Connect with us

Kolom

Ketika Lokomotif Reformasi Dipersoalkan

Published

on

Amien Rais (Foto: Andika/Nusantaranews)

Amien Rais (Foto: Andika/Nusantaranews)

Oleh: Muhammad Izzul Muslimin*

NUSANTARANEWS.CO – Saat menjelang reformasi banyak orang yang merapat ke Pak Amien Rais yang dengan lantang menyuarakan perubahan. Bahkan saat berceramah di kantor YLBHI Jakarta, Pak Amien didaulat untuk menjadi calon Presiden RI. Kenapa mereka mendaulat Pak Amien seperti itu, padahal saat itu belum ada Pemilu dan Pak Soeharto masih menjabat sebagai Presiden RI? Hal itu tidak lain karena Pak Amien Rais menjadi simbol perubahan dan perlawanan terhadap Orde Baru. Maka muncullah istilah yang disematkan ke Pak Amien Rais sebagai tokoh Lokomotif Reformasi.

Belakangan ada beberapa aktivis 1998 seperti Saudara Ray Rangkuti yang ingin mendegradasi sebutan tersebut dan tidak mengakui peran Pak Amien Rais. Bahkan Ray Rangkuti membalikkan fakta dengan menyatakan bahwa Pak Amien Rais hanya mendompleng aksi para aktivis mahasiswa yang saat itu menduduki gedung DPR RI. Sungguh, pernyataan Ray Rangkuti ini sangat mengingkari fakta sejarah. Reformasi tidak akan terwujud jika tidak terkonsolidasi, dan peran Pak Amien Rais sangat besar untuk terjadinya proses konsolidasi tersebut. Hampir semua tokoh dan aktivis saat itu merapat di belakang Pak Amien Rais. Berbagai tokoh dari bermacam kalangan saat itu berkunjung ke Gedung Dakwah Muhammadiyah, jl. Menteng Raya 62 Jakarta Pusat untuk menyatakan dukungan dan bergabung dalam barisan gerakan reformasi di belakang Pak Amirn Rais.

Hal ini karena Pak Amirn Rais dianggap sebagai tokoh yang paling keras dan paling berani menyuarakan perubahan. Bahkan ada media yang menulis, Pak Amien Rais sepertinya sudah putus urat syaraf takutnya sehingga tidak pernah bergeming meskipun mendapat berbagai ancaman bahkan sampai ancaman akan dibunuh. Karena keberanian Pak Amien inilah maka banyak orang yang bergabung di belakang Pak Amien, termasuk lima orang yang kemarin bergabung menyampaikan konferensi pers meminta Pak Amien mundur dari PAN karena menurut mereka Pak Amien dianggap sudah melenceng dari cita-cita PAN yang mereka ikut mendirikan. Benarkah tuduhan itu?

Baca Juga:  Kepala Dinsos Sumenep Angkat Bicara Soal Double Job Pendamping PKH di Pragaan

Coba kita perhatikan baik-baik apa yang menjadi fakta sejarah. Setelah Pak Soeharto menyatakan berhenti jadi Presiden RI, Pak Habibie pun dilantik menjadi Presiden RI. Hal ini tidak lepas dari sikap Pak Amien yang bersedia agar proses tersebut berjalan demi kebaikan bersama dan keselamatan Negara Indonesia. Bisa saja seandainya saat itu Pak Amien bersikeras menolak Pak Habibie dan mendorong MPR untuk memilih Presiden selain Habibie, karena kita tahu bahwa saat itu mengangkat dan memberhentikan Presiden ada di tangan MPR, tanpa harus melalui Pemilu langsung. Hal yang pernah dilakukan ketika MPRS memberhentikan Presiden Soekarno dan mengangkat Soeharto menjadi Pejabat Presiden. Pak Amien mendorong agar MPR menerima pergantian Presiden Soeharto kepada Presiden Habibie semata-mata karena ingin agar pergantian kekuasaan bisa berjalan damai. Pak Amien percaya bahwa kekuasaan Presiden sebaiknya melalui proses Pemilu sehingga menuntut agar Presiden Habibie segera menyelenggarakan Pemilu.

Loading...

Setelah itu Pak Amien pun atas persetujuan Tanwir Muhammadiyah berijtihad membentuk PAN. Dalam tubuh PAN bergabung beberapa aktivis diantaranya lima orang yang sekarang ini menggugat Pak Amien. Tapi harus diakui bahwa setelah dilaksanakan Pemilu 1999, yang justru menyumbang suara terbanyak kepada PAN adalah konstituen yang berlatar belakang Muhammadiyah. Harapan agar PAN didukung dari berbagai kelompok lintas agama, lintas budaya, dan lintas sosial ternyata kurang bisa diwujudkan. Dalam kondisi demikian mulailah sedikit demi sedikit mereka yang berafiliasi ke PAN melepas peranannya. Mereka berasumsi bahwa PAN dianggap tidak cukup kuat untuk dijadikan kendaraan politik sebagaimana Golkar di awal Orde Baru. Bahkan beberapa tokoh tersebut berusaha menghilangkan jejak perannya di PAN. Saya pernah mendapat cerita dari seorang mantan wartawan Tempo yang ketika menanyakan peran Goenawan Mohamad (GM) di PAN, justru GM berusaha menghindar dengan menyatakan tidak terlalu serius dan hanya sekedar mengantarkan lahirnya PAN saja.

