Budaya / SeniCerpen

Kepulangan – Cerpen Muhammad Rifki

NUSANTARANEWS.CO – Bayangan gurat tua itu masih berlarian di kepalaku. Sebuah ingatan lama yang hampir tenggelam dalam lupa. Saat di mana aku, dulu kehilangan rasa untuk mengenang. Dan sekarang justru akulah seorang lelaki yang haus dan merindu kepulangan. Telah kutinggalkan, di ingatanku, sebuah potret lama tentang rumah. Tentang ibu dengan wajah dipenuhi garis dan gurat tua. Yang di setiap gurat tua itu tersimpan rongga yang begitu sunyi dan mengharap kepulanganku. Itulah cerita adikku bernama Riska, di antara lembar surat yang pernah ia kirimkan ke pesantrenku, Darussalam.

Ah, tetapi itu lama sekali. Mungkin setahun yang lalu, sebelum aku menjadi lelaki yang mencumbui malam dan mencandu wanita. Sedang sekarang, surat-surat itu sudah tak lagi mampir ke asramaku. Ataukah kehilangan alamat, namun entah mengapa, justru hatiku yang sekarang merasa begitu haus akan kerinduan. Setidaknya aku ingin kembali berdialog dengan surat adikku yang dulunya hanyalah teronggok di pojok kamar.

Bis yang kutumpangi ini perlahan merangkak, meninggalkan terminal pal enam. Dari luar jendela bis ini, mataku jatuh pada sebuah pemandangan orang-orang di terminal yang seolah menjauh dan meninggalkan. Ada seorang bapak dengan anak istrinya, para pelajar dan seorang wanita berkulit senja. Serupa sebuah film tua yang berputar dan melambaikan salam perpisahan. Dan wanita tua yang kulihat itu, menumpahkan lagi berkarung-karung kenangan yang menyesakkan dada. Sebab aku adalah seorang anak remaja yang terbuai jauh dalam lupa dan meninggalkan rumah. Bergumul antara rasa bersalah, silih berganti datang menusuk serta mengiris mataku agar menangis.

Bu, aku pulang. Sedang di hatiku, hanya terpanggul dosa dan rasa bersalah.

***

Tiga hari sebelum kepulangan ini, ketika aku masih seorang pecandu malam dan wanita. Malam itu adalah malam minggu. Malam yang akan kusandarkan sepotong hati yang layu di bahu seorang gadis. Sekedar mengajak hatiku bermanja-manja sebelum masa senja. Seperti malam itu, sudah ada seorang kekasih yang telah menungguku di pinggiran taman kota. Ya, begitulah kebiasaanku selama tiga tahun terakhir, yang pada malam hari hanya kuhabiskan untuk mencumbui malam. Lari dari satu pelukan gadis ke gadis lain.

Baca Juga:  Banyak Jalan Menuju Roma

Kali ini pun telah menunggu seorang gadis yang tengah duduk di sebuah meja bersama tiga kursi kosong menemani. Kupikir, dia tentu menungguku dengan rasa resah yang acapkali menggigit sendinya hingga kulihat beberapa kali dia mengubah posisis duduknya. Malam itu, kubawakan gadis itu sebuah bunga agar wajah manisnya mengelupas. Tetapi, saat aku datang dan menghampiri, ada yang aneh dengan pandanganku. Beberapa kali kusapu, tetap saja tak berubah. Rupa gadis itu bukan seperti yang kukenali. Gurat tua dan keriput tumbuh di wajahnya yang persis seperti milik ibu. Wajahnya menyerupa wajah ibu.

Beberapa kali aku mencungkil mata dan membersihkannya kembali hingga berulang-ulang, mungkin barangkali tadi hanya berhalusinasi. Namun malah wajahnya semakin jelas menyerupa wajah ibu. Meski suara gadis itu masih berupa suara kekasih yang kukenali. Tetap saja itu membuat hatiku seperti duduk di atas duri.

Seterusnya, malam itu hanya kami habiskan dengan tingkahlakuku yang ia anggap ganjil. Hanya mengusap-usap mata. Ah, bahkan bagaimana bisa aku mempercayainya, wajahnya yang selama ini kupuja-puja kecantikannya mendadak tanpa sebab menua.

***

Sisa ingatan malam tadi masih menjuntai di pagi itu, serta sepotong mimpi berwujud wajah ibu ikut menyambangi kantukku. Di pojok kamar, tak sengaja pandanganku tergeletak di atas bebukuan dan kitab-kitab kuning yang teronggok menggigil diselimuti debu. Sudah lama aku tidak menyentuhnya untuk dipeluk dan lidahku melingkahi huruf demi huruf yang bertengger di kitab itu. Aku bahkan lupa, entah kapan terakhir kali pergi mengaji ke sekolah. Lama sekali tidak kujamah suasana kelas. Ingatan itupun lantas mengalir seperti air bah di pagi itu dan menghantam kepalaku. Tentang aku yang sering lumpuh oleh kantuk di tengah-tengah ustadz yang membacakan kitab. Ya, suasana itupun sudah terganti dan telah lama kutinggalkan.

Kini aku adalah seorang lelaki pecandu wanita dan senang mencumbui malam. Di kamarku, di dinding-dinding berjejer rapi foto berbagai rupa gadis. Dan mereka semua itu adalah kekasihku yang silih berganti hilang dan menghampiri. Begitupun gadis yang malam tadi punya wajah serupa ibu, hanya satu dari sekian banyak kekasihku.

