InspirasiPolitik

Kisah Emosional Menaker Hanif Si Anak TKW di Hari Ibu

NUSANTARANEWS.CO – Ikatan batin antara ibu dengan anak atau anak dengan ibunya pastilah ada. Namun sejauh mana ikatan batin tersebut memberi getaran atau tegangan pada hidup, masing-masing orang mengalaminya secara berbeda.

Lantas bagaimana ikatan antara anak dengan sang ibu, dalam pengalaman seorang Menteri Ketenagakerjaan, H. Hanif Dakhiri?

Dalam moment Hari Ibu ke-88 tahun 2016, Menteri Hanif berjalan mundur ke sejarah hidup masa lalunya. Ia mengingat lagi, kesederhanaan hidup yang dilalui sewaktu muda. Bahkan, menurut cerita Hanif, sang ibu pernah menjadi seorang TKI selama 6 tahun di Arab Saudi.

“Kalau tentang Ibu, Ibu saya itu pernah jadi TKI. Jadi saya juga berasal dari keluarga yang sangat sederhana. Bahkan, tidak mudah untuk mencari uang untuk biaya sekolah,” kenang Hanif, saat ngobrol santai dengan Tim Humas Kementerian Ketenagkerjaan, Kamis, (22/12/2016).

Karenanya, ia merasa jabatan sebagai Menteri Ketenagakerjaan yang tengah diembannya laiknya keajaiban. Bahkan, jabatan itu pun memiliki keterikatan emosi dengan sosok sang Ibu. Tidak hanya itu, Hanif juga menuturkan bahwa dirinya memiliki pengalaman ketika salah satu anggota keluarganya sulit ditemui pada saat di tempat penampungan tenaga kerja.

Baca Juga:  Gabungan Kelompok Tani Pacitan Deklarasikan Prabowo Presiden

Lebih lanjut, Menteri kelahiran Semarang, 6 Juni 1972 ini mengisahkan, saat ditunjuk sebagai Menteri Ketenagkerjaan, Ibunya pun terharu dan tak menyangka,  putranya mampu menjadi pejabat tinggi di Indonesia. Padahal, dahulunya sang Ibu rela menjadi TKI demi membiayai kebutuhan hidup keluarga.

“Pas saya ditunjuk jadi Menteri, Ibu saya itu terharu. Pesannya pokoknya bekerja dengan jujur,” imbuhnya.

Pesan ini pun selalu dia ingat ketika menjabat sebagai Menteri Ketenagakerjaan. Bahkan, ikatan emosional masih terdapat pada diri Hanif pada saat ia mengurusi TKI pada berbagai kesempatan. “(Ikatan emosional) itu ada. Tapi yang penting saya bekerja untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” tuturnya.

Jadi, apapun yang ibu berikan kepada buah hatinya adalah yang terbaik. Senantiasa terbaik dan tak pernah terduakan. Karenanya, bagi Menteri Hanif, peringatan Hari Ibu di Indonesia mengandung makna yang lebih agung dari sekedar romantisme perayaan belaka. Bahkan, menurutnya, Hari Ibu bukan hanya diperuntukkan bagi para ibu dalam arti harfiah saja, melainkan juga untuk seluruh perempuan Indonesia. (Sule)

Related Posts

1 of 14