Connect with us

Hankam

Kisah Kapal Perang Rusia Buru Kapal Selam Inggris Sebelum Penyerangan Suriah

Published

on

Kapal selam kelas Kilo milik Angkatan Laut Rusia. (Foto: Istimewa)

NUSANTARANEWS.CO, Laut Tengah – Sebuah kapal selam milik Angkatan Laut Kerajaan Inggris (Royal Navy) diburu oleh kapal perang Rusia seumpama kucing dan tikus di kawasan Laut Mediterania timur, atau Laut Tengah.

Tak hanya kapal perang, lebih dari satu unit kapal selam serbu atau kapal selam pemburu (hunter-killer submarines) Rusia yang dijuluki Black Hole karena berjenis siluman, mengejar kapal selam kelas Astute milik Royal Navy selama beberapa hari.

Kisah perburuan ini buntut dari ketegangan yang meningkat antara Inggris dan Rusia menyusul keterlibatan angkatan udara Inggris (RAF) dalam rangkaian serangan udara terhadap Suriah dan juga kasus tewasnya mantan agen ganda Sergei Skripal di Salisbury. Kisah ini diungkap The Sunday Times.

Kapal selam kelas Kilo Rusia melacak keberadaan kapal selam Inggris tersebut karena menduga membawa rudal jelajah untuk mendekati area kawasan perairan Suriah sebelum kemudian melakukan serangan.

Baca juga:
Dua Kapal Selam Rusia Tembakkan 7 Misil Kalibr ke Basis Pertahanan ISIS di Suriah
Kolpino dan Veliky Navgorod, 2 Kapal Selam Rusia yang Dikirim ke Suriah
Armada Kapal Selam Rusia Umumkan Gunakan Jenis Torpedo Baru yang Canggih

Kilo adalah kode atau nama yang diberikan NATO untuk kapal selam jenis Project 877 Halibut milik angkatan laut Rusia. Moskow juga diketahui telah mengembangkan kapal selam kelas ini dengan versi yang lebih baru yang diberi nama Project 636 Varshavyanka. NATO menyebutnya Improved Kilo.

Lebih lanjut, dua kapal perang (Fregat) Rusia dan sebuah pesawat anti kapal selam juga dikatakan terlibat dalam upaya angkatan laut Rusia mencari dan memburu kapal selam milik Royal Navy tersebut.

Loading...

Sayang, pencarian dan perburuan Rusia tak membuahkan hasil. Nyatanya, Royal Navy memang tidak mengerahkan kapal selam ataupun kapal perang untuk melakukan serangan terhadap Suriah pada 14 April lalu.

Rusia berkepentingan memastikan dari posisi mana saja AS, Inggris dan Perancis melancarakn serangan ke Suriah. Rusia telah mengingatkan Presiden Donald Trump sebelumnya terkait posisi pasukan Rusia di negara beribukota Damaskus. Moskow juga mengancam akan melakukan serangan balasan apabila AS dan sekutu menyentuh pasukan Rusia di Suriah, yang diketahui bermarkas di pangkalan udara Hmeimim, Latakia dan pangkalan laut di Tartus, sebuah pelabuhan yang terletak di kota pesisir Mediterania, Suriah.

Tampaknya Rusia menggunakan pemberitaan media massa yang sebelumnya menyebutkan Royal Navy juga akan melancarkan serangan melalui kapal selam yang membawa sekitar 20 buah rudal jelajah Tomahawk.

Baca juga:
Skandal Kapal Selam Nuklir Rusia di India
Mengenali Kelebihan Kapal Selam KILO Rusia
Kapal Selam Siluman Kelas Varshavyanka Rusia

Ternyata, Inggris mengerahkan Angkatan Udara Britania Raya (RAF) untuk melakukan penyerangan. Setidaknya 4 unit jet tempur Tornado GR4 yang dipersenjatai rudal jejalah Storm Shadow dalam operasi bombardir Suriah. Selain itu, jet tempur Typhoon juga dikerahkan dalam misi tersebut. Jet-jet Inggris ini lepas landas dari pangkalan udara kerajaan Siprus di Mediterania Timur, RAF Akrotiri, namun tidak sampai mengudara di wilayah udara Suriah guna menghindari sistem pertahanan udara Damaskus.

Angkatan Laut AS juga disebut menerbangkan pesawat patroli di atas laut sekitar Mediterania untuk melacak kapal-kapal Rusia sekaligus melindungi sekutunya Inggris yang membantu AS menyerang Suriah.

Royal Navy diketahui telah lama menempatkan kapal selam Astute yang memiliki tenaga nuklir di Laut Mediterania sejak 2010. Inggris sendiri menghabiskan anggaran sekitar 1,2 miliar poundsterling. Ini merupakan sebuah upaya Inggris mengimbangi kekuatan kapal selam kelas Kilo Rusia yang diberdayakan oleh generator diesel dan mampu mencapai kecepatan tertinggi 20 knot.

Seperti diwartakan AS, Inggris dan Perancis menembakkan 105 buah rudal jelajah di Suriah pada 14 April. Serangan rudal ini menghancurkan fasilitas militer, termasuk Pusat Penelitian Ilmiah Suriah di distrik Barzeh, pinggiran Damaskus. (red)

Editor: Eriec Dieda

Terpopuler