Baca Juga:  Banyak Jalan Menuju Roma

Ponselku bergetar, sebuah pesan masuk dari salah seorang gadis untuk mengajakku pergi ke danau. Mungkin bertemu dengan gadis ini bisa membuat ingatanku malam tadi raib. Sebab mengingat ibu hanya akan menghancurkan kesenanganku. Aku muak diperbudaknya dengan dipaksa sekolah  ke pesantren yang sama sekali kubenci. Tiga tahun terakhir aku mulai meniupkan bara api di hatinya. Tak pernah pulang meski kutahu, beberapa kali ia mencariku dan berduka soal rindu. Namun, aku terlanjur bebal, terlanjur menikmati sebagai pecandu malam dan wanita.

“Kau kenapa, sayang? Wajahmu mendadak pucat,” tanya gadis itu mengagetkan kedatanganku.

Tetapi suaraku terlanjur raib untuk menjawab. Sebuah detak dingin mengunci kuat suaraku di kerongkongan saat mata kami bertemu.

“Aku muak! Aku ingin pulang.”

Sialan. Mengapa pula wajahnya juga menyerupa ibu. Itu membuat perasaanku tak nyaman dan berserakan. Sudah dua orang gadis berwajah sama. Lalu siapa lagi?

Di kota, di pinggir-pinggir taman, ketika aku melewati setiap jalanan, juga tertampang pemandangan yang sama. Wajah para gadis yang menyerupa wajah ibu. Harus kututup mata serapat-rapatnya. Ah, kenapa jadi begini, seisi kota wajah semua gadis berubah tua dan mengeriput. Adakah salah dengan mataku? Kucungkil, kutusuk, kusapu hingga terkikis sampai memerah pun tetap percuma. Mereka tetap mengancamku sebagai rupaan wajah ibu.

Sampai kakiku lumpuh di sebuah masjid dan bersembunyi di sana. Ya, air. . mungkin satu atau dua percikakannya bisa menjernihkan kepalaku. Bersandar sesaat di pojok masjid, sekejap, kerinduan pada kampung halaman itupun muncul dan mengetuk  hati. Seperti ada detak dingin tangan ibu menyentuh mataku. Aku ingat, dulu, dia pernah bercerita  ingin agar kelak usai lulus dari pesantren, aku akan menjadi lelaki yang berguna di kampung. Sayang, perkataan ibu waktu itu kini begitu rapuh seperti istana pasir yang terkikis angin. Hari-hari pun membuai hingga aku melupa. Sebab toh, bukankah aku dulu memang tak ingin dimasukkan ke pesantren ini. Ia tetap ngotot memaksa.

Yah, meski begitu, tetap saja ada rasa bersalah dan sesal kini menggigiti dinding hati.

Baca Juga:  Banyak Jalan Menuju Roma

Dan sekarang aku ingin pulang. Ingin menjemput kenangan yang telah banyak kulukai.

***

Melewati jembatan sungai barito, sebuah kampung dengan sawah terhampar menyapa bis yang kutumpangi. Seperti menuangi rongga hati yang kebas dan kering dengan kerinduan. Tawa anak-anak, bau sawah dan dan akar tanah yang dibawa angin menjadi hidangan pembuka. Ah, sudah begitu lama desa ini hilang dari arti pulang di kepalaku. Dan hari ini, biar kulunasi rindu-rindu yang belum terbayar.

Sebuah bayangan rumah tua telah menggantung di benakku, ingin sekali langsung kupeluk seerat-eratnya. Bis berhenti, akhirnya perjalanan  ini tandas juga. Kulihat halaman rumah tak ubahnya dari dulu, hanya saja daun-daun dari pohon mangga jatuh. Seolah bercerita tentang rasa sepi yang bergelanyutan. Kulemparkan sebuah salam, tetapi diam yang menjawabnya. Adikku pun tampaknya sedang tak ada di rumah, ke mana Riska?

Di ruang tamu, kulihat seorang wanita tua duduk sambil menekuk kedua lututnya.

“Ibu, ulun bulik. . .”  lalu sebuah senyum kulukis di antara kedua mata kami yang saling bertatapan.

Ikam siapa? Sembarangan masuk ke rumah orang?” tanya wanita itu sambil menahan gigil. Sebagai sebuah jawaban ganjil dari pertanyaan yang kulempar.

Seperti disayat belati, bahkan aku lupa caranya bernafas.

(apakah ibu telah lupa?)

Banjarbaru, 22 Oktober 2016

 

Catatan:

*Ulun bulik : aku pulang

*ikam siapa? Sembarangan masuk rumah orang? : kamu siapa? Sembarangan masuk rumah milik orang?

 

Muhammad Rifki, lahir di Anjir Pasar, 13 Agustus 1998, adalah salah seorang santri di Pondok Pesantren Al Falah Putera, Banjarbaru. Bergiat dalam organisasi kepenulisan Forum Pena Pesantren/FPP dan Komunitas Pembatas Buku Jakarta.  Kini ia tinggal di Pondok Pesantren Al Falah Putera Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Untuk mengenalnya lebih bisa melalui akun Fb-nya; Rifki M atatu email [email protected]

__________________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resinsi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: [email protected] atau [email protected]

Ikuti berita terkini dari Nusantaranews di Google News, klik di sini.

Related Posts

1 of 49