Connect with us

Cerpen

Kelas Kosong, Cerpen Rifki

Published

on

cerpen, cerpen kelas kosong, cerpen rifki, kelas kosong, cerpenis indonesia, cerpen indonesia, cerpen nusantara, cerita pendek, nusantaranews

Kelas Kosong. (Foto: Ilustrasi/Shutterstock)

Kelas Kosong, Cerpen Rifki

Di tempat yang sempit, pengap dan lengkap oleh bau busuk, rintihan halus mengaduk-aduk di gelapnya tempat itu. Tanpa pernah dijamah oleh panca indra atau memahami bahasanya.

***

Ditemani debu yang beku bersama onggokan sampah yang menggoda, tikus gila itu berpesta di saja. Mencicit-cicit seperti memainkan melodi tanpa larik dan irama. Ia berpesta sendiri hingga larut, melupakan purnama yang mampir malam itu. Tikus itu sangat berisik, kegirangan di kekas yang kini bahkan lebih mirip gudang tua yang berdebu. Ia tak usah lagi mengutuki santri-santri yang sok rajin membersihkan kelas, demi mencari wajah baik di hadapan guru. Toh, itu hanya di hadapan saja, lantas saat di belakang beliau, tanpa pernah merasa berdosa memaki guru-guru mereka sendiri. Menuduh macam-macam. Dasar santri, pesandiwara yang lihai.

Tikus itu masih jomblo. Gila memang, menjadikan purnama sebagai cinta sejatinya. Dulu ia hanya mengagumi, pengaguman yang berlebihan. Jelang malam memuncak dan semakin matang, biasanya ia akan lama berleha-leha.di depan teras kelas dua aliyah c. Seperti kekaguman seorang penyair, memainkan larik-larik romantis untuk purnama. Semua itu tidak lagi, sejak rasa sepinya terobati oleh ruang kelas yang seperti sebuah taman impiannya. Tikus itu bahkan mengabaikan purnama.

Dan malam saat purnama ia acuhkan dan hanyut terbuai asyik dalam gelap, mendadak suara geligik tawa mengelilingi tiap pojok kelas. Tawa puas dengan mata merah menyala. Seram.

“Kita tak perlu lagi mengencingi santri-santri sok suci itu,” cetus salah seorang dari mereka.

“Malam ini, mari kita rayakan, kawan.”

Tikus itu berhenti sudah menahan ludahnya. Nafasnya tersengal kian tak teratur.

Malam itu, merekalah yang merayu purnama, bukanlah si tikus.

***

Kelas lagi-lagi kosong. Bel penekur waktu yang berdering di tiap empat puluh menit itu mulai bosan mendengkur. Parau terdengar suaranya. Ia diatur untuk setia mendengkur. Sayang, Dengkuran yang percuma. Kadang ia muak, sesekali pernah dengan sengaja ia bungkam. Para guru menhadi risau. Biar saja, ia tak peduli, toh siapa pula yang peduli padanya? Meski ia mendengkur hebat, mengulanginya beberapa kali, ah, para santri itu tak akan sudi meninggalkan asrama, malah memilih berleha-leha di bawah selimut.

Siang itu rasa jengkelnya memuncak. I memilih bungkam. Tak menghiraukan seberapa sering Paman Wawan memencetnya. Ia tak peduli. Seharusnya, para gurulah yang mesti bertindak, datang ke tiap asrama dan memaksa sekolah. Bukan hanya ia yang berperan sendiri, berteriak-teriak di tengah terik yang meluap-luap, seperti para mandor yang bising di terminal, hanya saja ia tak dihiraukan sama sekali.

“Bel ini rusak.” Paman Wawan akhirnya melempar keluhnya, laku pergi mengancam untuk membeli bel baru.

Terserah!

Seekor tikus lalu datang menemuinya dengan raut muka berantakan. Ah, tikus itu lupa merapikan kumisnya. Ya, ia memang tak sempat melakukan apapun. Tadi pun ia dihalau banyak santri dengan kayu dan pemukul semacamnya. Mengejarnya, ingin menghabisinya tanpa ampun, untunglah Paman Wawan lewat dengn kendaraan kesayangannya, menghamburkan para santri yng memadati jalanan.

“Kumohon, kau harus mengerti, berbunyilah! ” tikus itu memelas. Percuma, bel itu terlalu ngambek dan berpikir, buat apa? Santri itu tak mungkin ke kelas meski sekedar menengok.

Ah, hancur sudah harapannya, meski meringis ia memohon dan memaksa, bel itu tetap keras kepala.

