Connect with us

Ekonomi

Kementan Janjikan Sanksi Bagi Pelaku Penggemukan Sapi yang Tak Taat Aturan

Published

on

Peternakan Sapi Potong (Foto Credit)

Penggemukan Sapi (Foto Credit)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan I Ketut Diarmita menegaskan akan memberikan kepada para pelaku usaha penggemukan sapi atau biasa disebut feedloter yang tidak taat aturan.

Sanksi yang akan diberikan, lanjut dia akan mengacu pada Peraturan Menteri Pertanian Nomor 02/Permentan/PK.440/2/2017 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Pertanian Nomor 49/Permentan/PK.440/10/2016 tentang Pemasukan Ternak Ruminisia Besar ke Dalam Wilayah Republik Indonesia.

Namun, Ketut mengatakan bentuk sanksi kemungkinan besar berbeda-beda antar satu perusahaan dengan perusahaan lainnya. Kementan akan melihat realisasi porsi impor sapi bakalan dan indukan masing-masing perusahaan.

“Nanti dilihat mungkin dari 100 persen, perusahaan itu sudah memenuhi 50 persen. Hukuman tidak sama satu dengan yang lain,” ungkap Diarmita, Senin, 12 November 2018.

Pemberian sanksi ini menyusul saat ini terjadi ketidakseimbangan impor, antara impor sapi bakalan dengan sapi indukan. Kementan mencatat realisasi impor sapi bakalan hingga saat ini, tercatat sebanyak 205.527 ekor. Sementara, impor sapi indukan baru sebanyak 21 ribu ekor.

Loading...

Diarmita menjelaskan saat ini jumlah impor sapi bakalan dan indukan belum sesuai dengan skema 5:1 yang diatur pemerintah. Pasalnya target tahun ini, kata dia, impor sapi indukan mestinya sebanyak 100 ribu ekor.

Dirinya mengungkapkan, jika ada 100 ribu ekor sapi indukan, perusahaan harus mengimpor total 500 ribu ekor sapi bakalan. Ketut menyebut tahun ini pemerintah memang memasang target mengimpor sapi bakalan sebanyak 500 ekor.

“Hanya saja, jika diakumulasi jumlah impor sapi indukan yang bisa didatangkan ke Indonesia sampai Desember 2018 hanya sebanyak 214.890 ekor,” terangnya.

Editor: Alya Karen

Baca Juga:  Kepemimpinan Boris Yeltsin dan Bubarnya Uni Soviet
Loading...

Terpopuler