Puisi  

Kembara Langit – Puisi Vito Prasetyo

Hati dalam Relung Tasbih

Tangan-tangan halus itu berupaya menggapai langit
di jemarinya melantunkan ayat-ayat Tuhan
tanpa suara, hatinya bertasbih begitu lirih
ditinggalkannya separuh malam
saat mimpi-mimpi dalam kemarau panjang
telah melukai kenaifan nalar sebagian manusia

Kasat matanya terlalu nista
setiap waktu badai dosa membelenggu
– dan tetesan air suci tak pernah jatuh
membasuh kenistaan mata
karena ruang waktu
selalu saja membutakan manusia
dari apa yang bukan miliknya

Hati selalu saja bicara
tentang kebaikan dan keburukan
sesuatu yang bersemayam melintasi hidup
kadang (ia) menangis
kadang (ia) tertawa
mengitari relung-relung cahaya
saat hati itu begitu rindu
menggetarkan lantunan tasbih
agar hati medapat seberkas putih
pada nalar-nalar yang selalu sesat

Malang – 2016

Kembara Langit

gelap mulai menelisik malam
di kejauhan bumi, sinar lembayung masih merekah
lambat-laun senja beranjak meninggalkan peraduannya
mungkin esok (ia) akan kembali lagi
‘tuk memulai hidup baru

langit pun mulai kelam
malam telah menanti gilirannya
sepasang kekasih mulai duduk di hamparan langit
rembulan hadir bersinar senyum
hadir, nyaris tanpa busana
separuh tubuhnya telanjang
di punggungnya, bintang bergelayut tanpa malu
meniriskan sisa-sisa birahi matahari

saat orang bercerita tentang makhluk angkasa
dirinya lupa suatu waktu akan berada disana
berubah wujud tanpa jasad
menuntaskan perjalanan tiada henti
mengisi catatan tentang tapaknya di bumi
apakah akan kembali menjadi suci
berbahasa jagad seperti wayang
atau berbahasa planet seperti dewa

aku tersenyum,
melintasi langit bersama bidadari
mengembara tanpa titian maut
kereta kencana tanpa roda kutumpangi
serpihan awan memanteli tubuhku
bercanda bersama orang-orang suci
butiran doa senantiasa memayungi diriku

sesungguhnya aku sangat malu
goresan pena para penyair menggantung di langit
senantiasa menghiasi ruang hampa
berseteru dengan bulan dan bintang
membuat langit semakin merah
menjadikan kabut mendung semakin kelabu
disana-sini saling berebut impian
walaupun di langit semakin banyak tumbuh jelagah
dengan air suci pun tak mampu kita membersihkannya
selain menghentikan semua pengembaraan di langit
dan melihat tanah-tanah kita yang semakin kering-kerontang

Baca Juga:  Untuk Jarak, Kepalaku dan Rumahmu adalah Acara Komedi

Malang – 2016

Vito Prasetyo
Vito Prasetyo

*Vito Prasetyo, dilahirkan di Makassar, Ujung Pandang, 24 Februari 1964. Pria Bernama lengkap Victorio Prasetyo W bergiat di dunia sastra sejak 1983. Karya-karyanya tersiar di berbagai media massa seperti Harian Pedoman Rakyat (Makassar), Suara Karya, Malang Post, Radar Malang, dll. Dan termaktub di beberapa Antologi Puisi seperti Jejak Kenangan (Rose Book, 2015), Tinta Langit (Rose Book (2015), 2 September (Rose Book, 2015), Jurnal Puisi SM II 2015 (Sembilan Mutiara Publishing, 2016), Malam-malam Tanpa Nafas (2013), Perjalanan (2014), Kumpulan Puisi Religi (2013 – 2014), Kumpulan Cerpen Wanita-wanita, Menuju Ridho Allah (2014 – 2015). Kini ia mukim di Malang, Email: [email protected], dan HP: 081259075381

__________________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resinsi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: [email protected] atau [email protected]