Connect with us

Budaya / Seni

Kerap Unggah Puisi ke Medsos, Fadli Zon Dinilai Rusak Nuansa Estetis Sastra

Published

on

fadli zon, puisi fadli zon, sastrawan jogja, aktivis sastra jogja, makna estetis puisi, narasi nyinyir, fadli zon nyinyir, nusantaranews

Launching dan diskusi buku ‘Syahwat Politis yang Puitis: Kritik atas Puisi-puisi Fadli Zon’ di Café Sastra Basabasi, Jalan Sorowajan Baru, Bantul, Yogyakarta, Sabtu (15/12). (Foto: Istimewa)

NUSANTARANEWS.CO, Yogyakarta – Himpunan Aktivis Milenial Indonesia (HAM-I) menilai puisi-puisi Fadli Zon yang diunggah ke media sosial beberapa waktu belakangan telah menyempitkan entitas puisi hanya untuk syahwat politik belaka.

Puisi Fadli yang ditulis akhir-akhir ini sedang merusak nuansa estetis dan pesan universal dari sastra. Puisi Fadli yang bertajuk ‘Ada Genderuwo di Istana’, misalnya. Alih-alih menyampaikan pesan universal ihwal kemanusiaan, puisi tersebut justru terjebak dalam narasi kenyinyiran,” kata sekjen HAM-I, Muchlas J Samorano saat launching dan diskusi buku ‘Syahwat Politis yang Puitis: Kritik atas Puisi-puisi Fadli Zon’ di Café Sastra Basabasi, Jalan Sorowajan Baru, Bantul, Yogyakarta, Sabtu (15/12).

Muchlas menilai meski Fadli Zon memiliki latar karir kesusastraan, namun puisi-puisinya semata hanya untuk tujuan politik.

“Bagi Fadli Zon, puisi tidak lagi bermakna mulia. Fadli menganggap puisi hanya menjadi kreatifitas berkata-kata. Dengan begitu, Fadli memperlakukan puisi sekenanya. Padahal, Fadli pasti tahu bahwa dalam sejarahnya puisi ditempatkan di tempat yang agung. Fadli pasti tahu, karena keagungan, puisi Johann Wolfgang Goethe, dijadikan sumber spirit oleh bangsa-bangsa Eropa modern,” terang Muchlas.

Puisi, kata Muchlas, bukan sekadar bualan yang tiba-tiba. “Buku kumpulan esai bertajuk ‘Syahwat Politis yang Puitis: Kriti katas Puisi-puisi Fadli Zon itu menyadarkan Fadli bahwa puisi bukan sekadar bualan yang tiba-tiba. Buku yang ditulis oleh puluhan penulis dan sastrawan di Jogja itu karena dasar keprihatinan, bahwa Fadli telah meleburkan syahwat kuasanya ke dalam unsur agung dari puisi,” imbuhnya.

Baca Juga:  4 Kebijakan Konyol KPU, Hak Suara untuk Orang Gila Dinilai Paling Parah
Loading...

Buku itu, kata dia, akan dikirimkan langsung kepada Fadli Zon sebagai kado akhir tahun dan alarm atas usaha kreatifnya yang memilukan di jagad sastra tanah air. Dia berharap, Fadli taubat dengan tidak lagi menggubah puisi-puisi yang dipandang Muchlas hanya nyinyiran semata.

Sementara itu, novelis Reza Nufa mengatakan puisi yang ditulis Fadli Zon beberapa waktu terakhir adalah puisi yang lucu, bahkan minus nilai. Puisi Fadli, kata Reza, seperti puisi lawakan yang diunggah untuk publik melalui Twitter untuk ditertawakan. Bahkan, puisi yang ditulisnya itu tidak memiliki esensi estetik sama sekali.

“Bahkan, naifnya, puisi yang diunggah di Twitter Fadli itu banyak dibaa dan disebar luas. Padahal jika ditelisik unsur ekstrinsik dan intrinsik dari puisi itu, kacau. Karena itu, bagi Saya, puisi Fadli tidak memenuhi syarat sebagai puisi,” kata dia.

Selain itu, Reza menyebutkan, masyarakat sastra di Indonesia memang mesti mengkritisi setiap produk kreatifitas, termasuk puisi Fadli. Meski begitu, dirinya tidak hendak menyudutkan Fadli, tetap produk estetiknya mesti dikritisi.

Kemudian sastrawan muda Yogyakarta Muhammad Azwar menuturkan puisi yang digubah Fadli sekadar memenuhi unsur tipologi, yakni bahasa yang puitis dan bentuk yang sedikit. Selain itu, kata Azwar, Fadli telah memotong nilai agung daripad puisi. Padahal, kata Azwar, puisi bukan sekadar susunan kalimat yang hadir tiba-tiba. Ada nilai yang dihadirkak untuk direnungkan publik pembaca.

“Saya tidak menemukan Fadli mencoba merunut prinsip estetik melalui puisinya. Saya melihat puisi Fadli sekadar umpatan politik dan kenyinyiran yang dipoles istilah-istilah puitis,” ujar Azwar.

Tak hanya itu, lanjut dia, puisi Fadli adalah bukti bahwa peradaban kesastraan di Indonesia masih miskin. Bagi Azwar, Fadli memang melahirkan fenomena baru dalam jagad sastra, tetapi sejarah baru tersebut menunjukkan kepongahan.

(mj/mjl)

Editor: Novi Hildani

Loading...

Terpopuler