Connect with us

Esai

Kesesatan Komunisme (Marxisme) – Esai Kritikus Narudin

Published

on

Ribuan Masyarakyat Tuntut Bubarkan PKI. Foto Istimewa/Nusantaranews
Ribuan Masyarakyat Tuntut Bubarkan PKI. Foto Istimewa/Nusantaranews

NUSANTARANEWS.CO – Teoretikus Terry Eagleton (1996) kerap kali memuarakan uraian teori sastra modernnya pada pandangan Marxis. Ini keanehan yang nyata karena sejak lama Komunisme sudah banyak ditinggalkan para filsuf eksistensialis, misalnya, Kierkegaard, Berdyaev, dan Jaspers.

Darwinisme dan Komunisme secara substansial sama, yaitu memberhalakan materi. Berhala “kebendaan”. Secara esensial, Darwin mengejar materialisme evolusi yang penuh khayalan dan bersifat ateistik—meniadakan campur tangan Ilahiah. Ini harus diwaspadai oleh guru/dosen Biologi saat mengajarkan teori Darwin di depan kelas.

Sedangkan, Marx berkhayal juga secara revolusioner dan reaksioner terhadap pelbagai perbedaan kelas di masyarakat agar tercipta masyarakat tanpa kelas (classless society). Perjuangan Marx yang komunis itu (class struggle) bersifat ateistik pula—meniadakan campur tangan Tuhan. Ini harus diwaspadai oleh guru/dosen Sejarah/Sosiologi saat mengajar di muka kelas. Pengalaman ini saya dapati tatkala masih mengajar Contemporary Sociology (Sosiologi Kontemporer).

Pendek kata, teori yang berwatak ateistik itu berbahaya bagi generasi muda yang masih awam dan generasi tua yang sok tahu dan menutup diri dari kebenaran hakiki.

Seperti kata Kierkegaard, Berdyaev, dan Jaspers (Hassan, 1992), Komunisme itu tak mengerti soal spiritualisme manusia yang dinamis dan ber-subjektifikasi (wewenang kodrati manusia yang memiliki kebebasan pribadi yang tak terkekang oleh kekuatan kelompok/partai yang berdampak negatif/merugikan).

Tambahan pula, karena bersifat ateistik (tak ber-Tuhan), maka seluruh aktivitas komunis pasti pada hakikatnya tak bertujuan, limbung, terombang-ambing di lautan kebingungan dan kesesatan.

Narudin Pituin, lahir di Subang. Karya-karyanya berupa.puisi, cerpen, esai, terjemahan dimuat di berbagai koran dan majalah lokal maupun nasional. Puisinya termuat dalam.berbagai antologi bersama antara lain “Ziarah Kalbu 44 Penyair”, “Igau Danau”. Buku puisi tunggalnya “Aku Dan Tuhan” (2013), dan “Gemuruh Ombak” (2015). Kumpulan cerpennya “Matahari Hitam Belinda” (2014).

Baca Juga:  Waspadai Bahaya Laten Komunis!

 

Loading...

Terpopuler