Connect with us

Berita Utama

Kerjasama Cina dan Iran Akan Menjadi “Game Changer” di Kawasan Regional Timur Tengah

Published

on

Kerjasama Cina dan Iran Akan Menjadi "Game Changer" di Kawasan Regional Timur Tengah

Kerjasama Cina dan Iran Akan Menjadi “Game Changer” di Kawasan Regional Timur Tengah/Foto: Times of Israel.

NUSANTARANEWS.CO – Cina dan Iran telah menyetujui pakta perdagangan selama 25 tahun senilai US$ 400 miliar. Kemitraan ini bukan saja semakin menegaskan hubungan bilateral Beijing-Teheran, tetapi juga akan menjadi langkah strategis dan taktis dalam mendobrak hegemoni barat, khususnya Amerika Serikat (AS) di kawasan regional Timur Tengah.

Pakta perdagangan Cina-Iran sendiri sebetulnya telah lama digodok sejak kunjungan Presiden Xi Jinping ke Teheran pada Januari 2016 – di mana Presiden Hassan Rouhani sepakat untuk membuat roadmap bersama dalam “investasi timbal balik di bidang transportasi, pelabuhan, energi, industri, dan layanan publik lainnya.

Bahkan pemimpin tertinggi Iran, Ayatullah Khamenei yang memang sedang mencari mitra untuk memperluas hubungan dengan negara-negara merdeka dan berdaulat – menyambut positif pakta perdagangan dengan Cina ini. Mengingat sanksi ekonomi maksimum yang diberlakukan AS sejak 2018 telah menekan ekonomi Iran.

Untuk mendobrak embargo ini, Iran memandang pakta perdagangan tersebut adalah langkah terobosan pertama menuju pemulihan ekonomi. Sedangkan Cina kini telah menempatkan Iran sebagai mitra paling penting di kawasan regional Timur Tengah – sebagaimana hal nya Itali di G7 Eropa – dalam inisiatif Belt and Roadnya.

Pakta Cina-Iran itu ditandatangani di tengah meningkatnya ketegangan Beijing dan Washington – setelah dalam beberapa tahun belakangan Washington terus menekan Beijing dengan tuduhan menganiaya minoritas Uyghur.

Bagi Teheran yang telah berperang dengan AS sejak Revolusi Iran 1979, jelas merupakan langkah besar yang dapat mengubah permainan di kawasan regional. Iran yang di dorong menjauh dari barat jelas tidak akan membuang waktu untuk memperkuat hubungan strategis dengan Cina dalam membangun ekonominya.

Baca Juga:  Pasca Gempa Lombok, Telkom Aktifkan Alternative Route Bima–Maumere–Makassar

Meskipun kehadiran militer AS semakin kuat kawasan Timur Tengah, namun hegemoni AS mulai mengalami penurunan dengan masuknya Rusia dan Cina di kawasan regional. Reputasi AS sendiri telah rusak dengan “permainan kartu teroris” yang diciptakannya sendiri seperti: Al Qaeda dan ISIS.

Dan yang terpenting adalah mulai tumbuh kesadaran negara-negara di kawasan yang tampaknya tidak ingin hanya sekedar menjadi bidak catur AS untuk mempertahankan hegemoninya di tengah perubahan global menuju multilateral.

Sementara media barat seperti biasa dengan penuh semangat terus menghasut mengabarkan bahwa kerja sama komprehensif jangka panjang Cina-Iran adalah sebuah “Game Changer” untuk melawan hegemoni AS dan membesar-besarkan ancaman Iran di tengah stagnasi masalah perjanjian nuklir Iran untuk membuat perpecahan yang semakin tajam antara Iran dengan negara-negara di kawasan. (Agus Setiawan)

Loading...

Terpopuler