Connect with us

Budaya / Seni

Ketua Umum PBNU: Di Bawah Kepentingan Tertentu Islam Bisa Jadi Cuma Komoditas

Published

on

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj. (FOTO: Istimewa)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengatakan pada dasarnya Islam adalah nilai-nilai universal. Kemudian turun menjadi doktrin ajaran, lalu melahirkan para pengikut atau komonitas. Dari komunitas, ia bisa turun lagi menjadi komoditas akibat kepentingan tertentu yang melingkupinya.

“Istilah ummatan Islamiyyatan justru tidak ada (dalam Al-Qur’an), tapi adanya ummatan wasathan,” kata Kiai Said saat membuka peluncuran dan diskusi buku NU Penjaga NKRI di Gedung PBNU Lantai 8, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Selasa (10/4/2018).

Menurutnya, di level komoditas inilah Islam rawan dipolitisasi dan diperjualbelikan. Nahdlatul Ulama, kata dia, berkomitmen akan mengatakan yang benar adalah benar dan sebaliknya.

“Berani menyuarakan apa adanya meski dengan risiko dimusui kelompok lain. Islam, katanya, mengenalkan konsep ummatan wasathan yang ia terjemahkan sebagai Islam yang moderat, moderat, dan beradab,” ujarnya.

Baca juga: Di Tahun Politik 2018, PBNU dan PP Muhammadiyah Sejalan

Di kesempatan sama, Romo Antonius Benny Susetyo mengatakan NU selalu hadir di mana-mana, tetapi tidak ke mana-mana. Orang NU bisa menyatu dengan segala lapisan. Dari situlah, lanjutnya, muncul relasi yang baik. Ada suatu kepercayaan yang wujudnya adalah masyarakat NU tidak membeda-bedakan.

“Di Sampit, Madura, misalnya, tidak pernah muncul stigma negatif atas bantuan Katolik. Warga di sana tidak menuduh adanya kristenisasi di balik itu. Dari fakta ini, ia menilai orang NU dalam beriman sudah melompat dari politik identitas menuju penghayatan kemanusiaan,” terangnya.

“Dari kemanusiaan itulah orang tidak lagi membedakan suku, identitas,” sambung Romo Benny.

Baca juga: Kembangkan Islam Moderat, PBNU Dukung Gerakan Putra Raja Salman

Di tengah kegersangan yang melanda negara ini, NU berdiri menjadi oase. NU menjadi penyejuk dengan merangkul semua elemen dan kalangan. Hal inilah yang menurut pria kelahiran Malang 50 tahun silam itu menjadi sebab NU sebagai pusat peradaban.

Baca Juga:  Rommy Sebut Prabowo-NU tak Ada Tautan, Pigai: Tesisnya Keliru dan tak Berdasar

Hadir pula dalam diskusi tersebut peneliti LIPI Amin Mudzakir, pengamat ekstremisme Imdadun Rahmat, dan politisi muda Tsamara Amany.

“Bangsa ini berutang terhadap NU,” kata alumnus Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Widya Sasana Malang itu.

Romo Benny menguraikan, setidaknya ada dua kesetiaan NU. Pertama, NU konsisten berpandangan bahwa NKRI adalah negara kebangsaan, bukan negara berdasar agama tertentu. Kedua, NU setia mengembalikan Pancasila kepada rel yang benar. Dari sinilah, NU selalu ada pada setiap krisis yang melanda bangsa ini. (red)

Editor: Eriec Dieda

Loading...

Terpopuler