Connect with us

Rubrika

Ketua Harian Matra: Kebudayaan Adalah Inti Pertahanan Semesta

Published

on

Ketua Harian Masyarakat Adat Nusantara (Matra) Syaifudin/Foto Dok. Pribadi/Nusantaranews
Ketua Harian Masyarakat Adat Nusantara (Matra) Syaifudin/Foto Dok. Pribadi/Nusantaranews

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Ketua Harian Masyarakat Adat Nusantara (Matra) Syaifudin menilai kondisi bangsa yang mengahadapi serangan kebudayaan, lebih rawan terhadap kehancuran dibanding sebuah bangsa yang diserang secara fisik. Jika sebuah bangsa diserang secara fisik, maka akan mudah mengkonsilidir kekuatan untuk menghadapinya.

“Keadaan seperti itu, kawan dan lawan sangat mudah dibedakan. Dalam papan perang tinggal hitung-hitungan alutsista, jumlah tentara dan juga kekuatan mobilisasi pasukan. Sementara dalam sebuah serangan budaya, hal-hal semacam itu nyaris tidak digunakan,” tulis Syaifudin kepada Nusantaranews di Jakarta, Selasa (14/2/2017).

Lebih lanjut, pria yang akrab dipanggil Udin ini menjelaskan bahwa serangan budaya adalah ruang-ruang imajinasi anak bangsa dengan target pergantian pola pikir dan paradigma.

“Peluru budaya diluncurkan, targetnya memotong paradigma budaya Nusantara. Menghormati leluhur, menjaga peninggalan baik berupa material ataupun sistem nilai dan upaya-upaya batin yang lazim dilakukan bangsa kita. Ini semua akan dipotong. Modusnya pengosongan dan pengisian ulang. Sehingga imajinasi kebudayaan anak bangsa kosong, maka diisilah dengan yang baru. Kebudayaan baru ini adalah buatan mereka yang memiliki kepentingan akan tercabutnya generasi bangsa dari akarnya,” sambung dia.

Saat ini, menurutnya serangan kebudayaan begitu terasa dan berlahan berdampak pada kekuatan pertahanan semesta. Menurut Udin, jika seseorang dicabut dari akar budayanya, maka dirinya akan menjadi pribadi yang lemah. Tidak memiliki kekuatan identitas dan semangat patriotisme.

Padahal lanjut dia, kekuatan budaya seseorang sangat mempengaruhi pada karakter kebangsaan. Saat karakter kebangsaan itu kuat, maka pertahanan bangsa secara otomatis menguat. Meskipun secara materiil pertahanan yaitu alusista secukupnya, namun jika karakter kebangsaannya kuat, maka pertahanan Indonesia akan kuat dan begitupun sebaliknya.

“Kita harus menyisir setiap titik negeri ini untuk menjaga paradigma budaya Nusantara. Budaya adalah salah satu unsur inti dari sishankamrata Indonesia,” tulisnya.

Saat ini, Matra sedang menggalakkan pembangunan organisasi dari pusat sampai daerah. Dengan harapan, dapat menjangkau semua lapisan masyarakat yang ingin terlibat dalam perjuangan ketahanan budaya.

“Kita akan ajak semua lapisan masyarakat, tanpa terkecuali. Ketahanan budaya adalah tanggung jawab kita semua, karena budaya adalah perisai yang melindungi kita dari sabang sampe merauke,” tutupnya.

Editor: Romandhon

Terpopuler