Connect with us

Mancanegara

Kisah Aung San Suu Kyi dan Kekejaman dalam Tragedi Rohingya

Published

on

Aung San Suu Kyi. Foto: BBC

NusantaraNews.co – Aung San Suu Kyi sendiri adalah korban dari militer yang berkuasa. Ayahnya suu kyi adalah pahlawan yang mati di bunuh oleh junta militer. Sekembalinya ke burma, suu kyi di bungkam mendapat tahanan rumah selama 15 tahun. Ketika Suu Kyi menang pemilu dengan kemenangan telak 82%, suu kyi tetap tidak diijinkan jadi presiden oleh otoriter militer.

Hari ini di tengah otoriter kekuatan militer yang sadis, jika berani bersuara sedikit saja, bisa di tembak mati seperti ayahnya. Pemilik senjata bisa melakukan segalanya. Dia bisa menciptakan islam yang keras, materiil yang keras, kristen yang keras sesukanya.

Lebih baik cek dulu myanmar hari ini berhubungan dengan negara mana, myanmar hari ini muncul presiden boneka yang mendukung jalur suteranya china, dan china paling berkuasa atas ekonominya myanmar.

Rohingya merupakan salah satu dari ratusan etnis yang ada di Myanmar. Rohingya adalah minoritas Muslim yang mendiami wilayah atau negeri Rakhine yang terletak di pesisir barat Myanmar.

Rakhine merupakan daerah yang kaya dengan sumber daya alam serta sangat strategis lokasi bagi kekuatan besar China. Kawasan ini telah melibatkan sejumlah besar investasi dari perusahaan-perusahaan besar China serta perusahaan-perusahaan asing yang lain seperti Korea Selatan, Thailand, India dan Singapura.

Loading...

China telah melibat 3 pasukan raksasa minyaknya yaitu Sinopec, PetroChina dan CNOOC untuk mengembangkan sebuah proyek yang bernilai 5 Milyar yaitu China-Myanmar Oil & Gas Pipelines yang dimulai di Pulau Kyaukpyu di Rakhine sepanjang 2,380 kilometer dan berakhir di Yunnan dan Chongqing.

Hasil dari proyek ini telah memberikan Myanmar sumber pendapatan yang berupa pembayaran biaya transit bagi penyaluran minyak dan gas ini sebesar 13,6 juta USD.

Baca Juga:  Bhiksu Dutavira Anggap Gugur Status Bhiksu yang Terlibat Kekerasan di Myanmar

Proyek ini begitu penting karena hingga kini lebih 80% sumber energi yang diperlukan oleh China adalah melalui Selat Malaka. Kondisi Selat Melaka yang sesat serta kegiatan bajak laut yang tinggi serta krisis geopolitik China dan US dia Laut China Selatan tidak memberikan jaminan yang kuat terhadap sumber energi China yang melalui ‘choke point’ tersibuk di dunia ini. Hasil dari proyek ini telah memberikan Myanmar sumber pendapatan yang berupa pembayaran biaya transit bagi penyaluran minyak dan gas ini sebesar 13,6 juta USD.

Saluran pipa minyak dan gas China-Myanmar ini mengandung daerah industri terpadu dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas dasar seperti bandara, depot penyimpanan serta pelabuhan laut dalam yang memudahkan China memindahkan sumber energi yang mayoritasnya di impor dari timur tengah.

Selanjutnya, proyek ini juga melibatkan penyaluran minyak dari ladang gas Shwe yang melibatkan sebuah konsorsium yang disertai oleh beberapa perusahaan minyak asing serta Myanmar.

Medan Gas Shwe telah melibatkan 6 buah perusahaan dari India, Korea Selatan, China dan Myanmar. Medan gas ini terbukti memiliki simpanan sebesar sekitar 9 triliun meter kubik. Medan minyak ini diurus oleh Myanmar Oil & Gas Enterprise (moge., sebuah perusahaan yang didirikan oleh junta militer dibawah Kementerian Energi Myanmar. Diperkirakan proyek ini memberikan return sebesar sekitar 800 juta USD sampai 3 Milyar setahun kepada junta.

