Connect with us

Puisi

Kekasih, Rindu, Al Haram, Puisi Dimas AN

Published

on

nusantaranews, nusantara news, puisi indonesia, puisi penyair indonesia, puisi nusantara, puisi dhika dz, dhika dz, puisi senja, puisi hujan, puisi mendung, bayangan kekasih

Bayangmu di Sore Senja. (Foto: Ilustrasi/aldaoxo.wordpress.com)

Kekasih

Kekasih,
Cukup lama kiranya rindu ini tak terbayar
hingga aku harus berlayar
meninggalkan logika dan kenyataan

Kekasih,
Aku cemburu ketika orang lain menatapmu
melalui mataku
dan menggodamu dengan nakal

Kekasih,
Ingin kuulangi petualangan menjelang tengah malam
bersamamu seperti dulu.

2019

Rindu

Rindu ini bukan ampas
tapi ia lahir dan membekas

Rindu ini bukan ilusi
tapi rasa bahagia dan sakitnya yang pasti.

Rindu ini bukan tentang jarak
tapi rasa yang enggan jinak.

2019

Al Haram

Begitu rindu jasad ini untuk berjumpa
Menikmati hembusan padang pasir suci nan mulia
Terbang bersama burung besi membelah cakrawala dengan hati bangga

Al haram
Sungguh mulia orang yang kau panggil untuk mendekat
Melebur diri dengan suasana labbaikallah
Mengusir penggoda dengan lempar jumroh
Al haram
Semoga saja aku tak lancang merinduimu.

Tulislah kembali
segala amsal ataupun muasal
agar rindu ini kekal.

Ini tak ubahnya puisi
Yang abadi berkat secangkir kopi.

2019

Pesanku untukmu
; FM, IA, dan Denz Zee

Bersabarlah,
Malam memang teramat dingin menyayat hati
Terlebih bila tiba-tiba ada daun berguguran
Di tengah angin lunglai.

Tegarlah dengan penuh hati
Takdir terkadang sulit untuk dimengerti
Pabila yang tersayat belati adalah hati.

Bersimpuhlah dengan rendah hati
Di tengah sujud yang tak kunjung terkabul
Sebab hati selalu mengepul.

Istirahlah dalam mimpi
Bawalah anganmu yang ke sana ke mari
Menuju harapan yang lebih pasti.

Bila semua telah usai kau lakukan
Ingatlah aku yang berpesan.

2019

 

Bila

Bila aku mengukur syukur agar terukur
Apakah aku mendikte Mu?
Setelah setiap nafas yang tak terbatas

Baca Juga:  Hakikat Pancasila: Konsep dan Prinsip Yang Terkandung (Bag-8)

Bila aku mengkalkulasi bahagia dan terluka agar semua rata
Apakah aku termasuk yang pelupa?
Ataukah menganggap Engkau terlalu tega

Bila aku ingin mencuci mataku yang kotor
Bagaimanakah caranya?

2019

 

Mungkin Ini

Adalah kutukan semesta
Pabila asih tak lagi berkasih
Dialah yang mampu berdalih

Adalah amanah semesta
Pabila dalih berubah kasih
Dialah asih yang pengasih

2019

 

27

Pada cahaya yang menyimpan panas
Aku terbunuh dan lemas

Pada pahit yang bersembunyi dibalik pekat
Aku temukan obat pada jiwa sekarat

Ihwal ke 27
Di malam yang sahdu dan teduh

2019

K Muhammad Zammiel el-Muttaqin

Engkau tak sungguh pergi
Selama elegi ampas kopi
Masih kami baca setiap hari

Engkau tak sungguh mati
Bila bengkel puisi
Masih terus disinggahi

2019

Malam ini

Malam ini aku hanya berdua bersama kopi;
Kopi yang mengalami musim dinging
Dengan gigil melekat pada cangkir
Sebab bekas bibirmu tak lagi hadir.

2019

 

Kau

Kau bertamu ke dalam mimpiku
Membawa secangkir kopi berampaskan rindu
Yang kau seduh dengan air matamu
Lalu, kau ragu menyuguhkannya padaku
Lantaran tubuhku menggigil
Menatap senyummu yang ganjil.

2019

 

 

 

 

Riwayat penulis: Dimas AN, santri Annuqayah Lubangsa berproses di bilik sastra Annuqayah 14 (BISA). Dapat ditemui di [email protected]

Terpopuler