Di kantor, hanya ada tiga pasang sendal tergeletak di depan pintu; milik Ust. Sailillah, Ust. Suhaimi dan Ust. Nor Mustofa. Mereka hanya duduk menganggur, tak ada kerjaan. Di antara sekian banyak guru, hanya merekalah yang setia menunggu, berharap ada satu atau dua santri yang datang mengisi kelas. Sayangnya, harapan itu tak pernah kunjung datang, malah cicitan tikus yang datang berisik mengganggu di tumpukan buku paket. Berusaha merayu. Dasar tikus gila. Ust. Nor Mustofa yang dari tadi bermanja-manja dengan korannya pun kehabisan kesabaran dan dengan keras memukul pergi tikus itu.

Meski bagaimanapun, kelas akan tetap kosong.

***

Ia takut-takut mendekati kelas. Orang-orang bermata merah dengan tanduk runcing di kepalanya sedang sibuk mengencingi dua orang santri yang asyik menarikan pena di dalam kelas. Membuat keduanya mengantuk dan memutuskan pulang. Maka sempurna, kelas pun kosong.

Lihatlah! Kelas itu benar-benar menjadi markas iblis. Sampah kertas dan kitab berserakan merajalela di meja-meja. Yah, nasib buruk bagi kitab itu, terasingkan sembarangan tanpa tuannya yang sama sekali tak mengurusnya. Sudah seminggu ia terperangkap di sana, berteman dengan seekor tikus gila dan kini dengan iblis-iblis yang kurang ajar.

Ia selalu membenci malam, karena saat itu tentu tak akan ada satu pun santri yang rela datang ke kelas. Tidak enak. Sungguh, seminggu lebih ia harus menghadapi tikus gila yang mabuk cinta dengan purnama, menjadikannya korban yang mesti sudi mendengarkan ocehan omong kosong si tikus. Dan kini, lebih parah lagi, orang-orang bermata merahlah yang justru jatuh hati pada purnama dan mengusir si tikus dari kelas. Ya, karena itulah ia teramat membenci malam, berharap mentari agar lekas menyingkapnya yang dijubahi gelap.

Ia selalu menunggu tuannya datang kala siang beradu. Meski sesekali ia juga pernah mengutuki si tuan yang amat tega menelantarkannya. Bukankah dulu, tuannya amat girang ketika awal membelinya di toko kitab Inayah, bahkan setahunya si tuan nekad keluar pondok tanpa izin demi membelinya di Martapura. Lantas kini, ia tak lebih sekedar sampah yang tak berharga.

***

Kalian tau, tikus itu memang sangat gila. Tak pernah jera. Setiap malam keluar masuk kelas dua aliyah c, menyumpahi orang-orang bermata merah, meski mereka akan meyiksanya setelah itu, ia tak peduli. Tak pernah jera. Setiap siang pergi menemui si bel penekur waktu, melewati jalanan yang penuh santri dan siap pula menerkam nyawanya, ia tak peduli. Tak pernah jera. Setiap hari membuat kebisingan di kantor, berjingkrak-jingkrak di atas buku paket. Ust. Nor Mustofa dibikin garang dan selalu melibas-libaskan rotan ke tubuhnya, ia tak peduli. Kasihan tikus itu, mati-matian melakukan segalanya demi kelas yang kosong.

“Kau tikus gila yang tak pernah menyerah. Seharusnya kau sadar, meski bagaimanapun, kelas itu tetaplah kosong. Kosong.” suatu hari kalimat itu dilontarkan si kitab pada tikus.

***

Tak ada yang tahu ke mana perginya si tikus. Semua merindukannya. Bel pun bertanya-tanya di mana ia, juga si kitab, ia bingung mengapa hari itu si tikus tak kunjung muncul.

Beberapa saat kemudian, orang-orang bermata merahlah yang justru datang dengan tawa yang terbahak-bahak menuju kelas. Tertawa puas, seolah mengatakan tak ada lagi yang menyaingi mereka merayu purnama.

“Kasihan sekali tikus itu ya, terkapar di tengah jalan sana,” kata salah seorang mereka.

“Haha, tadi aku loh yang menghasut Paman Wawan sewaktu ia ngebut untuk menabrak si tikus gila itu,” kata seorang lagi yang berjalan paling belakang.

Sekarang, harapan itu pudar, kelas sudah sangat terbiasa kosong.

 

 

Rifki adalah santri di Ponpes Al Falah, siswa dan penulis. Aktif di Komunitas Pembatas Buku Jakarta dan Forum Pena Pesantren dan penikmat fiksi dan gemar memainkannya. Cerpen, dan puinya telah dimuat di berbagai surat kabar lokal dan nasional dan online serta sering memenangkan lomba menulis.

 

__________________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi (berdonasi) karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resensi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: [email protected] atau [email protected]

Terpopuler