China juga terlibat di dalam proyek pertambangan tembaga di Letpadaung yang terletak di wilayah Sagaing. Proyek ini telah melibatkan perusahaan raksasa milik elit veteran tentara, UMEHL di mana 13% dari keuntungan proyek ini akan disalurkan kepada UMEHL. Proyek ini mendapat protes yang kuat dari penduduk dan pihak militer terpaksa membubarkan protes yang dilakukan dengan kekerasan. Laporan dari Amnesty International juga menyatakan ada bukti pihak junta menggunakan bom asap yang mengandung fosfor untuk membubarkan demonstran.

Baca Juga:  Antusiasme Pengungsi Rohingya atas Bantuan Indonesia

Masyarakat Muslim Rohingya di Rakhine adalah antara pihak yang tidak puas dengan pemerintahan junta militer yang korup dan zalim terhadap rakyatnya. Proyek Sino-Myanmar Oil & Gas Pipelines yang harganya melebihi 5 Milyar telah menyebabkan ratusan ribu ekar tanah warga Rakhine diambil dengan pembayaran kompensasi yang sangat rendah. Ada laporan mengatakan pembayaran kepada pemilik tanah hanya sekitar 0.19 USD per per hektar tanah yang diganti.

Selanjutnya, akibat dari keterlibatan yang begitu banyak perusahaan yang dimiliki oleh elit veteran tentara di dalam proyek mega telah menyebabkan jutaan rakyat tidak mendapatkan hak yang seharusnya. Hal ini telah menyebabkan berbagai ketentuan tanggung jawab sosial perusahaan bagi perusahaan-perusahaan asing semuanya dibolot oleh junta dan pengembangan gagal dijalankan.

Ada juga laporan yang menyatakan beberapa kelompok militan Rohingya di wilayah Rakhine telah dilatih oleh Taliban untuk menentang pemerintahan zalim pihak junta militer. Ketidakstabilan yang terjadi terutama di daerah yang melibatkan aset dan kepentingan strategis China ini telah memberikan dampak yang besar kepada geostrategi China seperti proyek OBOR dan The New Maritime Silk Road. Selanjutnya, ketidakstabilan di Myanmar yang merupakan tetangga dari China mempengaruhi pembangunan China.

Ketidakstabilan yang terjadi di Myanmar juga mempengaruhi politik internal khususnya kepada pemerintah yang baru dibentuk oleh Aung San Suu Kyi. Ketidakstabilan ini memberikan indikasi bahwa demokrasi tidak menjamin stabilitas berikutnya pihak junta berhasil untuk memberitahu kepada dunia pemerintahan Suu Kyi telah gagal.

Krisis pembunuhan massal yang dilakukan terhadap etnis Rohingya ini juga salah satu cara bagaimana pihak junta militer mengalihkan perhatian dunia terhadap segala pelanggaran yang berbentuk korupsi, kronisme dan nepotisme yang kronis di negara tersebut

Baca Juga:  Gus Yaqut Ajak Agama Lain Protes Keras Atas Krisis Kemanusiaan di Myanmar

Kita tahu Gaza merupakan salah satu contoh pengepungan sistematis yang dilakukan oleh pemerintah terhadap sebuah entitas kecil yang berkerajaan sendiri serta dipilih rakyat secara demokrasi, di Myanmar kita juga bisa menyaksikan satu bentuk pengepungan sistematis serta pembunuhan demi pembunuhan dilakukan terhadap etnis Rohingya di sebuah daerah yang bernama Maung Daw yang lebih 80% adalah dihuni oleh etnis Rohingya.

Sumber: WAG (Dalam Konfirmasi)

Loading...

Terpopuler