asal Aceh bertahan Hidup ditengah wabah Corona di Jakarta. Muhammad berasal dari Gampong Kutablang, Lhokseumawe, Aceh. Dirinya berangkat mengadu nasib pergi merantau ke Jakarta setelah kehilangan kedua orang tuanya. Saat ini Muhammad berdomisili di Pondok Kopi, Jakarta.

Kesehariannya di kota metropolitan, Muhammad bekerja menjadi supir Bajaj di sekitar kawasan Gambir. Pekerjaan tersebut telah dilakoninya selama beberapa tahun belakangan ini sebagai mata pencaharian utamanya untuk bertahan hidup di Jakarta.

Tapi nasib baik mulai tidak berpihak kepadanya ketika penyebaran virus Corona menjangkiti masyarakat Jakarta sebagai Ibukota negara. Malah diperkirakan menjadi pusat penyebaran virus di tanah air. Jakarta kemudian ditetapkan oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan BNPB sebagai daerah Zona Merah dan digolongkan menjadi daerah berstatus darurat. Masyarakat dihimbau untuk menjaga jarak aman (Physical Distance).

Karena kondisi penyebaran dan jumlah korban semakin yang semakin meningkat maka Gubernur DKI Jakarta berinisiatif melakukan Pembatasan Sosial Skala Besar (PSBB) Kepada Menteri Kesehatan. Inisiatif tersebut kemudian disetujui oleh Menteri Kesehatan dengan menerbitkan Permenkes PSSB untuk DKI Jakarta.

Sampai saat ini Senin (20/04) jumlah pasien Covid19 masih terus bertambah. Berdasarkan data resmi coronajakarta.go.id hingga pagi hari ini tercatat pasien positif sebanyak 3.112 orang, meninggal 297 orang dan pasien yang sembuh 237 orang.

Hal tersebut sangat berdampak bagi seluruh sendi kehidupan masyarakat Jakarta, tak terkekuali bagi kehidupan mata pencarian Supir Bajaj. Begitulah kisah hidup para perantau di tanah orang.

Seperti Kata Pepatah “Pulang malu dan tidak pulang rindu”. Apalagi saat ketika tidak punya uang untuk pulang ke kampung halaman. Padahal bulan Ramadhan dan Hari Raya segera tiba.

Baca Juga:  Jokowi Disebut Lari dari Tanggung Jawab Soal Pemindahkan Ibu Kota

Muhammad Redha menyampaikan harapan kepada Nusantaranews.co melalui sambungan telepon seluler mengatakan bahwa dirinya saat ini sangat membutuhkan uluran tangan Pemerintah Aceh maupun Anggota DPR RI serta Masyarakat Aceh yang berkecukupan yang berada di Jakarta agar dapat membantu dirinya yang saat ini serba kekurangan. Bahkan untuk makan sehari-hari aja susah setengah mati.

Redha mengaku hidup sebatang kara di Jakarta dan tidak memiliki sanak keluarga. Sehingga dirinya sangat memohon bantuan pada masa darurat ini. Karena mengandalkan pekerjaan sebagai supir Bajaj pada saat darurat pandemi seperti ini sangat tidak mungkin untuk bertahan hidup di Jakarta.

Pemuda berusia 34 tahun ini memohon agar “curhatnya” ini dimuat agar para pemimpin yang ada di Jakarta dan Aceh membaca kisah hidupnya di Jakarta sampai saat ini.

Muhammad bercerita bahwa dirinya terpaksa merantau dan terkatung-katung karena sulit mendapatkan pekerjaan di Aceh. Muhammad mengeluh karena pemerintah Aceh “lalai” tidak dapat menyediakan lapangan pekerjaan untuk rakyatnya. Banyak putra Aceh yang akhirnya pergi merantau untuk merubah nasib ke luar daerah seperti dirinya, tuturnya prihatin.

Pemuda Aceh ini berharap ada dari pihak pemerintah atau orang Aceh yang dapat membantu dirinya serta saudara-saudara lainnya untuk dipulangkan ke Aceh. Muhammad mengaku siap dipulangkan ke Aceh mengikuti prosedur yang berlaku di tengah pandemi saat ini. (M2/ed. Banyu)