Connect with us

Rubrika

Kemarau Panjang, Warga di Perbukitan Memanfaatkan Resapan Air Sungai

Published

on

kemarau panjang, madiun kemarau, air bersih, air bersih madiun, kemarau madiun, pemkab madiun, warga madiun, wilayah madiun, musim kemarau, nusantaranews

Dua orang warga memperbaiki peralon air yang rusak. (Foto: Ajun Ally/NUSANTARANEWS.CO)

NUSANTARANEWS.CO, Madiun – Musim kemarau panjang semakin dirasakan oleh ratusan warga yang bermukim di perbukitan lereng Pegunungan Wilis Madiun. Air bersih yang biasa tersedia 24 jam dari pegunungan, kini tidak lagi mengalir di Dusun Babadan, Desa Tawangrejo, Kecamatan Gemarang, Kabupaten Madiun.

Diwartakan, ada 300 kepala keluarga di dusun itu, selama tiga bulan lebih dilanda kekeringan air bersih. Bahkan untuk mendapatkan air yang layak untuk kebutuhan konsumsi sehari-hari seperti memasak hingga mandi, mereka harus mencari d itempat lain yang lokasinya jauh dari pemukimannya. Meskipun sumber air itu bersih, namun lokasinya sangat jauh.

Tetapi, karena warga sangat butuh air bersih untuk kebutuhan sehari-hari maka tidak mempersoalkan lokasi sumber jauh dekat. Bahkan mereka mengakui jika ditempuh dengan berjalan kaki penuh harapan mendapatkan air bersih, maka lokasi itu terasa dekat. Sedangkan yang mempunyai kendaraan sepeda motor, maka bisa mengangkut air bersih menggunakan jerigen besar dari sumber antara tiga hingga empat kali jalan pulang pergi.

“Seperti saya ini, tidak punya kendaraan motor ya hanya bisa membuat resapan air sungai. Setelah ngendap satu malam. pagi harinya baru bisa diambil menggunakan ember dan jerigen,” tutur Suwarno 48th, warga Dusun Babadan saat ditemui dalam kegiatan Pendistribusian Air Bersih bantuan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Madiun, Kamis (23/8/2018).

“Seperti saya ini, tidak punya kendaraan motor ya hanya bisa membuat resapan air sungai. Setelah ngendap satu malam. Pagi harinya baru bisa diambil menggunakan ember dan jerigen,” tutur Suwarno (48), warga Dusun Babadan saat ditemui.

Loading...

Menurutnya, sumber air bersih yang dibutuhkan jika di sekitar pemukimannya habis atau kering, maka mereka harus mencari di tempat lain seperti di sumber air cermo di kawasan lereng Pegunungan Wilis masuk wilayah Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun.

Baca Juga:  Peduli Limbah, Gubernur Jatim Libatkan Mahasiswa Muhammadiyah

“Yang tidak punya sepeda motor seperti saya ini, tentu tidak bisa mencari air bersih di luar dusun. Untuk mencukupi kebutuhan air bersih, terpaksa saya harus membuat kolam sebagai peresapan dari air sungai yang setiap hari masih mengalir,” jelasnya.

Tak hanya Suwarno saja, tetapi juga masih ada sekitar puluhan kepala keluarga (KK) yang setiap hari terpaksa harus mengkonsumsi air resapan sungai yang mengalir dikolam yang dibuat. Untuk mendapatkan air resapan sungai, puluhan warga itu harus membuar kolam dengan kedalaman sekitar 50-70 centimeter.

Air sungai yang memenuhi lubang kolam-kolam itu dibiarkan penuh. Satu malam air sungai itu sengaja tidak diambil dulu, setelah pagi harinya baru diambil menggunakan jerigen atau ember. Rutinitas mengangkut air resapan sungai itu, terus dilakukan setiap pagi.

“Setiap datang musim kemarau, puluhan warga di dusun ini selalu kesulitan air bersih. Sudah menjadi kebiasaan, warga di sini memanfaatkan air resapan dari sungai yang lokasinya di bawah dusun ini,” paparnya Maryati (45), warga dusun setempat.

Maryati mengungkapkan setelah air sungai itu ditandon selama satu malam di rumah-rumah warga, baru dimasukan ke bak penyaringan hingga berulang-ulang kali hingga terlihat jernih. Air hasil penyaringan baru endapkan lagi selama 30 menit di ember atau bak plastik. Setelah itu baru dimasak atau direbus hingga mendidih.

“Alhamdulillah setiap hari minum maupun untuk memasak nasi, saya dan warga yang lain sehat-sehat saja. Kalau untuk mandi dan cuci gerabahan rumah tangga, cukup diendapkan semalam di tempat penandon air,” ungkapnya.

Ia bersama ratusan warga dusun setempat berharap kepada Pemkab Madiun segera mencarikan solusi agar setiap musim kemarau tidak lagi kesulitan air bersih. Karena pendistribusian air bersih dari mobil tangki dengan total 8000 liter yang didatangkan Pemkab Madiun, dirasa belum mencukupi kebutuhan air untuk sekitar 300 kepala keluarga. Namun jika dirasa solusi perencanaan dibuatkan sumur bor, tentu warga sangat menyambut baik.

Baca Juga:  Masjid Nogotirto II dan Doa untuk Korban Tsunami

“Pengaturan kedepannya bagaimana, warga di dusun ini tentu bisa diajak musyawarah. Terpenting saat kemarau panjang warga bisa mendapatkan air bersih,” tandasnya.

Untuk mengatasi kesulitan warga yang tinggal diperbukitan mendapatkan air bersih, Pemkab Madiun langsung mendistribusikan air bersih di dusun itu sebanyak 8000 liter. Air bersih yang dikeluarkan dari dua mobil tangki itu, lalu ditandon di samping tempat penandon yang biasa digunakan untuk air yang mengalir dari Pengunungan Wilis Madiun.

Tempat tandon yang dibuat dari terpal dengan sistem pagar bambu yang membentuk segi empat, lalu dialirkan ke tempat penandon air yang sudah diperbaiki oleh warga sekitar. Peralon penghubung ke rumah-rumah warga, juga sudah diperbaiki.

Tidak lama air terisi dengan ketingian sekitar 70 centimter, air bersih itu lambat laun naik ditempat penandon permanen yang mana dihubungkan dengan beberapa palel peralon hingga air mengalir ke rumah-rumah warga.

Pewarta: Ajun Ally
Editor: Alya Karen

Loading...

Terpopuler