Baca Juga:  Dermaga Orange, Bunga Alang-alang Telaga

Jika saat ini mereka menggugat Pak Amien Rais karena dianggap tidak lagi sesuai dengan cita-cita didirikannya PAN. Perlu saya ingatkan bahwa selama saya mengikuti Pak Amien Rais di awal-awal gerakan reformasi, Pak Amien selalu mendasarkan pikiran dan tindakannya kepada Al-Qur’an. Artinya, semua langkah Pak Amien selama gerakan Reformasi tidak lepas dari pemahaman dan keyakinannya kepada nash-nash dalam Al Qur’an. Ini mengisyaratkan bahwa gerak langkah Pak Amien tidak lepas dari pemahamannya terhadap Al Qur’an. Pak Amien tidak berbuat semaunya kecuali punya dasar yang kuat dari pemahamannya atas nash-nash Al Qur’an. Jadi, jangan dibalik pemahamannya justru menuduh Pak Amien memanfaatkan Al Qur’an untuk legitimasi pendapatnya.

Masalahnya, jika ada yang menuduh Pak Amien tidak sesuai dengan cita-cita PAN karena sering menggunakan agama (Al Qur’an) untuk menyerang lawan politiknya, kenapa justru pada saat reformasi mereka berada di belakang Pak Amien yang secara konsisten tetap menjadikan Al Qur’an sebagai dasar tindakannya? Apakah hanya karena beda pilihan dan afiliasi politik yang kemudian mereka sekarang menuduh Pak Amien demikian?

Menurut saya, Pak Amien adalah tokoh yang masih menjunjung tinggi cita-cita reformasi. Buktinya, anak Pak Albert Hasibuan, Bara Hasibuan masih diberi ruang untuk berperan di PAN. Ini artinya PAN belum menjadi partai yang diskriminatif sebagaimana yang mereka khawatirkan. Idiom-idiom Pak Amien yang menggunakan bahasa Al Quran untuk mengkritik dan mengoreksi kekuasaan sekarang ini bukanlah hal yang berlebihan dan sejak dulu memang sudah begitu. Justru kalau ada yang menuduh sekarang Pak Amien menyerang dengan menggunakan idiom agama, berarti selama ini tidak mengikuti apa yang telah dilakukan Pak Amien sejak dulu. Kritik dan koreksi Pak Amien kepada rezim sekarang adalah bentuk kepedulian Pak Amien kepada bangsa ini. Kecenderungan rezim yang secara berlebihan menggunakan resources negara untuk mempertahankan kekuasaan dan bahkan menghantam oposisi dikhawatirkan akan mengarah kepada abuse of power, dan itulah yang selama ini selalu disuarakan Pak Amien. Dan itu tetap konsisten sebagaimana yang dilakukan Pak Amien sejak dulu.

Baca Juga:  Lagi-lagi Tokoh Demokrat Dukung Jokowi

Harusnya rezim sekarang justru berterima kasih karena ada orang seperti Pak Amien yang masih mau peduli dan bersuara untuk kepentingan bangsa. Kalau berpikir untuk kepentingan pribadi, tentu Pak Amien lebih memilih ongkang-ongkang kaki di rumah, membiarkan PAN tetap berasyik masyuk dan bermesraan dengan kekuasaan, dan mengambil keuntungan dari semua itu. Tapi Pak Amien justru mengambil jalan yang sulit dan berat. Berhadapan dengan kekuasaan dengan segala resikonya. Di usia Pak Amien yang sudah sepuh, mestinya kita justru kagum dan merasa malu karena kitalah yang lebih banyak memanfaatkan berkah reformasi, bukan Beliau. Saya memang tidak selalu bersetuju dengan pandangan Pak Amien. Tapi menafikan dan mempertanyakan peran Pak Amien bagi kontribusi bangsa ini, ibarat berusaha menghapus jejak dalam yang sudah terlanjur tertoreh. Dan itu sebuah langkah yang akan sia-sia. Wallahu a’lam.

*Penulis adalah Presidium Aliansi Pencerah Indonesia (API), mantan Kornas AMM (Kordinator Nasional Angkatan Muda Muhammadiyah) elemen Muhammadiyah yang ikut mengawal Prof. Dr. HM Amien Rais menjelang dan di awal gerakan Reformasi 1998.

Catatan Redaksi : Artikel ini sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis seperti yang tertera, dan tidak menjadi bagian dari tanggungjawab redaksi NUSANTARANEWS.CO.

Loading...

Terpopuler